Cerita Keluarga yang Menunda Pesta Pernikahan Gara-gara Korona

Larangan berkerumun membuat sejumlah rencana pesta pernikahan di Pasuruan-Probolinggo dibatalkan. Padahal, segala persiapan pun sudah dilakukan. Tanggal penundaan pesta pun, juga belum ditentukan.

————————

Sebuah keluarga di Bangil juga harus membatalkan semua rencana akad nikah dan resepsi yang seharusnya dilaksanakan pada 27-28 Maret.

“Setelah Senin lalu ada edaran larangan kegiatan yang mengundang keramaian, langsung semua vendor kami WA. Dan saya menunda semua jadwal,” terang Agus Salim, warga Pagak, Kecamatan Beji.

Agus Salim menjadi salah satu panitia yang menyiapkan pernikahan kakaknya, Ida Fitriyah, warga Kiduldalem, Kecamatan Bangil. Undangan untuk akad nikah tanggal 27 Maret dan resepsi tanggal 28 Maret pun sudah disebar. Namun, semua gagal total.

Dirinya tak hanya mendatangi semua vendor untuk menunda semua pesanan. Semua undangan juga harus dihubungi lagi satu per satu untuk memberitahukan hal tersebut.

Kondisi ini, menurutnya, cukup berat. Sebab, semua persiapan sudah 100 persen dilakukan. Bahkan, semua vendor mulai katering, rias pengantin, dekorasi, dan sebagainya sudah lunas dibayar. Namun, lima hari sebelum pelaksaan, semua harus dibatalkan.

Meskipun ditunda, untungnya semua vendor mengerti situasi ini. “Semua vendor bilang tidak ada yang membatalkan. Mereka mau menjadwal ulang dan sangat mengerti situasi kami,” terangnya.

Maskur, warga di Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, juga harus menunda rencana resepsi pernikahan anak perempuannya tanggal 29 Maret. “Akad nikah sebelumnya sudah dilakukan. Hanya resepsi tanggal 29 Maret mendatang harus ditunda,” terangnya.

Untungnya, semua vendor yang sudah dibayar uang mukanya, mengerti situasinya. Sehingga, tidak ada vendor yang menganggap uang muka itu hangus. “Alhamdulliah mau mengerti. Sehingga, uang muka tidak hangus. Hanya menunggu ganti tanggal sampai situasi aman,” jelasnya.

Di Kabupaten Probolinggo, keluarga Giyanto, asal Pajarakan Kulon, Kecamatan Pajarakan, juga harus membatalkan rencana pernikaha anaknya. Pria yang akrab disapa Pak Gik ini berencana menggelar resepsi putri sulungnya pada 11 April.

Namun, rencana itu terpaksa ditunda. Pak Gik pun belum memutuskan kapan pernikahan anaknya itu akan dilakukan.

“Untuk akadnya tetap bisa berlangsung. Namun, acara resepsinya yang tidak bisa dilakukan. Akhirnya terpaksa membatalkan pesanan katering dan yang lain,” terangnya.

Pak Gik pun mengaku kecewa. Namun, di sisi lain, dirinya legowo dengan situasi yang terjadi. “Mau bagaimana lagi. Sedikit banyak kami kan juga persiapan. Untuk persiapannya tidak terlalu banyak karena masih tanggal 11 April. Tapi kami legowo,” bebernya. (eka/rpd/hn/mie)