alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Saturday, 2 July 2022

Pemerkosa Anak Dihukum 12 Tahun, Keluarga Puas

BANGIL, Radar Bromo– Pelaku pemerkosaan anak di bawah umur, Janto Bintoro, 40, akhirnya diputus bersalah. Dia divonis 12 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Bangil. Keluarga korban pun puas dengan vonis itu.

Lelaki asal Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, itu juga harus membayar denda Rp 100 juta. Bila tidak, maka denda tersebut harus digantinya dengan hukuman selama 6 bulan penjara.

Sidang vonis itu pada terdakwa digelar secara virtual di PN Bangil, Kamis (22/4). Vonis yang dijatuhkan tersebut lebih rendah daripada tuntutan JPU.

JPU Kejari Kabupaten Pasuruan Hendi menuntut terdakwa hukuman 14 tahun penjara. Terdakwa juga harus membayar denda Rp 100 juta subsider 6 bulan penjara.

Wakil Ketua PN Bangil Delta Tamtama menguraikan, terdakwa dinyatakan bersalah telah memperkosa anak di bawah umum. Namun, memang vonis yang dijatuhkan majelis hakim lebih rendah dari tuntutan JPU. Majelis hakim memvonis 12 tahun penjara. Sementara JPU menuntut 14 tahun penjara.

BERAT: Keluarga senang karena hakim telah memvonis terdakwa dengan hukuman berat. (Foto : Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

“Namun, meski lebih rendah vonis yang dijatuhkan kepada terdakwa terbilang berat. Karena kalau merujuk pada pasal 81 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, ancaman hukuman minimalnya adalah 5 tahun penjara. Sementara, terdakwa dijatuhi hukuman 12 tahun penjara,” terang Delta.

Menurut Delta, tidak ada tekanan dari manapun atas putusan tersebut. Termasuk dari pihak keluarga yang sempat menggelar unjuk rasa ke PN Bangil. Putusan itu murni dari majelis hakim dengan sejumlah pertimbangan.

“Ada beberapa pertimbangan dari majelis hakim, hingga menjatuhkan vonis tersebut,” bebernya.

Menurutnya, ada hal yang meringankan terdakwa. Yaitu, dia mengakui perbuatannya.

Juga ada hal yang memberatkan terdakwa. “Perbuatan terdakwa merusak masa depan anak,” imbuhnya.

Vonis berat yang dijatuhkan hakim tersebut, membuat pihak keluarga merasa puas. Irma Nofita, ibu korban mengaku putusan itu pantas didapatkan terdakwa. Karena, apa yang dilakukannya telah merusak masa depan anaknya.

“Kami puas. Hakim telah memvonis terdakwa dengan hukuman berat,” terang warga Cukurguling, Kecamatan Lumbang itu.

Irma mengaku, ia dan keluarga serta warga Lumbang sengaja datang ke PN Bangil, kemarin untuk menyaksikan putusan sidang. Meski kenyataannya, sidang tersebut harus dilakukan dengan virtual lantaran pandemi Covid-19 yang belum berakhir.

“Kami tidak unjuk rasa. Kami hanya ingin menyaksikan jalannya sidang,” urainya.

Meski mengaku tidak unjuk rasa, kemarin Irma bersama warga Lumbang datang dengan membawa sejumlah poster. Isinya menuntut terdakwa dihukum seberat-beratnya karena memperkosa korban.

Ada sekitar 30 warga Lumbang yang datang PN Bangil, kemarin. Mereka menunggu di PN Bangil, sebab sidang virtual hanya bisa diikuti perwakilan keluarga. Dan begitu sidang selesai, mereka pun pulang.

Kasus pemerkosaan itu sendiri sempat menyita perhatian. Sebab, korbannya NY, masih berumur 13 tahun. Sementara terdakwa, Janto Bintoro sudah berusia 40 tahun. Dia bahkan paman ipar dari korban.

Kasus pemerkosaan itu menimpa korban pada 12 Oktober 2020. Orang tua korban yang tidak tidak terima lantas melaporkan pemerkosaan itu ke Polsek Lumbang.

Meski dilaporkan, tak serta merta terdakwa langsung ditahan. Empat hari kemudian, terdakwa baru ditangkap setelah warga mendemo Polsek Lumbang.

Dalam proses persidangan pun, pihak keluarga sempat berunjuk rasa. Mereka meminta pergantian majelis hakim. Juga mendesak agar terdakwa dihukum setimpal.

