alexametrics
25.7 C
Probolinggo
Friday, 27 November 2020

Lerai Pertengkaran, Warga Triwung Lor Malah Dijadikan Tersangka, Kok Bisa?

KADEMANGAN, Radar Bromo – Sudah dua bulan ini perasaan Patahati alias Pat, 35, diliputi perasaan gundah. Sejak 24 Juli lalu, warga Jalan Himalaya, Kelurahan Triwung Lor, Kecamatan Kademangan, Pat ditetapkan Polsek Kademangan menjadi tersangka atas kasus pengeroyokan.

Bukan hanya Pat yang gundah. Tetapi juga Suma, 32, dan Yuyun, 34. Pasutri asal Desa Mentor, Kecamatan Sumberasih tersebut, juga sama-sama ditetapkan menjadi tersangka, lantaran diduga ikut melakukan kekerasan di muka umum terhadap Sup, yang juga berasal dari Desa Mentor.

Pat, Suma dan Yuyun mengaku heran atas penetapan tersangka yang disematkan kepolisian. Sebab, status itu berawal dari pertengkaran yang terjadi antara Suma dan Sup. Sementara Pat dan Yuyun, waktu itu hanya melerai. Hingga kemudian mereka ditetapkan menjadi tersangka.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, kasus itu bermula utang piutang antara Suma, dengan Sri, tetangganya. “Tiga bulan sebelum terjadi perkelahian itu, Sri ini menawarkan Suma yang dulunya bekerja di rumahnya, agar bekerja di tempat saya. Katanya kasihan. Makanya saya terima dia (Suma) bekerja di rumah saya,” terang Pat saat ditemui sejumlah awak media, Minggu (22/9) pagi.

Hingga kemudian, sekitar bulan Feburari Sri datang ke rumahnya dan mengatakan bahwa Suma punya utang. Bahkan Suma disebut maling. Saat itu Sri meminta ke Pat agar memberhentikan Suma. “Lah saya bilang, kalau memang Suma maling, kenapa diberikan atau ditawarkan untuk bekerja dengan saya,” terang Pat menirukan Sri, beberapa bulan lalu.

Dari sanalah keduanya sering terlibat cekcok. Bahkan, Sup adik bu Sri ikut campur. “Jadi Sri dan adiknya ini (Sup), sering ke rumah dan marah-marah,” beber Pat.

Sampai suatu ketika, Sub datang ke rumah Pat untuk menemui Suma. Kebetulan, Suma dan suaminya berada di teras, membantu mengupas bawang. Tiba-tiba Sup, adu mulut dengan Suma, di depan rumah Pat. Keduanya lalu terlibat perkelahian, saling jambak dan pukul. Sup mengalami luka cakar di pelipisnya.

“Saat itu berusaha melerainya. Sebab, perkelahian itu terjadi di teras dalam rumah saya. Sementara Yuyun, suaminya juga berusaha melerai istrinya. Saat itu saja Sup sudah kalah dengan Suma. Untung ada saya dan suaminya (Yuyun, Red) yang melerai,” bebernya.

Insiden itu bahkan membuat Pat, menghubungi Ketua RT setempat. Sebab usai dilerai, Suma dimasukkan ke rumahnya dan pintunya ditutup. Sementara Sup yang tidak terima, merusak pagar rumahnya. “Saya telpon Ketua RT jika ada keributan di rumah saya,” bebernya.

Singkatnya, Ketua RT datang. Namun Sup berteriak agar RT tidak usah ikut campur. Sup langsung berangkat mau visum dan laporan ke Polsek Kademangan.

“Nah dua bulan setelahnya, yakni bulan April, Saya, Suma dan Yuyun mendapatkan surat panggilan (dri polisi) pertama. Selanjutnya Juli lalu, kami bertiga ditetapkan sebagai tersangka. Dan kasus ini sampai sekarang belum selesai. Bahkan pihak kepolisian yang melakukan mediasi bilang jika Sup atau pelapor, meminta Rp 10 juta untuk damai. Nah saya dapat dari mana? Yah tidak mau, saya apalagi yang datang dan bertengkar kan mereka, kok saya juga masuk jadi tersangka,” katanya.

Sementara Yuyun suaminya mengaku bahwa saat perkelahian dia hanya berupaya melerai. Bahkan ia memegang istrinya lantaran Sup dijambak oleh istrinya. Sementara itu, Suma membenarkan jika ia punya utang. Suma utang sebuah sepeda seharga Rp 525 ribu. Sepeda itu dicicil tiap hari sebesar Rp 10 ribu. Namun karena peristiwa perkelahian itu, Sri meminta uang sisanya yakni Rp 200 ribu. Sementara Suma mengaku tidak memiliki uang tersebut.

