alexametrics
28.2 C
Probolinggo
Friday, 12 August 2022

Polisi: Sebelum Pemakaman Jenazah Covid di Lekok Ada Sosialisasi

PANGGUNGREJO, Radar Bromo­– Empat tersangka insiden perebutan jenazah di Rowogempol, Kecamatan Lekok, masih berupaya mencari keadilan. Ini setelah mereka bersama tim penasihat hukumnya, mengajukan penangguhan penahanan. Dengan alasan, keempat tersangka bukanlah pelaku kriminal. Bahkan menyebut insiden di Rowogempol terjadi lantaran tak ada sosialisasi.

Tudingan tersebut direspon Polres Pasuruan Kota. Kepolisian menyebut, sosialisasi sejatinya sudah dilakukan sebelum jenazah AR tiba di rumah duka. Polsek bersama 3 pilar yakni kecamatan dan Koramil, sudah mensosialisasikan permasalah proses pemulsaran jenazah AR, yang positif Covid-19.

“Saat itu pihak keluarga sudah memahami dan dan menyepakati (untuk dimakamkan dengan protap Covid-19). Bahkan ada perwakilan pihak keluarga yang menyaksikan proses pemulasaran hingga selesai. Mulai mumandikan hingga disalati. Sesuai dengan syariat Islam,” beber Kapolres Pasuruan Kota AKBP Arman, melalui AKP Endy Purwanto, Kasubag Humas.

Terkait proses penegakan hukum yang dilakukan pihak Polres Pasuruan Kota, lanjut Endy, juga upaya mengedukasi  masyarakat. Di dalam perkara ini, ada pemaksaan kepada petugas pemakaman yang melanggar hukum. “Dan kewajiban kami untuk menegakkan hukum. Agar kejadian tersebut tidak terulang lagi,” imbuh Endy.

Bagaimana dengan langkah penangguhan yang dilakukan pihak tersangka ? Soal itu, Endy menjawab, penangguhan hukum adalah hak setiap orang. Terutama mereka yang tengah berperkara. “Tentu kami sebagai penegak hukum, akan mempertimbangkan dari segala aspek,” beber Endy.

Agar insiden tersebut tak terulang, kepolisian meminta agar masyarakat memahami tentang kondisi pandemi seperti sekarang. Apa yang ditetapkan pemerintah, tentu menjadi acuan supaya virus tak menyebar.

Bagi kepolisian sendiri, antisipasi penyebaran Covid-19 kini juga menjadi bagian dari tugas aparat. “Kami melibatkan seluruh jajaran. Termasuk Babinkamtibmas. Langkah 3 T (3 testing, tracing, treatment), menjadi langkah awal untuk memutus mata rantai Covid-19,” beber Endy.

Seperti diberitakan sebelumnya, Para istri empat tersangka perebutan jenazah AR yang positif Covid-19, mencari keadilan. Mereka minta suami mereka dibebaskan. Alasannya, tidak ada sosialisasi sebelumnya bahwa jenazah Covid-19 harus dimakamkan sesuai protokoler kesehatan.

Sementara itu, Suryono Pane selaku penasihat hukum keempat tersangka bersikukuh, insiden tersebut terjadi lantaran tak ada sosialisasi. Kepolisian harus melihat Lekok dengan luas, sebagai daerah yang memiiki kultur tradisi yang kuat soal pemakaman jenazah.

“Sosialisasi itu semestinya ke pelosok desa. Misalnya, saat ada jenazah mau dimakamkan, ada pemberitahuan yang tersampaikan ke seluruh desa. Bentuknya, bisa kan sosialisasi dari masjid, dan akan tersebar. Sehingga saya meyakini, insiden di Rowogempol tidak akan sampai terjadi,” beber Suryono Pane.

Sejauh ini, pihaknya berharap penangguhan penahanan terhadap keempat tersangka, bisa disetujui. Alasannya, keempat tersangka masih menjadi tulang punggung keluarga. Sehingga jika ditahan, malah justru akan menimbulkan persoalan baru dalam perkara ini.