Sebab, sempat disebut-sebut ada perlakuan tak menyenangkan dari hakim saat sidang. Hakim sempat melempar palu ke pendamping korban, bahkan marah-marah. Akhirnya, memicu trauma kepada korban. Hal inilah yang kemudian dipersoalkan pihak keluarga. (one/hn)

BANGIL, Radar Bromo– Pelaku pemerkosaan anak di bawah umur, Janto Bintoro, 40, akhirnya diputus bersalah. Dia divonis 12 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Bangil. Keluarga korban pun puas dengan vonis itu.

Lelaki asal Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, itu juga harus membayar denda Rp 100 juta. Bila tidak, maka denda tersebut harus digantinya dengan hukuman selama 6 bulan penjara.

Sidang vonis itu pada terdakwa digelar secara virtual di PN Bangil, Kamis (22/4). Vonis yang dijatuhkan tersebut lebih rendah daripada tuntutan JPU.

JPU Kejari Kabupaten Pasuruan Hendi menuntut terdakwa hukuman 14 tahun penjara. Terdakwa juga harus membayar denda Rp 100 juta subsider 6 bulan penjara.

Wakil Ketua PN Bangil Delta Tamtama menguraikan, terdakwa dinyatakan bersalah telah memperkosa anak di bawah umum. Namun, memang vonis yang dijatuhkan majelis hakim lebih rendah dari tuntutan JPU. Majelis hakim memvonis 12 tahun penjara. Sementara JPU menuntut 14 tahun penjara.

BERAT: Keluarga senang karena hakim telah memvonis terdakwa dengan hukuman berat. (Foto : Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

“Namun, meski lebih rendah vonis yang dijatuhkan kepada terdakwa terbilang berat. Karena kalau merujuk pada pasal 81 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, ancaman hukuman minimalnya adalah 5 tahun penjara. Sementara, terdakwa dijatuhi hukuman 12 tahun penjara,” terang Delta.

Menurut Delta, tidak ada tekanan dari manapun atas putusan tersebut. Termasuk dari pihak keluarga yang sempat menggelar unjuk rasa ke PN Bangil. Putusan itu murni dari majelis hakim dengan sejumlah pertimbangan.

“Ada beberapa pertimbangan dari majelis hakim, hingga menjatuhkan vonis tersebut,” bebernya.

Menurutnya, ada hal yang meringankan terdakwa. Yaitu, dia mengakui perbuatannya.

Juga ada hal yang memberatkan terdakwa. “Perbuatan terdakwa merusak masa depan anak,” imbuhnya.

Vonis berat yang dijatuhkan hakim tersebut, membuat pihak keluarga merasa puas. Irma Nofita, ibu korban mengaku putusan itu pantas didapatkan terdakwa. Karena, apa yang dilakukannya telah merusak masa depan anaknya.

“Kami puas. Hakim telah memvonis terdakwa dengan hukuman berat,” terang warga Cukurguling, Kecamatan Lumbang itu.

Irma mengaku, ia dan keluarga serta warga Lumbang sengaja datang ke PN Bangil, kemarin untuk menyaksikan putusan sidang. Meski kenyataannya, sidang tersebut harus dilakukan dengan virtual lantaran pandemi Covid-19 yang belum berakhir.

“Kami tidak unjuk rasa. Kami hanya ingin menyaksikan jalannya sidang,” urainya.

Meski mengaku tidak unjuk rasa, kemarin Irma bersama warga Lumbang datang dengan membawa sejumlah poster. Isinya menuntut terdakwa dihukum seberat-beratnya karena memperkosa korban.

Ada sekitar 30 warga Lumbang yang datang PN Bangil, kemarin. Mereka menunggu di PN Bangil, sebab sidang virtual hanya bisa diikuti perwakilan keluarga. Dan begitu sidang selesai, mereka pun pulang.

Kasus pemerkosaan itu sendiri sempat menyita perhatian. Sebab, korbannya NY, masih berumur 13 tahun. Sementara terdakwa, Janto Bintoro sudah berusia 40 tahun. Dia bahkan paman ipar dari korban.

Kasus pemerkosaan itu menimpa korban pada 12 Oktober 2020. Orang tua korban yang tidak tidak terima lantas melaporkan pemerkosaan itu ke Polsek Lumbang.

Meski dilaporkan, tak serta merta terdakwa langsung ditahan. Empat hari kemudian, terdakwa baru ditangkap setelah warga mendemo Polsek Lumbang.

Dalam proses persidangan pun, pihak keluarga sempat berunjuk rasa. Mereka meminta pergantian majelis hakim. Juga mendesak agar terdakwa dihukum setimpal.

Sebab, sempat disebut-sebut ada perlakuan tak menyenangkan dari hakim saat sidang. Hakim sempat melempar palu ke pendamping korban, bahkan marah-marah. Akhirnya, memicu trauma kepada korban. Hal inilah yang kemudian dipersoalkan pihak keluarga. (one/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/