alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Wednesday, 25 May 2022

Bakal Ada SD Dimerger, Guru Galau lantaran Takut Kekurangan Jam Mengajar

KRAKSAANRencana merger sejumlah lembaga sekolah dasar (SD) negeri yang minim siswa membuat guru galau. Pasalnya, merger menjadikan dua lembaga SD menjadi satu lembaga, akan berdampak pada rombongan belajar (romhel) atau jam mengajar.

Tidak menutup kemungkinan, pengabungan dua lembaga SDN itu, berdampak kelebihan guru. Akibatnya, para guru akan kekurangan jam mengajar atau pindah tugas ke lembaga sekolah lain sesuai kebijakan Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo. Karena tidak mungkin, banyak guru menumpuk di satu lembaga sekolah.

Salah satu guru SDN yang diajukan merger mengatakan, dirinya selama in terus berusaha untuk kembangkan sekolah. Bahkan, dengan jumlah siswa minim, dengan sabar tetap dijalani mendidik mereka. Kalaupun ada kebijakan merger menjadi solusi, guru siap mendukungnya. Dengan harapan, para guru sekolah yang minim siswa itu tetap dapat rombel kelas mengajar.

“Kalau dimerger, kemungkinan besar akan kelebihan guru. Akhirnya harus ada yang dipindahtugaskan. Saya berharap, ada solusi terbaik,” kata tenaga pendidik yang mewanti wanti tidak menyebutkan namanya.

Sementara itu, Kepala dispendik Kabupaten Probolinggo, Dewi Korina saat dikonfirmasi mengatakan, persoalan guru di lembaga sekolah yang akan dimerger tetap diperhatikan. Ketika dimerger, tentunya bisa menjadi solusi saat minim siswa dan kekurangan guru. Karena itu, dalam proses merger itu akan diidentifikasi, sarpras, kumlah siswa, jarak antar kedua lembaga dan jumlah guru. Supaya, bisa dilalukan kebijakan soal jumlah rombel kelas dan lainnya.

“Yang pasti, merger jadi solusi akan kekurangan kepala sekolah. Awalnya kepala sekolah rangkap dua lembaga, akhirnya jabat satu sekolah,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo, Rabu (24/7).

Selain itu dikatakan Dewi, kondisi saat ini di Kabupaten Probolinggo kekurangan sekitar 500 tenaga pendidik. Sehingga, tidak bakal ada cerita dampak merger tenaga pendidik akan diberhentikan. “Tahapan masih panjang dan semua masih dalam kajian,” ujarnya. (mas/fun)

KRAKSAANRencana merger sejumlah lembaga sekolah dasar (SD) negeri yang minim siswa membuat guru galau. Pasalnya, merger menjadikan dua lembaga SD menjadi satu lembaga, akan berdampak pada rombongan belajar (romhel) atau jam mengajar.

Tidak menutup kemungkinan, pengabungan dua lembaga SDN itu, berdampak kelebihan guru. Akibatnya, para guru akan kekurangan jam mengajar atau pindah tugas ke lembaga sekolah lain sesuai kebijakan Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo. Karena tidak mungkin, banyak guru menumpuk di satu lembaga sekolah.

Salah satu guru SDN yang diajukan merger mengatakan, dirinya selama in terus berusaha untuk kembangkan sekolah. Bahkan, dengan jumlah siswa minim, dengan sabar tetap dijalani mendidik mereka. Kalaupun ada kebijakan merger menjadi solusi, guru siap mendukungnya. Dengan harapan, para guru sekolah yang minim siswa itu tetap dapat rombel kelas mengajar.

“Kalau dimerger, kemungkinan besar akan kelebihan guru. Akhirnya harus ada yang dipindahtugaskan. Saya berharap, ada solusi terbaik,” kata tenaga pendidik yang mewanti wanti tidak menyebutkan namanya.

Sementara itu, Kepala dispendik Kabupaten Probolinggo, Dewi Korina saat dikonfirmasi mengatakan, persoalan guru di lembaga sekolah yang akan dimerger tetap diperhatikan. Ketika dimerger, tentunya bisa menjadi solusi saat minim siswa dan kekurangan guru. Karena itu, dalam proses merger itu akan diidentifikasi, sarpras, kumlah siswa, jarak antar kedua lembaga dan jumlah guru. Supaya, bisa dilalukan kebijakan soal jumlah rombel kelas dan lainnya.

“Yang pasti, merger jadi solusi akan kekurangan kepala sekolah. Awalnya kepala sekolah rangkap dua lembaga, akhirnya jabat satu sekolah,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo, Rabu (24/7).

Selain itu dikatakan Dewi, kondisi saat ini di Kabupaten Probolinggo kekurangan sekitar 500 tenaga pendidik. Sehingga, tidak bakal ada cerita dampak merger tenaga pendidik akan diberhentikan. “Tahapan masih panjang dan semua masih dalam kajian,” ujarnya. (mas/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/