alexametrics
28C
Probolinggo
Sunday, 17 January 2021

Trailer Tidak Laik karena Rem Kurang Optimal, Tim TAA Cek Pergerakan Kendaraan

PURWOSARI, Radar Bromo – Tim teknis Dishub Provinsi Jatim turun ke lokasi kecelakaan di Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, yang menyebabkan tujuh korban meninggal. Tim turun untuk mengecek kondisi fisik trailer yang menjadi pemicu kecelakaan. Hasilnya, dipastikan rem trailer kurang optimal.

Tidak hanya itu, truk trailer Nopol S 9066 UU yang dikemudikan Slamet Zuhri itu, dipastikan tidak laik mengangkut alat berat ekskavator. Namun, saat kecelakaan terjadi, trailer sedang mengangkut ekskavator.

Tim teknis dari Dishub Jatim ini berjumlah enam orang. Mereka didampingi seorang perwira dari Satlantas Polda Jatim. Pengecekan fisik trailer ini berlangsung sekitar satu jam.

Ada sejumlah item pada trailer yang dicek oleh tim. Mulai tabung angin rem, tabung minyak rem, dan isinya. Lalu, rem belakang di sumbu dua dan tiga, juga memeriksa nomor rangka, serta mesin kendaraan.

“Buku kirnya ada. Kendaraan trailer ini adalah Mitsubhisi FM 517 F keluaran tahun 1993. Jenis truk bak lantai, dengan sistem pengereman kombinasi minyak dan rem,” beber Kasi Dalops Dishub Provinsi Jatim sekaligus Ketua Tim M. Chisjqhiel.

Dari hasil pemeriksaan fisik trailer disampaikan Chisjqhiel, ada beberapa kesimpulan yang didapat. Antara lain, kondisi ban tidak laik. Tepatnya di sumbu dua sisi kanan dan kiri. Trailer memakain ban bekas. Bahkan, vulkanisirnya di beberapa bagian mengelupas.

Lalu, selang rem didapati putus. Yaitu, selang sebelah kiri dan kanan depan. Diduga kuat, putusnya selang rem akibat benturan.

Lalu, kampas rem pada sumbu tiga di ban sebelah kanan dan kiri kondisinya aus, sedangkan kampas rem di sumbu dua baik, dan kampas rem di sumbu satu tidak bisa dibuka.

“Minyak remnya masih ada, tapi tabung anginnya sudah kosong atau habis. Digabung dengan pengecekan di sejumlah item, kami memastikan kondisi kendaraan tidak laik mengangkut alat berat. Selain itu, remnya bekerja kurang maksimal,” jelasnya.

Tim juga memeriksa surat-surat dan buku kir kendaraan. Dari sana diketahui, trailer tersebut tidak memiliki izin untuk mengangkut alat berat. Selain itu, diduga trailer jarang dipakai.

Berdasarkan pengecekan fisik pada trailer, tim juga menghasilkan analisis penyebab kecelakaan di luar sisi teknis. Hasilnya, menurut Chisjqhiel, sopir trailer diduga telat saat memindah gigi persneling di jalanan menurun.

“Mestinya sopir memindah persneling sebelum turunan flyover Lawang. Namun, diduga sopir memindah persneling setelah flayover. Ini juga kadangkala menjadi faktor penyebab dan kurang diperhatikan sopir truk tonase berat,” ungkapnya.

TURUN LOKASI: Dirlantas Polda Jatim Kombespol Budi Indra Dermawan (tengah) didampingi Kapolres Pasuruan AKBP Rofiq Ripto Himawan (rompi hijau), saat berada di lokasi TKP laka maut Purwodadi. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Selanjutnya, semua hasil pengamatan fisik pada trailer, akan dianalisis sekaligus dievaluasi. Hasilnya akan disampaikan ke pihak Unit Laka Satlantas Polres Pasuruan dan Polda Jatim.

Sementara itu, olah TKP kembali dilakukan tim Traffic Accident Analysis (TAA) Ditlantas Polda Jatim di lokasi kecelakaan yang menewaskan tujuh korban. Senin (23/12), tim TAA mengambil gambar di lokasi kecelakaan dengan alat scanner tiga dimensi (3D) dan video drone.

Kegiatan ini, menurut Kasi Laka Ditlantas Polda Jatim Kompol Herry, merupakan kelanjutan dari olah TKP yang dilakukan Minggu (22/12) atau beberapa saat setelah kecelakaan terjadi. Olah TKP lanjutan itu dilakukan sekitar 45 menit, mulai pukul 09.30. Seperti sebelumnya, tim TAA didampingi Unit Laka Satlantas Polres Pasuruan.

Selama olah TKP, lokasi kecelakaan di jalan nasional jurusan Malang-Surabaya, Desa Sentul, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, disterilkan selama 20 menit. Bahkan, ruas jalan arah Surabaya – Malang, juga disterilkan. Semua kendaraan dihentikan, termasuk pejalan kaki.

Olah TKP didahului dengan pengambilan gambar menggunakan scanner 3D. Sedikitnya, ada 12 titik yang diambil gambarnya memakai alat scanner 3D. Lalu dilanjutkan dengan video drone. Tim TAA lantas ganti melakukan scanner di masing-masing kendaraan yang terlibat kecelakaan.

“Kalau hari Minggu (22/12) kami datangi TKP untuk membuat sekat. Tujuannya, menentukan titik-titik pergerakan kendaraan. Sebelum, sesaat, dan setelah kecelakaan terjadi. Sekarang giliran mengambil gambar dengan alat scanner 3D. Tujuannya, untuk mengambil foto geometrik dan gambarnya. Setelah itu baru video drone,” lanjut Herry.

Proses lanjutan ini, menurutnya penting dan harus dilakukan. Sebab, dari sini nanti akan dibuat animasi pergerakan kendaraan. “Baru kemudian dievaluasi untuk mengetahui pasti penyebab dan pergerakan kendaraan saat kecelakaan berlangsung,” ungkapnya. (zal/hn/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU