Nasib Pandai Besi di Rembang yang Terus Berkurang, Kalah dengan Produk Pabrik

Pandai besi merupakan kerajinan turun temurun yang banyak dilakoni warga Desa Pajaran, Kecamatan Rembang. Namun, kian lama, pandai besi ini mulai berkurang. Banyak hal yang melatar belakanginya.

—————

Denting suara besi terdengar di telinga. Bantingan martil ke arah besi, menjadi pemicu munculnya suara. Tidak hanya sekali martil itu ditumbukkan ke besi yang telah dipanasi. Namun, berkali-kali, hingga besi itupun menjadi pipih.

Aktivitas itulah yang terlihat di sebuah bengkel milik Munip. Bengkel berukuran 3×4 meter itu, memang sederhana. Namun, keberadaannya sangatlah berharga.

Karena dari situlah, ia bisa menghidupi anak istrinya. Ya, Munip seorang pandai besi. Ia merupakan pembuat alat-alat dapur, seperti pisau dan sabit. Profesi sebagai pandai besi ini sudah dilakoninya sejak masih sangat muda.

“Saya menjadi pemandai besi sejak masih berusia 17 tahun. Ketika itu, saya ikut almarhum bapak,” ungkap lelaki 60 tahun tersebut.

Menjadi pandai besi, memang menjadi pilihan hidupnya di tengah sulitnya mendapatkan pekerjaan di desa. Walaupun, dia bukan satu-satunya pandai besi di Desa Pajaran, Kecamatan Rembang.

Ada beberapa orang lainnya yang bertahan menjadi pandai besi. “Kalau dibandingkan dulu, memang jauh. Sekarang, jumlah pandai besi sudah susut,” tuturnya.

Saat ini hanya ada sekitar delapan pandai besi di wilayahnya. Padahal, di era 1980-an ke bawah, ada puluhan orang yang menggantungkan hidupnya dari kerajinan besi.

Ia pun masih ingat masa jaya-jayanya pandai besi. Setiap harinya, hampir tidak pernah sepi pesanan. Bahkan, saking banyaknya order, ia harus merekrut karyawan untuk membantunya.

“Teman saya sesama pandai besi, bahkan bisa berangkat haji dari usahanya tersebut. Tapi, sekarang relatif sepi order,” tuturnya.

Ia masih ingat, bengkel kecilnya itu bisa menampung tiga alat pandai dengan tujuh pekerja. Namun, kondisi itu berbeda dengan sekarang. Saat ini hanya ia dan anaknya Muhid, 33, yang bekerja di bengkelnya.

Peralatannya pun hanya satu. Peralatan itulah yang digunakan untuknya dan anaknya bekerja ketika ada order barang.

“Dulu di bengkel saya ini, ramai pekerja. Tapi, sekarang sudah tidak seperti dulu. Hanya saya dan anak saya yang bekerja. Karena tak mampu lagi untuk membayar pekerja,” sambungnya.

Saat ini ia hanya mampu menerima order delapan kali dalam sebulan. Di mana setiap ordernya, hanya menerima pesanan barang 24 unit. Padahal, sebelumnya bisa ratusan unit barang.

Bahkan, intensitas ordernya cukup tinggi. “Kalau sekarang, lebih banyak nganggur-nya,” imbuhnya.

Hal ini, tak lepas dari perkembangan teknologi. Banyak bengkel alat-alat dapur yang kini menggunakan mesin. Sehingga, membuat masyarakat banyak beralih ke produk pabrikan. Mengingat, banyak produk stainless yang diminati masyarakat.

Hal tak jauh berbeda diungkapkan Nasihin, warga Pajaran, Kecamatan Rembang. Lesunya pesanan, membuat warga banyak yang beralih ke industri lain.

Ada yang bekerja sebagai kuli bangunan, kerajinan mebel, ada pula yang akhirnya memilih sebagai petani lantaran tak lagi mampu memalu besi. Hal inilah yang membuat jumlah pandai besi kian menyusut.

“Padahal, harga barangnya sebenarnya relatif murah. Sekitar Rp 20 ribu untuk pisau,” tuturnya.

Meski begitu, ia meyakinkan, masih ada saja yang menyukai produk pandai besi asal Pajaran. Walau, kondisinya tak seperti bertahun-tahun silam.

“Kami berusaha menjaga kualitas barang. Yakni, membuat barangnya tidak mudah rusak,” akhirinya. (one/hn/fun)