Lima Dusun di Gempol Terendam Banjir, 2.300 KK Terdampak  

GEMPOL, Radar BromoKawasan Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, belum bisa lepas dari bencana banjir. Sejak Rabu (22/1) malam hingga Kamis (23/1), sejumlah wilayah setempat kembali terendam.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, terdapat lima dusun terdampak banjir. Yakni, di Dusun Gempol Joyo, Patuk, Gempol, Wonoayu, dan Tanjung.

Hingga Kamis petang (23/1), sejumlah rumah warga pun masih terendam. “Air mulai naik dan menggenangi rumah warga pada Rabu malam (22/1) hingga Kamis dini hari (23/1). Hal itu usai kawasan setempat diguyur hujan deras,” ujar Plt Camat Gempol Nasir.

Ketinggian banjir di sejumlah rumah warga pun bervariasi. Mulai sekitar 10-50 sentimeter. Kemarin pagi (23/1), sejumlah petugas dan sukarelawan bergerak secara maraton mendatangi rumah warga yang terdampak banjir.

Mulai dari pemerintahan desa dan kecamatan, polsek, Koramil Gempol, hingga BPBD setempat. Tak hanya melakukan pendataan, petugas juga mendistribusikan sejumlah bantuan berupa nasi bungkus, obat-obatan, mi instan, selimut, pakaian, dan lain-lain.

“Untuk rumah warga yang terdampak, ada sekitar 2.300 KK (kepala keluarga). Pada Kamis (23/1) siang. Sore tadi (kemarin) mulai berangsur surut. Ini banjir tahun kelima secara berturut-turut di Desa Gempol sejak 2015 lalu,” beber Nasir.

Sejumlah bantuan pun terus berdatangan kemarin. “Semua bantuan yang datang, ditempatkan di Kantor Desa Gempol. Di lokasi, kami juga mendirikan dapur umum,” imbuhnya.

Dikonfirmasi terpisah, Plt Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan Tectona Jati menjelaskan, banjir yang terjadi di Desa Gempol dipengaruhi sejumlah faktor. Selain imbas curah hujan yang tinggi, juga dipicu sungai yang melintas di desa setempat tak mampu menampung volume air hujan. Sehingga, meluber dan merendam ribuan rumah warga.

Selain itu, letak Desa Gempol berada di wilayah cekungan. Beberapa wilayah yang ada, lebih rendah dari saluran air dan sungai yang ada. Sehingga, saat hujan lebat turun dan berlangsung lama, banjir terjadi dan tak bisa dielakkan.

“Faktor dan penyebabnya sama dengan banjir di tahun sebelumnya. Meskipun normalisasi sudah sering dilakukan, tetap saja terjadi. Selain itu, banjir juga dari sumbangsih sampah rumah tangga,” terang Tectona. (zal/mie)