alexametrics
26.3 C
Probolinggo
Wednesday, 25 May 2022

Pengacara Kades Jabung Ajukan Penangguhan Penahanan, Alasannya Kesehatan

PAJARAKAN, Radar Bromo – Kepala Desa Jabung Candi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Ahmad Haris berusaha agar tidak ditahan oleh penyidik Polres Probolinggo. Kamis (24/10), melalui penasihat hukumnya, Bambang W, tersangka mengajukan penangguhan penahanan.

“Kami sudah menyampaikan surat pengajuan penangguhan penahanan. Tinggal menunggu persetujuan,” ujar Bambang W.

Menurutnya, pengajuan penangguhan penahanan diajukan dengan beberapa pertimbangan. Salah satunya karena alasan kesehatan. Menurutnya, kliennya memiliki penyakit jantung.

“Bukan hanya penangguhan. Tetapi, juga pengalihan penahanan. Jadi bukan di sel, tapi nanti dialihkan menjadi tahanan kota. Dalam pengajuan juga telah kami selipkan surat kesehatannya,” jelasnya.

Diketahui, Haris ditahan setelah disangka menyalahgunakan jabatannya. Dia disebut-sebut meminta uang Rp 120 juta kepada perangkat desanya yang menjual tanahnya. Karenanya, korban Duralim melaporkan peristiwa itu ke Mapolres pada 27 Juni 2019.

Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Haris dua kali dipanggil penyidik untuk dimintai keterangan. Namun, yang bersangkutan tidak datang. Rabu (23/10), dia datang dengan status tersangka. Setelah menjalani pemeriksaan, Haris ditahan.

Mengenai kasus yang menjerat kliennya, Bambang berbeda pandangan dengan penyidik. Jika penyidik mengatakan kliennya meminta sejumlah uang untuk pengurusan jual-beli tanah, ia membantah. Menurutnya, uang yang diminta kliennya merupakan haknya Rp 100 juta. “Itu memang haknya. Itu bukan dia yang minta. Tetapi, Duralim sendiri yang menjanjikan,” ujarnya.

Bambang menjelaskan, semula ada seseorang yang meminta tolong kliennya untuk menjualkan tanah. Orang itu memberi harga sekitar Rp 750 juta. Jika dengan nilai tersebut, kliennya berhak mendapatkan Rp 50 juta. “Yang membeli itu Duralim. Duralim membayar orang yang jual Rp 700 juta. Jatah Pak Tinggi (Haris) ada di Duralim,” ujarnya.

Menurutnya, saat itu kliennya sempat menanyakan jatahnya. Namun, pelapor menjawab fee-nya untuk modal. Jika tanah itu laku, kliennya akan diberi Rp 50 juta, sehingga jatahnya menjadi Rp 100 juta.

“Itu dikatakan pelapor saat akan melakukan penjualan tanah dan menyodorkan tanda tangan AJB. Kemudian, klien saya diberi uang Rp 60 juta dan itu yang menjadi perkara,” jelasnya.

Bambang mengaku, akan berupaya membela kliennya. Kini, pihaknya masih mengumpulkan sejumlah bukti. Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Probolinggo AKP Riski Santoso kemarin belum berhasil dikonfirmasi. Ketika dihubungi melalui sambungan telepon dan pesan singkat, belum berespons. (sid/rud/fun)

PAJARAKAN, Radar Bromo – Kepala Desa Jabung Candi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Ahmad Haris berusaha agar tidak ditahan oleh penyidik Polres Probolinggo. Kamis (24/10), melalui penasihat hukumnya, Bambang W, tersangka mengajukan penangguhan penahanan.

“Kami sudah menyampaikan surat pengajuan penangguhan penahanan. Tinggal menunggu persetujuan,” ujar Bambang W.

Menurutnya, pengajuan penangguhan penahanan diajukan dengan beberapa pertimbangan. Salah satunya karena alasan kesehatan. Menurutnya, kliennya memiliki penyakit jantung.

“Bukan hanya penangguhan. Tetapi, juga pengalihan penahanan. Jadi bukan di sel, tapi nanti dialihkan menjadi tahanan kota. Dalam pengajuan juga telah kami selipkan surat kesehatannya,” jelasnya.

Diketahui, Haris ditahan setelah disangka menyalahgunakan jabatannya. Dia disebut-sebut meminta uang Rp 120 juta kepada perangkat desanya yang menjual tanahnya. Karenanya, korban Duralim melaporkan peristiwa itu ke Mapolres pada 27 Juni 2019.

Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Haris dua kali dipanggil penyidik untuk dimintai keterangan. Namun, yang bersangkutan tidak datang. Rabu (23/10), dia datang dengan status tersangka. Setelah menjalani pemeriksaan, Haris ditahan.

Mengenai kasus yang menjerat kliennya, Bambang berbeda pandangan dengan penyidik. Jika penyidik mengatakan kliennya meminta sejumlah uang untuk pengurusan jual-beli tanah, ia membantah. Menurutnya, uang yang diminta kliennya merupakan haknya Rp 100 juta. “Itu memang haknya. Itu bukan dia yang minta. Tetapi, Duralim sendiri yang menjanjikan,” ujarnya.

Bambang menjelaskan, semula ada seseorang yang meminta tolong kliennya untuk menjualkan tanah. Orang itu memberi harga sekitar Rp 750 juta. Jika dengan nilai tersebut, kliennya berhak mendapatkan Rp 50 juta. “Yang membeli itu Duralim. Duralim membayar orang yang jual Rp 700 juta. Jatah Pak Tinggi (Haris) ada di Duralim,” ujarnya.

Menurutnya, saat itu kliennya sempat menanyakan jatahnya. Namun, pelapor menjawab fee-nya untuk modal. Jika tanah itu laku, kliennya akan diberi Rp 50 juta, sehingga jatahnya menjadi Rp 100 juta.

“Itu dikatakan pelapor saat akan melakukan penjualan tanah dan menyodorkan tanda tangan AJB. Kemudian, klien saya diberi uang Rp 60 juta dan itu yang menjadi perkara,” jelasnya.

Bambang mengaku, akan berupaya membela kliennya. Kini, pihaknya masih mengumpulkan sejumlah bukti. Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Probolinggo AKP Riski Santoso kemarin belum berhasil dikonfirmasi. Ketika dihubungi melalui sambungan telepon dan pesan singkat, belum berespons. (sid/rud/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/