Bupati Probolinggo: Sulit Ubah Tradisi, Tapi Pengawasan Mudah

PROBOLINGGO, Radar Bromo – Tradisi Toron warga Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, sempat menuai banyak sorotan. Terlebih karena saat ini pandemi masih berlangsung.

Hal ini juga mendapat perhatian dari Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari. Menurut dia, jauh hari Pemkab Probolinggo sudah melakukan sosialisasi agar warga Gili Ketapang tidak melakukan tradisi tersebut.

“Namun, yang namanya tradisi ini sudah berjalan lama di masyarakat sulit untuk diubah,” ujar Tantri saat bertemu di pendapa Kabupaten Probolinggo, Senin (18/5).

Menurut Bupati, jika dikaitkan dengan hukum agama sebenarnya tradisi ini bukan sesuatu yang fardu. Sedangkan dikaitkan dengan posisi Gili Ketapang sebagai desa yang berbentuk pulau, Tantri melihat kondisinya saat ini masih aman dari terpaparnya pasien korona.

“Sebagai sebuah pulau tersendiri, menjadi keuntungan bagi masyarakat di sana untuk mengisolasi warga. Menjadi keuntungan bagi pemerintah desa setempat karena akses jalan menuju pulau Gili hanya melalui kapal saja,” tambahnya.

Sementara itu, Kades Gili Ketapang Suparyono saat dihubungi beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa setiap tanggal 27 Ramadan telah menjadi tradisi bagi warga setempat untuk turun ke Kota Probolinggo. Tujuannya, untuk berbelanja kebutuhan Lebaran.

“Setiap kali Toron itu kurang lebih 30 persen warga yang ke Kota Probolinggo. Jumlah penduduk di sini mencapai 9.000 orang,” ujarnya.

Oleh karena itu, Pemdes Gili Ketapang meminta warga untuk tidak serentak turun pada tanggal 27 Ramadan. Khawatir terjadi kerumunan warga, makanya disarankan untuk berbelanja ke Kota Probolinggo sebelumnya,” tambahnya. (put/fun)