Kasus Kematian Ibu dan Kematian Bayi di Kota Pasuruan Masih Tinggi

PASURUAN, Radar Bromo – Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Kota Pasuruan masih cukup tinggi. Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat menemukan 19 peristiwa AKI dan AKB sepanjang 2019. Mayoritas disebabkan calon ibu tidak mengikuti anjuran dokter selama kehamilan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Kota Pasuruan dr. Shierly Marlena mengungkapkan, sampai akhir Juni, Dinkes menerima laporan AKI dua kali. Sementara laporan AKB 17 kali. Jumlah ini menurutnya, masih lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

“Ada penurunan temuan AKI dan AKB tahun ini. Mudah-mudahan tidak bertambah sampai akhir tahun. Kalau sepanjang 2018, temuan AKI-AKB sebanyak 30 kali. Rinciannya, AKI 10 kali, sedangkan AKB sebanyak 20 kali,”ungkapnya.

Shierly menjelaskan, faktor utama penyebab AKI adalah preeklamsia. Yakni, kejang pada saat melahirkan akibat ketidakteraturan pemeriksaan. Idealnya, seorang ibu hamil melakukan pemeriksaan empat kali selama proses kehamilan.

Sementara, AKB disebabkan oleh afeksia atau kekurangan oksigen pada pernapasan akibat terganggunya fungsi organ. Seperti paru-paru dan pembuluh darah. Selain itu, AKB juga disebabkan oleh berat badan lahir bayi rendah dan terlambat melakukan rujukan.

Shierly mengaku, Dinkes rutin melakukan penyuluhan pada ibu hamil agar melakukan kontrol secara teratur melalui puskesmas. Lalu, memperluas jangkauan kehamilan sampai di Posyandu. Serta, pendampingan pada ibu hamil yang memiliki risiko tinggi.

“Kami rutin memberikan vitamin tambahan pada ibu hamil di Kota Pasuruan secara gratis. Namun, sayangnya, banyak ibu hamil yang bandel dengan tidak kontrol dan cek kandungan sebagaimana mestinya,” terang Shierly. (riz/hn)