alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Thursday, 11 August 2022

Kesenjangan Jadi Pemicu Utama Kemiskinan di Kab Probolinggo

DRINGU, Radar Bromo – Sesuai penetapan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Probolinggo masih dapat predikat termiskin keempat se-Jawa Timur. Kondisi itu terjadi karena tingginya kesenjangan antarwilayah di Kabupaten Probolinggo. Begitu juga dengan konsumsi rokok.

Hal itu diungkapkan Kepala BPS Kabupaten Probolinggo Bagus Sunggono. Ia membenarkan jika Kabupaten Probolinggo masih berkutat di urutan keempat kemiskinan kabupaten/kota se-Jawa Timur.

“Sesuai yang telah ditetapkan memang Kabupaten Probolinggo masih tetap urutan keempat se-Jatim untuk kemiskinan,” katanya.

Salah satu faktor besarnya, kata Bagus, adanya kesenjangan antarwilayah di Kabupaten Probolinggo. Bukan kesenjangan pertumbuhan ekonominya, melainkan tingkat konsumsinya jauh berbeda. Sehingga, menjadikan jarak atau kesenjangan cukup tinggi. Seperti, wilayah Paiton dan Kraksaan, tingkat konsumsinya cukup tinggi. Berbeda dengan wilayah Tiris, Krucil, ataupun Krejengan.

“Kesenjangan memang terjadi. Paling tinggi itu wilayah Paiton dan Kraksaan. Sedangkan, Tiris dan Krejengan masih di bawah,” ujarnya.

Bagus menjelaskan, urutan kemiskinan kabupaten/kota itu mengacu pada nilai pengeluaran makanan dan nonmakanan. Di Kabupaten Probolinggo, pengeluaran untuk makanan terlalu tinggi. Ia mencontohkan, beras sebagai kebutuhan. Konsumsi beras di Kabupaten Probolinggo dinilai terlalu tinggi untuk ukuran normal.

“Jika konsumsi beras digantikan gandum (jagung) yang lebih murah, ternyata tidak menggantikan. Karena jagung itu di masyarakat hanya penambahan. Beras 3 kilogram ditambah jagung 1 kilogram, malah makin tinggi konsumsi berasnya,” ujarnya.

Selain itu, kata Bagus, tingkat konsumsi rokok di Kabupaten Probolinggo juga termasuk dominan. Meski orang miskin, konsumsinya terhadap rokok cukup dominan. Ia mengaku, sudah menyampaikan masalah ini kepada Pemkab untuk mengimbau warga agar mengurangi konsumsi rokok. Supaya tidak mempengaruhi nilai pengeluaran konsumsi secara umum. “Tingkat konsumsi beras dan rokok di Kabupaten Probolinggo di atas rata-rata Jawa Timur,” ujarnya.

Diketahui sebelumnya, BPS Provinsi Jawa Timur menetapkan hasil statistik data kemiskinan kabupaten/Kota se-Jawa Timur. Dari hasil data akhir 2019, Kabupaten Probolinggo masih masuk daerah termiskin keempat se-Jawa Timur. Urutan predikat ini sama dengan hasil statistis tahun sebelumnya. (mas/rud/fun)

DRINGU, Radar Bromo – Sesuai penetapan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Probolinggo masih dapat predikat termiskin keempat se-Jawa Timur. Kondisi itu terjadi karena tingginya kesenjangan antarwilayah di Kabupaten Probolinggo. Begitu juga dengan konsumsi rokok.

Hal itu diungkapkan Kepala BPS Kabupaten Probolinggo Bagus Sunggono. Ia membenarkan jika Kabupaten Probolinggo masih berkutat di urutan keempat kemiskinan kabupaten/kota se-Jawa Timur.

“Sesuai yang telah ditetapkan memang Kabupaten Probolinggo masih tetap urutan keempat se-Jatim untuk kemiskinan,” katanya.

Salah satu faktor besarnya, kata Bagus, adanya kesenjangan antarwilayah di Kabupaten Probolinggo. Bukan kesenjangan pertumbuhan ekonominya, melainkan tingkat konsumsinya jauh berbeda. Sehingga, menjadikan jarak atau kesenjangan cukup tinggi. Seperti, wilayah Paiton dan Kraksaan, tingkat konsumsinya cukup tinggi. Berbeda dengan wilayah Tiris, Krucil, ataupun Krejengan.

“Kesenjangan memang terjadi. Paling tinggi itu wilayah Paiton dan Kraksaan. Sedangkan, Tiris dan Krejengan masih di bawah,” ujarnya.

Bagus menjelaskan, urutan kemiskinan kabupaten/kota itu mengacu pada nilai pengeluaran makanan dan nonmakanan. Di Kabupaten Probolinggo, pengeluaran untuk makanan terlalu tinggi. Ia mencontohkan, beras sebagai kebutuhan. Konsumsi beras di Kabupaten Probolinggo dinilai terlalu tinggi untuk ukuran normal.

“Jika konsumsi beras digantikan gandum (jagung) yang lebih murah, ternyata tidak menggantikan. Karena jagung itu di masyarakat hanya penambahan. Beras 3 kilogram ditambah jagung 1 kilogram, malah makin tinggi konsumsi berasnya,” ujarnya.

Selain itu, kata Bagus, tingkat konsumsi rokok di Kabupaten Probolinggo juga termasuk dominan. Meski orang miskin, konsumsinya terhadap rokok cukup dominan. Ia mengaku, sudah menyampaikan masalah ini kepada Pemkab untuk mengimbau warga agar mengurangi konsumsi rokok. Supaya tidak mempengaruhi nilai pengeluaran konsumsi secara umum. “Tingkat konsumsi beras dan rokok di Kabupaten Probolinggo di atas rata-rata Jawa Timur,” ujarnya.

Diketahui sebelumnya, BPS Provinsi Jawa Timur menetapkan hasil statistik data kemiskinan kabupaten/Kota se-Jawa Timur. Dari hasil data akhir 2019, Kabupaten Probolinggo masih masuk daerah termiskin keempat se-Jawa Timur. Urutan predikat ini sama dengan hasil statistis tahun sebelumnya. (mas/rud/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/