Warga Surabaya Ini Ngaku Jenderal Polisi, Ditangkap saat Modus Menipu Keluarkan Motor

BANGIL, Radar Bromo – Apa yang dilakukan Jamroni Khusen, 30, warga Mulyorejo Utara, Kota Surabaya, ini sungguh keterlaluan. Bukannya menolong orang yang tengah kesusahan, ia malah menjadikan peluang untuk mendapatkan keuntungan.

Lelaki yang tinggal di Perum Anggun Sejahtera, Desa Orobulu, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, ini meraup keuntungan dengan melakukan tipu-tipu. Parahnya, ia mengaku-aku sebagai seorang jenderal di lingkungan kepolisian agar bisa menolong korbannya.

Karena ulahnya itu, ia harus berurusan dengan polisi sesungguhnya. Ia diciduk di rumah kontrakannya di Perum Anggun Sejahtera, Rabu (20/5) sore. Ia pun hanya tertunduk lesu ketika anggota Satreskrim Polres Pasuruan menggelandangnya ke penjara.

Kasatreskrim Polres Pasuruan AKP Adrian Wimbarda menyampaikan, kasus dugaan penipuan itu bermula dari penggerebekan sabung ayam yang dilakukan anggota Satreskrim Polres Pasuruan, beberapa hari lalu. Penggerebekan yang berlangsung di daerah Orobulu, Kecamatan Rembang, itu menciduk 15 ayam serta 20 motor yang ada di lokasi.

Namun, para pelakunya berhasil melarikan diri. Sehingga, hanya BB perjudian yang berhasil diamankan petugas. Rupanya, kabar adanya penggerebekan sabung ayam tersebut, didengar oleh tersangka, Jamroni.

SUDAH DITAHAN: Jamroni kini sudah menghuni sel tahanan. (Foto: Satreskrim for Jawa Pos Radar Bromo)

 

Ia kemudian menghubungi salah satu dari mereka yang terlibat perjudian, Usman, 50, warga Orobulu, Kecamatan Rembang pada Sabtu (16/5). Kepada Usman, tersangka mengaku seorang polisi yang berpangkat jenderal.

Kepada Usman pula, ia menjanjikan untuk bisa mengeluarkan motor-motor tersebut. Syaratnya, ia dan rekan-rekannya harus menyiapkan uang Rp 1 juta untuk setiap motor yang harus dikeluarkan. “Biar saya yang urus. Kalau tidak bisa keluar, biar saya pindahkan tuh kasat reskrimnya,” kata Adrian menirukan pembicaraan tersangka.

Hal itu kemudian disanggupi Usman. Usman mengkoordinasi rekan-rekannya untuk mengumpulkan uang agar bisa mengeluarkan motor-motor yang disita polisi. Ia kemudian menyerahkan uang tersebut ke Jamroni di kontrakannya.

Penyerahan uang itu dilakukan Rabu (20/5) pagi. Besarnya Rp 7 juta. Artinya, ada tujuh motor yang dijanjikan bisa dikeluarkan tersangka. Namun, tersangka meminta tambahan. Alasannya, pihak penyidik Polres Pasuruan minta tambahan. Besarnya, Rp 500 ribu per motornya.

“Korban mendatangi rumah kontrakan tersangka di Rembang untuk nyerahkan uang. Tapi, tersangka minta tambahan Rp 500 ribu per motornya,” beber Kasat melalui KBO Satreskrim Polres Pasuruan Iptu Kusmani.

Permintaan itu, tak mampu disanggupi Usman. Rupanya, hal itu membuat tersangka meradang. Ia masuk kamarnya dan mengambil air softgun. Hal itu langsung membuat Usman ketakutan. Ia pun lari dari rumah tersangka. “Dari situlah, korban kemudian melaporkan ke polisi,” jelasnya.

Dari laporan itulah, petugas kepolisian melakukan penyelidikan. Hingga akhirnya, petugas melakukan penggerebekan sore harinya. Saat digerebek, tersangka tengah bersantai menunggu buka puasa. Tersangka pun hanya bisa pasrah.

Apalagi, petugas berhasil mengamankan sejumlah barang bukti. Selain air softgun senilai Rp 1,5 juta, petugas juga mengamankan rompi polisi seharga Rp 60 ribu dan beberapa barang bukti lainnya. Termasuk HT senilai Rp 800 ribu untuk meyakinkan kalau tersangka memang seorang petugas.

Kepada petugas, lelaki yang juga mengaku bekerja sebagai anggota Satpol PP Kota Pasuruan ini melancarkan aksinya itu baru sekali. Ia melakukan aksi penipuan tersebut untuk membangun rumah. “Dalihnya untuk biaya membangun rumah jelang Lebaran,” bebernya.

Kini, tersangka hanya bisa menyesali perbuatannya. Ia terancam hukuman 4 tahun penjara lantaran melanggar pasal 378 KUHP tentang Penipuan.

“Kami juga masih melakukan pendalaman. Apakah dia baru sekali ini mengaku sebagai polisi atau sudah berkali-kali melakukan penipuan tersebut,” tandas Kusmani.

Di sisi lain, Kepala Satpol PP Kota Pasuruan Yanuar menegaskan, kalau tersangka bukanlah anggota dari satuannya. “Bukan. Dia bukan anggota saya,” jelasnya. (one/hn/fun)