Idul Adha 2018, Aktivitas Sejumlah RPH Pasuruan Menurun

PURWOREJO – Perayaan Idul Adha membuat aktivitas Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Kota dan Kabupaten Pasuruan menurun. Pasalnya, rata-rata masyarakat menyembelih hewan kurban di masjid, kantor, lembaga, maupun rumah pribadi. Meski cenderung sepi, namun RPH tetap membuka pelayanan bagi masyarakat.

Hal itu disampaikan Muhammad Syaifi, pelaksana tugas (Plt) kepala UPT RPH Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pasuruan. “Berbeda dengan hari biasa, dimana pemotongan sapi memang dilakukan di RPH. Namun, 10 RPH yang kami miliki tetap akan membuka pelayanan,” terangnya.

Hingga Selasa (21/8), tercatat di RPH Gondangwetan ada 11 sapi yang dititipkan di RPH setempat untuk kandang transit. Namun, tadi malam sudah dikirim kembali ke masjid untuk disembelih. Sedangkan di RPH lain seperti RPH Gempol, Bangil, dan Purwosari, ada yang sudah tercatat untuk dipotong di sana.

“Sampai saat ini (Selasa), tercatat masih 3 RPH yang ada pemotongan hewan kurban. RPH Gempol ada 4 sapi, RPH Bangil ada 30 sapi, dan RPH Purwosari sudah ada yang pesan di hari kedua,” jelasnya. Jumlah tersebut kemungkinan masih bertambah. Seiring pelaksanaan kurban yang dijalankan selama 3 hari.

“Karena kurban yang kami sembelih dipastikan Aman, Sehat, Utuh, dan Halal dan kami langsung periksa baik antemortem (sebelum disembelih) dan postmortem-nya (setelah disembelih),” jelasnya.

Sementara itu, di Kota Pasuruan, RPH milik pemkot mulai dibanjiri permintaan pemotongan hewan kurban. Namun, permintaan tahun ini terbilang masih stagnan dibandingkan tahun lalu.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Pasuruan Edy Ana mengungkapkan, RPH meneriman permintaan pemotongan hewan kurban sebanyak 19 ekor. Rinciannya, 14 ekor sapi dan 5 ekor kambing. Tahun lalu, ada 12 ekor sapi dan 10 ekor kambing yang disembelih di RPH.

“Kalau sapi ada kenaikan, namun kambing menurun. Angka ini masih belum final. Sebab, ini permintaan yang masuk sampai hari ini (Selasa). Kami masih melayani sampai hari tasyrik,” jelasnya.

Ia menjelaskan, optimalisasi RPH saat hari raya kurban sebagai upaya pemkot agar pemotongan hewan di Kota Pasuruan sesuai dengan prosedur dan higienis. Namun, pemkot tidak bisa memaksa setiap warga Kota Pasuruan untuk memotong hewan kurban di RPH.

Untuk pemotongan sapi ditarik retribusi sebesar Rp 17 ribu per ekor, sementara kambing tidak ditarik retribusi. Stagnannya permintaan pemotongan hewan di RPH ini, disebabkan banyak masyarakat yang lebih memilih untuk memotong sendiri. “RPH ini cuma sebagai kontrol kami. Namun, tetap saja kami tidak bisa memaksa warga untuk melakukan pemotongan di RPH,” terang mantan Camat Bugulkidul ini. (eka/riz/rf)