Eks Ketua PSSI Dituntut 8 Tahun dan Denda Rp 300 Juta

PASURUAN, Radar Bromo – Mantan Ketua PSSI Askot Pasuruan Edy Hari Respati Setiawan alias Didik dituntut hukuman delapan tahun pidana penjara. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Pasuruan juga menuntut denda Rp 300 juta subsider 6 bulan kurungan penjara.

Selain hukuman pokok dan denda, Didik dituntut mengembalikan uang pengganti senilai Rp 3,88 miliar. Dengan ketentuan, uang pengganti itu harus dikembalikan ke negara paling lama satu bulan setelah putusan inkracht atau berkekuatan hukum tetap.

“Apabila uang pengganti tidak dikembalikan, maka harta benda terdakwa disita dan dilelang untuk negara. Namun, apabila masih tidak mencukupi, diganti pidana selama empat tahun penjara,” terang JPU Widodo Pamudji dalam tuntutannya, Kamis (20/2).

JPU juga menilai terdakwa terbukti melakukan tindak pidana korupsi dana hibah KONI Kota Pasuruan untuk PSSI pada 2015. Dana hibah senilai Rp 4,4 miliar itu, sedianya diberikan untuk delapan kegiatan PSSI.

Tetapi, terdakwa yang menjadi nakhoda PSSI saat itu hanya melaksanakan tiga kegiatan. Yaitu, Porprov Jawa Timur 2015, kegiatan rutin PSSI, dan Piala Kemerdekaan 2015.

Lima kegiatan lainnya dinyatakan fiktif. Antara lain pembinaan usia remaja, kompetisi U-12 dan U-17, pembinaan klub internal, dan tim futsal di Kota Pasuruan.

Atas perbuatannya, Didik dianggap bertanggung jawab atas kerugian negara senilai Rp 3,88 miliar. “Perbuatan terdakwa terbukti melanggar pasal 2 ayat 1 UU Nomor 31/1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20/2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, juncto pasal 64 ayat 1 KUHP,” pungkas Widodo.

Sementara itu, Sudiono kuasa hukum Didik Respati menegaskan, tuntutan pada kliennya terlalu berat. Padahal dalam fakta persidangan sudah diketahui aliran dana itu ke siapa saja. “Kan aliran dana itu tidak dinikmati klien kami sendiri. Selebihnya nanti kami sampaikan dalam pledoi,” tuturnya. (tom/hn/fun)