alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Wednesday, 25 May 2022

Maulana Aditya, Penyandang Tunarungu yang Aktif Jadi Pembicara Sesama

Lahir dengan kondisi tidak bisa mendengar, membuat Maulana Aditya harus berjuang keras agar bisa berkomunikasi dengan sesama. Kendati terbatas, dia mampu membuktikan bisa kuliah di Universitas Brawijaya, Malang. Bahkan, rutin menjadi pembicara atau narasumber.

 MAULANA Aditya, 24, tampak aktif memperagakan bahasa isyarat. Mulai halo, sedih, senang, sampai ucapan selamat tinggal di aula Kantor Kecamatan Purworejo.

Dia memang tak bisa mendengar dan berbicara. Namun, dengan bahasa isyarat, dirinya menjadi pembicara di depan teman dengar. Tujuannya, agar mereka yang normal bisa mengerti dan memahami cara berkomunikasi dengan teman tuli.

Adit –panggilannya- mengaku, mulai senang “berbicara” di depan umum sejak tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Brawijaya, Malang. Baginya, bisa kuliah dengan kondisi terbatas adalah kebanggaan tersendiri.

“Karena teman-teman disabilitas tak semuanya mampu memiliki kesempatan untuk bisa kuliah,” jelas warga Gading, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan ini pada Jawa Pos Radar Bromo.

Tentu saja Adit bercerita dengan bahasa isyarat. Di sampingnya, ada teman dari UB yang menjadi penerjemah. Dia adalah Yanda Maria, 24, warga Sidoarjo.

Adit bercerita, tidak bisa mendengar sejak kecil membuat dirinya mendapatkan perlakuan diskriminatif. Bahkan, dari keluarganya sendiri. Orang tuanya bahkan tidak belajar bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan dirinya.

“Dulu orang tua kalau menyuruh makan, ya pakai bahasa isyarat tangan dimasukkan ke mulut. Jadi, saya tidak bisa berkomunikasi sama sekali sampai akhirnya masuk SDLB di Kota Pasuruan,” terangnya.

Saat SD itulah, Adit mulai belajar berkomunikasi dengan bahasa Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) sesuai kurikulum Nasional. Sayangnya, bahasa ini hanya bisa dilakukan dengan sesama teman tuli atau di sekolah saja.

“Sedangkan di rumah, justru dapat stigma negatif. Keluarga justru malu saya pakai bahasa isyarat yang katanya aneh dilihat orang,” terangnya.

Saat lulus SMALB, Adit sempat ditentang saat ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Niat Adit saat itu hanya ingin terus belajar dan mendapatkan pengetahuan baru.

“Kalau orang tua ingin saya bekerja ikut mereka yang punya usaha beras. Tapi saya gak mau. Saya ngotot ingin kuliah dan akhirnya diperbolehkan,” terangnya.

Adit pun mendaftar di Universitas Brawijaya Malang. Sebab, UB memang menerima pelajar disabilitas. Tes masuk pun berbeda. Ada tes tulis, tes psikologi, tes gambar, wawancara, dan sebagainya yang membuktikan bahwa calon mahasiswa bisa mandiri berkuliah di sana.

“Saya lulus tes dan akhirnya kuliah di Jurusan Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian,” terangnya.

Selama perkuliahan, ada teman pendamping agar mahasiswa dapat menerima pembelajaran. Menjadi mahasiswa dan merantau di Malang, anak sulung dari lima bersaudara ini mengaku banyak mendapatkan pengalaman baru sebagai penyandang tuli.

“Yang paling baru saya kenal bahasa Bisindo, jadi bahasa isyarat ini lebih ekspresif bagi saya. Dan tiap daerah bisa berbeda tergantung karakteristik daerahnya,” terangnya.

Bahkan, Adit aktif dalam kegiatan organisasi tuli di Malang. Selain menjadi ketua bidang kepemudaan di DPC Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Kota Malang, juga aktif di Komunitas Akar Tuli Malang.

Dari aktif di organsasi dan komunitas tuli, Adit banyak mendapatkan teman dan pengalaman baru. Bahkan, dia sering diundang menjadi pembicara untuk teman-teman tuli sebayanya di berbagai kegiatan.

“Termasuk yang berkesan, pernah ketemu dengan Surya Sahetapy, aktivis tuli Indonesia dan ketemu dengan teman tuli lainnya se-Indonesia,” terangnya.

Saat ini sebagai mahasiswa di semester 11, Adit mengatakan setelah lulus ada cita-cita yang ingin dilakukan. “Sebenarnya ingin jadi penerjemah tuli seperti di TV. Tapi, juga ada keinginan berbisnis seperti orang tua. Yang pasti ingin kembali ke Pasuruan untuk membuat Gerkatin di sini. Sebab, di Pasuruan masih belum ada,” terangnya.

Di Pasuruan sendiri kurang lebih ada 80 penyandang tuli yang terdata. Saat ini mereka bertemu hanya sebatas pertemanan dan komunitas saja.