“Sudah saya bayar Rp 325. Sisanya kurang Rp 200. Karena Sri bilang kembalikan sepedanya jika tidak bisa bayar, dan uang yang telah masuk juga dikembalikan, maka saya kembalikan sepedanya pada Sri. Namun rupanya uangnya yang telah dibayarkan Rp 325 tidak mau dikembalikan. Sehingga sepedanya saya ambil lagi,” tambah Suma.

Lantaran tak sesuai janji, sepeda yang diserahkan ke Sri, kemudian diambil lagi dan dibawa pulang oleh Suma. Sepeda tersebut kemudian dijual dan laku Rp 400 ribu. Sebelumnya, ia pernah hutang Rp 400 ribu dan bayar Rp1 juta. “Kami mau berdamai. Tapi sana minta Rp10 juta. Lalu turun sampai Rp7 juta. Saya uang dari mana pak,” katanya ke sejumlah wartawan.

Suma yang siang itu bersama suaminya menyebut, pernah dimintai uang Rp 2 juta oleh seseorang yang mengatasnamakan LSM. Karena kasusnya kepingin cepat selesai, ia kemudian menyerahkan uang yang diminta tersebut. Beberapa hari kemudian, Suma dimintai lagi uang oleh orang yang sama Rp 4 juta. “Ya, enggak saya kasih. Uang dari mana saya pak,” ujar Suma memelas.

Lantaran permintaannya tidak dikabulkan, orang tersebut menyerahkan uang Rp 2 juta pemberian Suma. Alasannya, orang itu takut dengan orang tua Pat, yang juga salah satu anggota LSM. Pria yang mengembalikan uang Rp 2 juta itu lalu mengancam. “Saya ditakut-takuti. Katanya kalau tidak membayar ganti rugi, saya dipenjara,” pungkas Suma.

Sementara, Bu Pat sama pendiriannya dengan Suma. Ia tidak akan mengabulkan permintaan uang damai. Sebab, selain tidak punya, perempuan beranak empat itu, tidak salah. Tuduhan kalau dirinya dan suami Suma mengeroyok Sup, jauh dari kebenaran. “Justru saya yang melerai sama suami Suma. Bahkan saya mengancam Suma, kalau cengkramannya tidak dilepas, Suma saya pecat. Tidak usah kerja di saya lagi,” tandasnya. (rpd/fun)

- Advertisement -
- Advertisement -

MOST READ

Siswi SDN di Kraksaan Lolos dari Penculikan, Ini Ciri-Ciri Pelaku

KRAKSAAN, Radar Bromo - Niat Cld, 13, berangkat sekolah, Rabu (12/2) pagi berubah menjadi kisah menegangkan. Siswi SDN Kandangjati Kulon 1, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo,...

Mau Ke Tretes, Muda-mudi Asal Gempol Tertabrak Truk Tangki di Candiwates, Penumpangnya Tewas

PRIGEN – Nasib sial dialami pasangan muda-mudi ini. Minggu siang (20/1) keduanya terlibat kecelakaan saat hendak menuju Tretes, Akibatnya, satu orang tewas dan satu...

Siswa MI di Pandaan Tewas Gantung Diri, Diduga usai Smartphonenya Disembunyikan Orang Tua

PANDAAN, Radar Bromo – Tragis nian cara AA, 11, mengakhiri hidupnya. Pelajar di Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan ini, ditemukan tewas, Minggu (17/11) pagi. Dia...

Geger Mayat Wanita di Pantai Pasir Panjang-Lekok, Kondisinya Terikat Tali dan Dikaitkan Batu

LEKOK, Radar Bromo - Temuan mayat dengan kondisi terikat, kembali menggegerkan warga. Rabu (18/9) pagi, mayat perempuan tanpa identitas ditemukan mengapung di Pantai Pasir...

BERITA TERBARU

Jon Junaedi Wakil Ketua DPRD Mangkir Lagi di Sidang Ijazah Palsu

Jaksa menyebutkan, Kalau 3 kali dipanggil tidak dating, ketentuannya nanti dapat dilakukan penjemputan paksa dengan adanya penetapan hakim untuk jemput paksa

Usai Dilantik, Ribuan KPPS yang Bertugas di Pilwali Dirapid Test

Ini salah satu upaya KPU dalam memastikan seluruh putugas penyelanggara, seperti KPPS hingga linmas benar-benar sehat dan tidak terjangkit Covid-19

Petugas KPPS Harus Jaga Integritas selama Pilwali

Selanjutnya, KPU akan memberikan pembekalan bagi KPPS sebelum bertugas.

Pembobol Alfamart Suwayuwo Dibekuk, Pelaku Residivis, Ini Tampangya

Pelaku pembobolan toko modern yang berada di sebelah timur jalan nasional ini ada tiga orang.