alexametrics
25.7 C
Probolinggo
Saturday, 5 December 2020

Motret Proyek Pasar Gondangwetan, Fotografer Dikatai Maling

PASURUAN, Radar Bromo – Dugaan kekerasan pada jurnalis kembali terjadi. Saat sedang liputan, fotografer Jawa Pos Radar Bromo, M. Zubaidillah diperlakukan tidak menyenangkan secara fisik. Bahkan, juga mendapat perkataan tidak enak.

Hal itu terjadi saat Kang Ube panggilannya, sedang memotret revitalisasi Pasar Gondangwetan di Kecamatan Gondangwetan, Kamis (22/10). Saat itu, fotografer yang banyak memenangi lomba foto tersebut hendak memotret kondisi Pasar Gondangwetan.

Ube menjelaskan, hari itu dirinya baru pulang liputan wisata dari Bromo Forest. Dari Bromo Forest, dia melanjutkan liputan ke Pasar Gondangwetan.

Pasar itu sendiri sedang direvitalisasi saat ini. Karena itu, area proyek biasanya ditutup dengan seng. Namun, hari itu pintu seng sedang dibuka. Kondisi di dalam area proyek pun terlihat jelas dari luar. Ube pun memanfaatkan momen itu dengan memotret kondisi di dalamnya.

“Saya memotret untuk berita tentang progres revitalisasi pasar Gondangwetan,” katanya.

Saat itu, Ube memotret pasar dari jalan yang ada di depan pasar. Posisinya masih di area pasar. Pemotretan itu dilakukan menggunakan lensa jarak jauh, dari luar area proyek.

Saat beberapa kali jepretan, tiba-tiba ia didatangi orang yang mengaku mandor proyek. Mandor tersebut datang sambil marah-marah padanya. “Siapa yang nyuruh kamu foto-foto,” urai Kang Ube menirukan perkataan mandor tersebut.

Ube pun memberi penjelasan bahwa dirinya seorang jurnalis. Pengambilan gambar itu dilakukan untuk kebutuhan pemberitaan. Ia juga menjelaskan, dirinya tidak masuk ke area proyek.

“Saya waktu itu memang tidak masuk area proyek. Saya mengambil gambar dengan lensa jarak jauh dari luar,” tuturnya.

Tapi, lelaki berpawakan besar itu tak mau peduli dengan penjelasan Ube. Bahkan, ia mengatai Ube maling. Lantaran mengambil gambar tanpa izin dirinya. Bukan hanya berkata kasar, lelaki tersebut juga mendorong-dorong dada Ube dengan tangannya.

“Kamu tidak izin, kamu itu sama saja dengan maling. Moto-moto nggak pakai izin. Saya nggak takut dengan orang model kayak kamu. Sepuluh atau 20 orang kayak kamu pun saya nggak takut,” tambah Ube menirukan lagi perkataan orang tersebut.

Meski kesal, Ube berusaha menahan diri. Tak lama kemudian, lelaki tersebut pergi. Ia lantas menutup pintu area proyek dengan seng galvalum.

Namun, beberapa menit kemudian, lelaki itu kembali menuju ke arahnya. Kali ini ia datang bersama dengan Pak Tris, orang yang mengaku Ketua Paguyuban Pasar Gondangwetan.

Saat datang, Pak Tris juga marah-marah kepadanya. Jadilah Ube ‘dikeroyok’ dua orang, mandor dan Pak Tris.

“Saat datang Pak Tris langsung marah-marah sama saya. Saya bicara baik-baik. Tapi, dia malah bilang sama saya jangan mentang-mentang,” akunya.

Pak Tris lantas menyuruh Ube untuk meminta izin dulu sebelum mengambil gambar. Menurutnya, hal itu sesuai dengan UU Nomor 2/1982 bahwa semua kegiatan harus berizin. Padahal, UU itu sendiri tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Misi Khusus (Convention On Special Missions, New York 1969).

“Sesuai dengan UU Nomor 2 Tahun 1982, tidak boleh ngambil gambar kalau tidak izin. Ingat itu ya, saya tahu persis. Sesuai dengan UU Nomor 2 tahun 1982. Kalau mau motret, izin dulu ke kepala pasar,” sampai orang tersebut.

Ribut-ribut di depan lokasi proyek itu akhirnya mengundang perhatian pengunjung pasar. Bahkan, beberapa pekerja proyek di dalam area proyek keluar. Lantas mereka mengelilingi Ube.

Pak Tris menurut Ube, lantas menelepon Kabid Pengelolaan Pasar di Disperindag Kabupaten Pasuruan Gatot Sutanto. Dia melaporkan kondisi yang terjadi di pasar. Pada akhirnya, Gatot menyarankan agar Ube kembali esok harinya dan minta izin lebih dulu pada kepala pasar untuk memotret.

Perlakuan tak menyenangkan yang didapatkan Ube, mengundang respons dari banyak pihak. Bahkan, kecaman atas tindakan tersebut bermunculan.

Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Pasuruan, Rudi Hartono menyayangkan perlakuan itu. Menurutnya, hal itu tak patut diterima oleh seorang jurnalis. Sebab, seorang wartawan dilindungi UU dalam kegiatan peliputannya.

