alexametrics
33.9 C
Probolinggo
Wednesday, 20 October 2021

Dua Terdakwa Ambruknya Atap SDN Gentong Diberi Hak Ajukan Saksi Meringankan

PASURUAN, Radar Bromo – Meski tak didampingi penasihat hukum, dua terdakwa kasus SDN Gentong ambruk tetap diberi hak di persidangan. Salah satunya menghadirkan saksi a de charge atau saksi meringankan.

Karena itu, terdakwa Dedy Maryanto dan Sutaji Efendi diberi kelonggaran waktu. Sidang ditunda selama sepekan. Dengan maksud, agar dua terdakwa bisa menyiapkan saksi a de charge.

Biasanya, sidang perkara kelalaian yang menyebabkan kematian itu digelar maraton. Selama ini, sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Pasuruan itu melangsungkan dua agenda sekaligus dalam sepekan. Sidang lanjutan itu akan digelar kembali hari ini (24/2).

“Kami beri waktu kepada para terdakwa untuk menyiapkan saksi a de charge. Karena itu, sidang ditunda sepekan,” ungkap Juru Bicara PN Pasuruan Rahmat Dahlan.

Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Kota Pasuruan Hafidi mengaku, keterangan saksi dan ahli yang dihadirkan sudah cukup menguatkan dakwaan. Termasuk keterangan para terdakwa dalam sidang sebelumnya.

“Soal a de charge, ya kami persilakan kepada para terdakwa untuk mengajukan,” ujar Hafidi.

Menurutnya, keberadaan saksi a de charge memang menjadi hak terdakwa di persidangan. Sebab hal itu bisa menjadi unsur yang meringankan bagi terdakwa. “Karena itu memang hak terdakwa. Kami menghormatinya,” tandas Hafidi.

Dalam sidang pemeriksaan terdakwa, Senin (17/2), Dedy Maryanto dan Sutaji Efendi mengakui kelalaiannya dalam proyek rehabilitasi empat ruang kelas SDN Gentong pada 2012. Di antaranya dengan mengurangi campuran beton yang digunakan untuk meninggikan dinding pada gedung itu.

Majelis Hakim yang diketuai Rahmat Dahlan lalu menanyakan perasaan terdakwa atas insiden ambruknya atap empat ruang kelas pada 5 November 2019. Dedy Maryanto mengutarakan empati pada keluarga korban. Namun, Hakim meminta bukti kepedulian para terdakwa sebagai bentuk tanggung jawab moral. (tom/hn/fun)

PASURUAN, Radar Bromo – Meski tak didampingi penasihat hukum, dua terdakwa kasus SDN Gentong ambruk tetap diberi hak di persidangan. Salah satunya menghadirkan saksi a de charge atau saksi meringankan.

Karena itu, terdakwa Dedy Maryanto dan Sutaji Efendi diberi kelonggaran waktu. Sidang ditunda selama sepekan. Dengan maksud, agar dua terdakwa bisa menyiapkan saksi a de charge.

Biasanya, sidang perkara kelalaian yang menyebabkan kematian itu digelar maraton. Selama ini, sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Pasuruan itu melangsungkan dua agenda sekaligus dalam sepekan. Sidang lanjutan itu akan digelar kembali hari ini (24/2).

“Kami beri waktu kepada para terdakwa untuk menyiapkan saksi a de charge. Karena itu, sidang ditunda sepekan,” ungkap Juru Bicara PN Pasuruan Rahmat Dahlan.

Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Kota Pasuruan Hafidi mengaku, keterangan saksi dan ahli yang dihadirkan sudah cukup menguatkan dakwaan. Termasuk keterangan para terdakwa dalam sidang sebelumnya.

“Soal a de charge, ya kami persilakan kepada para terdakwa untuk mengajukan,” ujar Hafidi.

Menurutnya, keberadaan saksi a de charge memang menjadi hak terdakwa di persidangan. Sebab hal itu bisa menjadi unsur yang meringankan bagi terdakwa. “Karena itu memang hak terdakwa. Kami menghormatinya,” tandas Hafidi.

Dalam sidang pemeriksaan terdakwa, Senin (17/2), Dedy Maryanto dan Sutaji Efendi mengakui kelalaiannya dalam proyek rehabilitasi empat ruang kelas SDN Gentong pada 2012. Di antaranya dengan mengurangi campuran beton yang digunakan untuk meninggikan dinding pada gedung itu.

Majelis Hakim yang diketuai Rahmat Dahlan lalu menanyakan perasaan terdakwa atas insiden ambruknya atap empat ruang kelas pada 5 November 2019. Dedy Maryanto mengutarakan empati pada keluarga korban. Namun, Hakim meminta bukti kepedulian para terdakwa sebagai bentuk tanggung jawab moral. (tom/hn/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU