alexametrics
24C
Probolinggo
Saturday, 23 January 2021

Ratusan Nyawa Meregang Nyawa di Jalan Pasuruan-Probolinggo Tahun Ini

PURWOSARI, Radar Bromo – Kecelakaan lalu lintas di Pasuruan dan Probolinggo sepanjang tahun 2019 meningkat dibanding tahun lalu. Di wilayah hukum Polres Pasuruan Kota, tercatat 347 kejadian kecelakaan lalu lintas. Ratusan kejadian itu merupakan jumlah total selama sebelas bulan terakhir.

Kanitlaka Satlantas Polres Pasuruan Kota Iptu Ahmad Jayadi menyebutkan, data itu yang tercatat sepanjang 2019. Mulai dari Januari hingga November.

“Selama sebelas bulan ini ada 347 kejadian laka lantas di wilayah hukum Polres Pasuruan Kota,” sebutnya.

Dari seluruh kejadian itu, sedikitnya ada 108 nyawa melayang akibat insiden di jalan raya tersebut. Sedangkan, jumlah korban mengalami luka berat sebanyak 30 orang. Serta, korban luka ringan 568 orang. Akibat kecelakaan lalu lintas itu, kerugian materiil yang terhitung mencapai Rp 507.200.000.

Jika dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah kecelakaan di tahun 2019 itu meningkat. Pada tahun 2018, total jumlah kecelakaan mencapai 104 kejadian. Dari jumlah itu, korban meninggal dunia 30 orang, sebanyak 41 orang luka berat, dan 385 orang luka ringan.

Saat ini, menurutnya, pihaknya juga mencatat titik rawan kecelakaan atau jalur black spot masih sama. “Yaitu di jalur pantai utara, tepatnya di Jalan Raya Rejoso, Kabupaten Pasuruan,” tambah Jayadi.

Jalur black spot, lanjut Jayadi, merupakan kawasan dimana kecelakaan lalu lintas terkonsentrasi secara historis. Di samping itu, penentuan jalur black spot itu juga didasari intensitas kejadian kecelakaan lalu lintas.

Lebih lanjut, Jayadi menerangkan, ada 8 kejadian kecelakaan lalu lintas di jalur black spot tersebut. Kejadian itu tercatat dalam rentang Januari hingga Mei. Rinciannya, dengan jumlah 4 korban meninggal dan 9 korban luka ringan. Sedangkan kerugian material mencapai Rp 9,8 juta.

Kondisi serupa terjadi di Kota Probolinggo. Selama tahun 2019 sampai Senin (23/12), telah terjadi 362 kecelakaan. Dari jumlah itu, 76 orang di antaranya meninggal dunia. Korban kecelakaan mayoritas pengemudi roda dua.

Kanit Laka Lantas Polres Probolinggo Kota Bripka Agus Efendi mengatakan, pada tahun ini angka kecelakaan di Kota Probolinggo naik dibanding tahun lalu.

Pada tahun 2018, angka kecelakaan mencapai 356 kasus. Sedangkan di tahun ini sampai dengan Senin (23/12) telah terjadi 362 kasus.

“Jika dilihat trennya memang mengalami kenaikan. Sebab, memang jumlah pemilik kendaraan semakin banyak. Bisa jadi jumlah itu akan bertambah karena saat ini belum tutup tahun,” ujarnya.

Di Kota Probolinggo sendiri, menurutnya, terdapat jalur yang rawan kecelakaan. Yakni, di sepanjang Jalan Raya Pesisir Tongas. Di ruas ini, telah terjadi 12 kecelakaan. Dengan korban tiga orang meninggal dunia dan sembilan orang mengalami luka ringan.

“Jalur pesisir Tongas masih menjadi black spot karena sering terjadi kecelakaan,” tuturnya.

Menurutnya, ruas jalan raya pesisir Tongas rawan kecelakaan karena jalan tersebut memiliki jalur lurus. Sehingga, banyak pengemudi yang memacu kendaraan dengan kencang. Tak hanya itu, kurangnya penerangan jalan umum juga sedikit mengganggu jarak pandang pengendara.

“Kelalaian pengendara masih menjadi faktor utama terjadinya kecelakaan. Karena jalannya yang lurus, pengendara memacu kendaraan dengan kencang tanpa memperhatikan kondisi lalu lintas yang ada di sekitarnya,” pungkasnya.

Di wilayah hukum Polres Probolinggo, kecelakaan tahun ini mulai Januari hingga 18 Desember mencapai 648 kejadian. Dari kejadian itu, yang meninggal mencapai 116 korban jiwa.

Lalu, korban luka ringan mencapai 750 orang. Sedangkan korban luka berat tidak ada. Untuk kerugian materiil mencapai Rp 322.900.000.

Ipda Nyoman Harayasa, kanit Laka Polres Probolinggo mengatakan, setiap tahunnya ada empat faktor penyebab kecelakaan. Yaitu, manusia, kendaraan, jalan, dan alam. Namun, tahun ini yang paling banyak penyebab kecelakaannya yaitu faktor manusia.

“Yang terjadi demikian. Jadi, paling banyak itu merupakan faktor manusianya sendiri,” ungkapnya.

Nyoman -sapaan akrabnya- menjelaskan, korban kecelakaan dilihat dari status paling banyak yaitu pekerja swasta yang berjumlah 486 orang. lalu, pelajar berada di posisi kedua sekitar 108 orang. Yang ketiga mahasiswa dengan jumlah 48 orang.

Sedangkan untuk pelaku, paling banyak yaitu pekerja swasta dengan jumlah 372. Posisi kedua pelajar dengan jumlah 63 orang. Dan ketiga sama yaitu mahasiswa dengan jumlah 34.

Ditegaskan Nyoman, pihaknya selalu mengimbau para pengendara. Baik roda dua dan roda empat. Menurutnya, sebelum mengendarai kendaraan diharapkan mereka selalu siap. Baik dari fisik pengemudinya dan juga kendaraannya.

“Kami imbau agar selalu siap. Kendaraan siap dan juga setelah dijalan patuhi aturan,” katanya.

Berkendara haruslah memiliki fisik yang prima dan sehat. Pengemudi tidak boleh mengantuk atau terpengaruh obat-obatan dan minum beralkohol. Sebab, jika itu dilanggar peluang kecelakaan semakin besar.

“Selain itu, juga disiapkan masalah surat kendaraan, identitas diri dan kendaraan. Untuk roda dua harus safetyhelmet,” terangnya. (tom/ar/sid/hn/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU