alexametrics
24.9 C
Probolinggo
Wednesday, 17 August 2022

DBD di Kota Probolinggo sudah Renggut Balita, Hingga April Tercatat ada 40 Penderita

PROBOLINGGO, Radar Bromo – Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merenggut nyawa di Kota Probolinggo. Hingga 24 April, satu balita meninggal karena menderita DBD.

Total ada 40 kasus atau penderita DBD di kota hingga April tahun ini. Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah tersebut cukup tinggi.

Pada periode yang sama di tahun 2019, penderita DBD kurang dari 10. Sehingga, tidak menutup kemungkinan tahun ini jumlah penderita DBD lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Probolinggo Eko Sudiwiharti menyebut, mulai tahun 2013 sampai 2019, ada 1.266 penderita DBD dengan 24 kematian. Sementara di tahun 2020, dari 40 penderita yang ada, satu meninggal.

Sebanyak 40 penderita itu tersebar di semua kecamatan di kota. Delapan kasus di Kademangan, 14 kasus di Mayangan, 4 kasus di Kedopok, 6 kasus di Wonoasih, dan 8 kasus di Kecamatan Kanigaran.

“Penderita balita yang meninggal, adalah warga Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran,” terangnya.

Lokasi balita tersebut, juga di-fogging. Mengingat, sudah memenuhi syarat untuk fogging.

“Jadi, balita ini meninggal di IGD, belum rawat inap. Kondisinya panas dan kejang-kejang,” tambahnya.

Perempuan yang akrab disapa Bu Eko itu menjelaskan, DBD hingga menimbulkan dengue shock syndrome dapat dicegah dengan pemberian vaksin dengue. Vaksin ini diberikan pada anak usia 9-16 tahun sebanyak 3 kali dengan jarak 6 bulan.

Pemberian vaksin tidak disarankan pada anak di bawah usia 9 tahun. Sebab, bisa meningkatkan risiko dengue berat, terutama pada kelompok usia 2-5 tahun.

“Vaksin dengue mengandung 4 serotipe virus. Karena itu, vaksin tetap diberikan pada anak yang sudah pernah terinfeksi. Hal ini untuk membentuk kekebalan tubuh anak terhadap tipe virus dengue berbeda,” bebernya.

Selain dengan vaksin, demam dengue dapat dicegah melalui kegiatan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk). PSN dilakukan dalam dua kali pengasapan insektisida atau fogging. Hal itu dilakukan untuk membunuh jentik nyamuk.

“Metode PSN lain adalah dengan rutin menjalankan 3M-Plus, terutama pada musim hujan. Yaitu, menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air. Dan mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti sebagai pembawa DBD,” tandasnya.

Sementara langkah plus untuk membantu pencegahan yaitu, mengatur cahaya yang cukup di dalam rumah. Lalu, memasang kawat anti nyamuk di ventilasi rumah, menaburkan bubuk larvasida (abate) pada penampungan air yang sulit dikuras. Juga menggunakan kelambu saat tidur, menanam tumbuhan pengusir nyamuk, dan menghentikan kebiasaan menggantung pakaian.

“Gigitan nyamuk dapat menembus pakaian yang ketat. Karena itu, disarankan agar mengenakan pakaian longgar. Sebagai perlindungan tambahan, gunakan lotion antinyamuk, terutama yang mengandung DEET. Tapi, jangan gunakan DEET pada bayi di bawah usia 2 tahun,” pungkasnya. (rpd/hn/fun)

PROBOLINGGO, Radar Bromo – Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merenggut nyawa di Kota Probolinggo. Hingga 24 April, satu balita meninggal karena menderita DBD.

Total ada 40 kasus atau penderita DBD di kota hingga April tahun ini. Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah tersebut cukup tinggi.

Pada periode yang sama di tahun 2019, penderita DBD kurang dari 10. Sehingga, tidak menutup kemungkinan tahun ini jumlah penderita DBD lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Probolinggo Eko Sudiwiharti menyebut, mulai tahun 2013 sampai 2019, ada 1.266 penderita DBD dengan 24 kematian. Sementara di tahun 2020, dari 40 penderita yang ada, satu meninggal.

Sebanyak 40 penderita itu tersebar di semua kecamatan di kota. Delapan kasus di Kademangan, 14 kasus di Mayangan, 4 kasus di Kedopok, 6 kasus di Wonoasih, dan 8 kasus di Kecamatan Kanigaran.

“Penderita balita yang meninggal, adalah warga Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran,” terangnya.

Lokasi balita tersebut, juga di-fogging. Mengingat, sudah memenuhi syarat untuk fogging.

“Jadi, balita ini meninggal di IGD, belum rawat inap. Kondisinya panas dan kejang-kejang,” tambahnya.

Perempuan yang akrab disapa Bu Eko itu menjelaskan, DBD hingga menimbulkan dengue shock syndrome dapat dicegah dengan pemberian vaksin dengue. Vaksin ini diberikan pada anak usia 9-16 tahun sebanyak 3 kali dengan jarak 6 bulan.

Pemberian vaksin tidak disarankan pada anak di bawah usia 9 tahun. Sebab, bisa meningkatkan risiko dengue berat, terutama pada kelompok usia 2-5 tahun.

“Vaksin dengue mengandung 4 serotipe virus. Karena itu, vaksin tetap diberikan pada anak yang sudah pernah terinfeksi. Hal ini untuk membentuk kekebalan tubuh anak terhadap tipe virus dengue berbeda,” bebernya.

Selain dengan vaksin, demam dengue dapat dicegah melalui kegiatan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk). PSN dilakukan dalam dua kali pengasapan insektisida atau fogging. Hal itu dilakukan untuk membunuh jentik nyamuk.

“Metode PSN lain adalah dengan rutin menjalankan 3M-Plus, terutama pada musim hujan. Yaitu, menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air. Dan mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti sebagai pembawa DBD,” tandasnya.

Sementara langkah plus untuk membantu pencegahan yaitu, mengatur cahaya yang cukup di dalam rumah. Lalu, memasang kawat anti nyamuk di ventilasi rumah, menaburkan bubuk larvasida (abate) pada penampungan air yang sulit dikuras. Juga menggunakan kelambu saat tidur, menanam tumbuhan pengusir nyamuk, dan menghentikan kebiasaan menggantung pakaian.

“Gigitan nyamuk dapat menembus pakaian yang ketat. Karena itu, disarankan agar mengenakan pakaian longgar. Sebagai perlindungan tambahan, gunakan lotion antinyamuk, terutama yang mengandung DEET. Tapi, jangan gunakan DEET pada bayi di bawah usia 2 tahun,” pungkasnya. (rpd/hn/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/