Kapolres: Tak Terima Penangkapan Paksa, Ajukan Praperadilan  

DRINGU, Radar Bromo-Aksi sejumlah Sumbersuko Dringu yang melurug Mapolsek Dringu ditanggapi Kapolres Probolinggo AKBP Ferdy Irawan. Ia menegaskan, pihaknya telah melakukan penangkapan sesuai prosedur.

Menurut perwira polisi dengan dua melati di pundaknya itu, saat ini Zainal yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Dia dijerat Pasal 363 KUHP dengan ancaman maksimal 7 tahun penjara.

“Dalam kasus ini, baru Zainal yang ditetapkan sebagai tersangka. Selanjutnya, kami kembangkan apakah ada tersangka lain atau tidak,” tutur Ferdy.

Dilanjutkan Kapolres, Zainal ditangkap dua pekan lalu. Dan penangkapan itu sudah sesuai prosedur. Bahkan, hasil penyidikan di lapangan sudah memenuhi bukti dan kasus itu layak dinaikan ke tingkat penyidikan. Hal itu diperkuat dengan adanya barang bukti, saksi-saksi, termasuk korban.

“Menurut kami, proses penangkapan tersangka sudah sesuai dengan prosedur yang ada. Namun menurut warga, kami melakukan penangkapan tidak sesuai prosedur,” terangnya didampingi Kapolsek Dringu Iptu Taufik Hidayat.

Kapolres menegaskan, pihaknya sudah mendekati warga sebelum turun ke jalan. Bahkan, sebelumnya warga sudah beberapa kali diberikan pengertian dan penjelasan tentang kasus ini, namun mereka tetap turun ke jalan.

Menurutnya, turun ke jalan dan menyampaikan aspirasi merupakan hak warga. Yang penting tidak berbuat anarkis dan tidak mengganggu kepentingan umum.

 

Baca Juga: Polsek Dringu Dilurug Massa, Minta Tahanan Pencurian Dibebaskan

 

“Tidak masalah mereka turun ke jalan. Bahkan, meski pekan depan mereka mau turun ke Polres dan Kejaksaan, kami terima. Yang penting tidak anarkistis dan tidak mengganggu kepentingan umum. Sebab, aksi menyuarakan pendapat itu merupakan hak,” katanya.

Yang jelas, lanjut Kapolres, pihaknya sudah menjelaskan bahwa ada jalur dan alur yang bisa dilakukan keluarga apabila ingin mendampingi tersangka. Jika tidak puas atas penangkapan pada tersangka, maka bisa mengajukan proses praperadilan.

Dan apabila menganggap ada kesalahan prosedur, bisa melapor ke Propam. Selanjutnya, Propam yang akan memeriksa. “Kalau melihat  ada kesalahan prosedur dari penyidik, silakan laporkan ke propam untuk dugaan pelanggaran prosedur. Jika tidak terima dengan upaya penangkapan paksa, kami sarankan ajukan praperadilan,” tambah Kapolres.

Ditambahkan Kapolres Ferdy, sebetulnya keluarga minta penangguhan tahanan untuk tersangka. Namun, permintaan itu ditolak. Sehingga, akhirnya warga turun ke jalan.

Selain itu, pihak keluarga meminta penjelasan secara utuh tentang isi penyidikan. Pihaknya pun tidak memberikan. Sebab, hal itu akan dibahas di persidangan.

“Kami sudah menjelaskan secara umum tentang isi penyidikan, namun mereka minta detail isi berkasnya. Kan tidak boleh. Itu kan bagian dari substansi penyidikan yang tidak bisa dibuka sembarangan. Kecuali nanti di persidangan,” tegas Kapolres.  (rpd/hn)