“Sedangkan kalau Gerkatin ini kan organisasi resmi. Selain bisa mewadahi juga bisa banyak membuat kegiatan yang tujuannya untuk teman tuli. Juga sosialisasi ke teman dengar agar bisa lebih menghargai dan tidak ada lagi diskriminasi bagi teman-teman penyandang disabilitas,” ujarnya. (eka/fun)

Lahir dengan kondisi tidak bisa mendengar, membuat Maulana Aditya harus berjuang keras agar bisa berkomunikasi dengan sesama. Kendati terbatas, dia mampu membuktikan bisa kuliah di Universitas Brawijaya, Malang. Bahkan, rutin menjadi pembicara atau narasumber.

 MAULANA Aditya, 24, tampak aktif memperagakan bahasa isyarat. Mulai halo, sedih, senang, sampai ucapan selamat tinggal di aula Kantor Kecamatan Purworejo.

Dia memang tak bisa mendengar dan berbicara. Namun, dengan bahasa isyarat, dirinya menjadi pembicara di depan teman dengar. Tujuannya, agar mereka yang normal bisa mengerti dan memahami cara berkomunikasi dengan teman tuli.

Adit –panggilannya- mengaku, mulai senang “berbicara” di depan umum sejak tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Brawijaya, Malang. Baginya, bisa kuliah dengan kondisi terbatas adalah kebanggaan tersendiri.

“Karena teman-teman disabilitas tak semuanya mampu memiliki kesempatan untuk bisa kuliah,” jelas warga Gading, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan ini pada Jawa Pos Radar Bromo.

Tentu saja Adit bercerita dengan bahasa isyarat. Di sampingnya, ada teman dari UB yang menjadi penerjemah. Dia adalah Yanda Maria, 24, warga Sidoarjo.

Adit bercerita, tidak bisa mendengar sejak kecil membuat dirinya mendapatkan perlakuan diskriminatif. Bahkan, dari keluarganya sendiri. Orang tuanya bahkan tidak belajar bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan dirinya.

“Dulu orang tua kalau menyuruh makan, ya pakai bahasa isyarat tangan dimasukkan ke mulut. Jadi, saya tidak bisa berkomunikasi sama sekali sampai akhirnya masuk SDLB di Kota Pasuruan,” terangnya.

Saat SD itulah, Adit mulai belajar berkomunikasi dengan bahasa Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) sesuai kurikulum Nasional. Sayangnya, bahasa ini hanya bisa dilakukan dengan sesama teman tuli atau di sekolah saja.

“Sedangkan di rumah, justru dapat stigma negatif. Keluarga justru malu saya pakai bahasa isyarat yang katanya aneh dilihat orang,” terangnya.

Saat lulus SMALB, Adit sempat ditentang saat ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Niat Adit saat itu hanya ingin terus belajar dan mendapatkan pengetahuan baru.

“Kalau orang tua ingin saya bekerja ikut mereka yang punya usaha beras. Tapi saya gak mau. Saya ngotot ingin kuliah dan akhirnya diperbolehkan,” terangnya.

Adit pun mendaftar di Universitas Brawijaya Malang. Sebab, UB memang menerima pelajar disabilitas. Tes masuk pun berbeda. Ada tes tulis, tes psikologi, tes gambar, wawancara, dan sebagainya yang membuktikan bahwa calon mahasiswa bisa mandiri berkuliah di sana.

“Saya lulus tes dan akhirnya kuliah di Jurusan Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian,” terangnya.

Selama perkuliahan, ada teman pendamping agar mahasiswa dapat menerima pembelajaran. Menjadi mahasiswa dan merantau di Malang, anak sulung dari lima bersaudara ini mengaku banyak mendapatkan pengalaman baru sebagai penyandang tuli.

“Yang paling baru saya kenal bahasa Bisindo, jadi bahasa isyarat ini lebih ekspresif bagi saya. Dan tiap daerah bisa berbeda tergantung karakteristik daerahnya,” terangnya.

Bahkan, Adit aktif dalam kegiatan organisasi tuli di Malang. Selain menjadi ketua bidang kepemudaan di DPC Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Kota Malang, juga aktif di Komunitas Akar Tuli Malang.

Dari aktif di organsasi dan komunitas tuli, Adit banyak mendapatkan teman dan pengalaman baru. Bahkan, dia sering diundang menjadi pembicara untuk teman-teman tuli sebayanya di berbagai kegiatan.

“Termasuk yang berkesan, pernah ketemu dengan Surya Sahetapy, aktivis tuli Indonesia dan ketemu dengan teman tuli lainnya se-Indonesia,” terangnya.

Saat ini sebagai mahasiswa di semester 11, Adit mengatakan setelah lulus ada cita-cita yang ingin dilakukan. “Sebenarnya ingin jadi penerjemah tuli seperti di TV. Tapi, juga ada keinginan berbisnis seperti orang tua. Yang pasti ingin kembali ke Pasuruan untuk membuat Gerkatin di sini. Sebab, di Pasuruan masih belum ada,” terangnya.

Di Pasuruan sendiri kurang lebih ada 80 penyandang tuli yang terdata. Saat ini mereka bertemu hanya sebatas pertemanan dan komunitas saja.

“Sedangkan kalau Gerkatin ini kan organisasi resmi. Selain bisa mewadahi juga bisa banyak membuat kegiatan yang tujuannya untuk teman tuli. Juga sosialisasi ke teman dengar agar bisa lebih menghargai dan tidak ada lagi diskriminasi bagi teman-teman penyandang disabilitas,” ujarnya. (eka/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/