“Mereka juga bukan pelaku kriminal. Hanya aksi spontan. Selain penangguhan penahanan, kami juga meminta permohonan bantuan ke bupati Pasuruan. Dalam perkara ini, semestinya bukan pendekatan pidana yang dilakukan. Tapi pendekatan kemanusian. Karena ini kejadian kemanusiaan,” terang Suryono Pane. (fun)

PANGGUNGREJO, Radar Bromo­– Empat tersangka insiden perebutan jenazah di Rowogempol, Kecamatan Lekok, masih berupaya mencari keadilan. Ini setelah mereka bersama tim penasihat hukumnya, mengajukan penangguhan penahanan. Dengan alasan, keempat tersangka bukanlah pelaku kriminal. Bahkan menyebut insiden di Rowogempol terjadi lantaran tak ada sosialisasi.

Tudingan tersebut direspon Polres Pasuruan Kota. Kepolisian menyebut, sosialisasi sejatinya sudah dilakukan sebelum jenazah AR tiba di rumah duka. Polsek bersama 3 pilar yakni kecamatan dan Koramil, sudah mensosialisasikan permasalah proses pemulsaran jenazah AR, yang positif Covid-19.

“Saat itu pihak keluarga sudah memahami dan dan menyepakati (untuk dimakamkan dengan protap Covid-19). Bahkan ada perwakilan pihak keluarga yang menyaksikan proses pemulasaran hingga selesai. Mulai mumandikan hingga disalati. Sesuai dengan syariat Islam,” beber Kapolres Pasuruan Kota AKBP Arman, melalui AKP Endy Purwanto, Kasubag Humas.

Terkait proses penegakan hukum yang dilakukan pihak Polres Pasuruan Kota, lanjut Endy, juga upaya mengedukasi  masyarakat. Di dalam perkara ini, ada pemaksaan kepada petugas pemakaman yang melanggar hukum. “Dan kewajiban kami untuk menegakkan hukum. Agar kejadian tersebut tidak terulang lagi,” imbuh Endy.

Bagaimana dengan langkah penangguhan yang dilakukan pihak tersangka ? Soal itu, Endy menjawab, penangguhan hukum adalah hak setiap orang. Terutama mereka yang tengah berperkara. “Tentu kami sebagai penegak hukum, akan mempertimbangkan dari segala aspek,” beber Endy.

Agar insiden tersebut tak terulang, kepolisian meminta agar masyarakat memahami tentang kondisi pandemi seperti sekarang. Apa yang ditetapkan pemerintah, tentu menjadi acuan supaya virus tak menyebar.

Bagi kepolisian sendiri, antisipasi penyebaran Covid-19 kini juga menjadi bagian dari tugas aparat. “Kami melibatkan seluruh jajaran. Termasuk Babinkamtibmas. Langkah 3 T (3 testing, tracing, treatment), menjadi langkah awal untuk memutus mata rantai Covid-19,” beber Endy.

Seperti diberitakan sebelumnya, Para istri empat tersangka perebutan jenazah AR yang positif Covid-19, mencari keadilan. Mereka minta suami mereka dibebaskan. Alasannya, tidak ada sosialisasi sebelumnya bahwa jenazah Covid-19 harus dimakamkan sesuai protokoler kesehatan.

Sementara itu, Suryono Pane selaku penasihat hukum keempat tersangka bersikukuh, insiden tersebut terjadi lantaran tak ada sosialisasi. Kepolisian harus melihat Lekok dengan luas, sebagai daerah yang memiiki kultur tradisi yang kuat soal pemakaman jenazah.

“Sosialisasi itu semestinya ke pelosok desa. Misalnya, saat ada jenazah mau dimakamkan, ada pemberitahuan yang tersampaikan ke seluruh desa. Bentuknya, bisa kan sosialisasi dari masjid, dan akan tersebar. Sehingga saya meyakini, insiden di Rowogempol tidak akan sampai terjadi,” beber Suryono Pane.

Sejauh ini, pihaknya berharap penangguhan penahanan terhadap keempat tersangka, bisa disetujui. Alasannya, keempat tersangka masih menjadi tulang punggung keluarga. Sehingga jika ditahan, malah justru akan menimbulkan persoalan baru dalam perkara ini.

“Mereka juga bukan pelaku kriminal. Hanya aksi spontan. Selain penangguhan penahanan, kami juga meminta permohonan bantuan ke bupati Pasuruan. Dalam perkara ini, semestinya bukan pendekatan pidana yang dilakukan. Tapi pendekatan kemanusian. Karena ini kejadian kemanusiaan,” terang Suryono Pane. (fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/