“Sikap yang dilakukan mandor ataupun ketua paguyuban tersebut jelas menciderai marwah UU Pers,” sampainya.

Ia menambahkan, wartawan memiliki hak untuk melakukan kontrol ataupun pengawasan atas jalannya pembangunan daerah. Tak terkecuali, untuk pembangunan fisik seperti proyek pasar daerah.

Sebab, proyek tersebut didanai negara. Pengawasan tersebut diperlukan untuk memastikan pembangunan yang dilakukan sesuai. Apalagi, Presiden RI Joko Widodo menginstruksikan agar pencegahan adanya tindak korupsi bisa dilakukan.

“Kalau sampai dilarang meliput atau sekadar memotret, patut dipertanyakan. Kenapa kok sampai dilarang? Jangan-jangan ada yang tidak sesuai pembangunannya kok sampai seorang wartawan tidak boleh mengambil gambar?” tegasnya.

Praktisi Hukum, Suryono Pane mengecam larangan pengambilan gambar tersebut. Sebab, pasar daerah merupakan area publik. Sehingga, tidak memerlukan izin bagi seorang wartawan untuk meliput ataupun sekadar mengambil gambar.

Pelarangan peliputan tersebut bisa diperkarakan dan itu diatur dalam UU Nomor 40/1999 tentang Pers. “Ancamannya jelas, pidana. Bahkan, kalau sampai ada aksi mendorong-dorong, bisa dilaporkan juga terkait perbuatan tak menyenangkan,” sampainya.

Ia menyarankan agar perkara tersebut ditempuh jalur hukum. Yakni dengan melaporkan ke pihak kepolisian. Supaya ada shock therapy bagi yang lain untuk tidak melakukan hal serupa. “Sebaiknya laporkan saja. Biar ada shock terapy,” tandasnya.

Plt Kepala Disperindag Kabupaten Pasuruan, Yudha Tri Widya Sasongko menguraikan, tidak ada instruksi dari instansinya untuk melarang peliputan. Termasuk melarang mengambil gambar di area pasar daerah. Karena, pasar daerah termasuk area publik. “Kami tidak memberikan instruksi. Mungkin dari pihak pelaksana,” ulasnya.

Ia menambahkan, pihaknya sudah menggelar rapat berkaitan dengan hal itu. Dari hasil rapat dengan rekanan dan konsultan pengawas, di lapangan memang sekarang sangat protektif. Karena ada kejadian sehari sebelumnya, orang luar langsung masuk lokasi proyek. Orang itu lantas berpura-pura sebagai wartawan dan mengambil motor seorang pekerja bangunan di sana.

Kejadian tersebut berhasil digagalkan oleh pekerja di lapangan. Sehingga, sekarang orang yang keluar masuk lokasi proyek diperketat untuk menghindari hal-hal tak diinginkan.

“Kami sudah menginstruksikan staf untuk rapat. Dari laporan staf berdasarkan hasil rapat, memang demikian,” bebernya. (one/fun)

- Advertisement -
- Advertisement -

MOST READ

Giliran Temukan Pintu Besi Bermotif Bunga di Goa Jepang

Temuan penting kembali didapati tim ekskavasi di Goa Jepang di Desa Watukosek, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.

Siswi SDN di Kraksaan Lolos dari Penculikan, Ini Ciri-Ciri Pelaku

KRAKSAAN, Radar Bromo - Niat Cld, 13, berangkat sekolah, Rabu (12/2) pagi berubah menjadi kisah menegangkan. Siswi SDN Kandangjati Kulon 1, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo,...

Mau Ke Tretes, Muda-mudi Asal Gempol Tertabrak Truk Tangki di Candiwates, Penumpangnya Tewas

PRIGEN – Nasib sial dialami pasangan muda-mudi ini. Minggu siang (20/1) keduanya terlibat kecelakaan saat hendak menuju Tretes, Akibatnya, satu orang tewas dan satu...

Siswa MI di Pandaan Tewas Gantung Diri, Diduga usai Smartphonenya Disembunyikan Orang Tua

PANDAAN, Radar Bromo – Tragis nian cara AA, 11, mengakhiri hidupnya. Pelajar di Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan ini, ditemukan tewas, Minggu (17/11) pagi. Dia...

BERITA TERBARU

Stok Garam di Kab Pasuruan Masih Tersisa 2.200 Ton

Sampai awal Desember ini, stok garam hasil produksi petambak garam di Kabupaten Pasuuran belum seluruhnya terserap pasar.

Hewan Ternak Rentan Sakit Ini saat Musim Hujan

Musim hujan yang mengguyur Kabupaten Probolinggo sejak beberapa waktu lalu berpengaruh terhadap kesehatan hewan ternak.

Tekan Covid-19; Disiplin 3M Sama Pentingnya dengan Vaksin

Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan masih menjadi keharusan, meskipun program vaksinasi nantinya telah dijalankan.

Terdampak Pandemi, Pilot pun Nyambi Bisnis Online Shop

pilot maskapai penerbangan nasional ini mengaku, pendapatannya berkurang 30 persen sejak pandemi.

Musim Hujan, Saatnya Mulai Waspadai Demam Berdarah Dengue

Dinkes Kabupaten Probolinggo mengimbau agar masyarakat tak abai terhadap penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).