alexametrics
27.4 C
Probolinggo
Monday, 15 August 2022

Sapi Brujul Kota Probolinggo Jadi Warisan Budaya

KANIGARAN, Radar Bromo- Seni Tradisi Karapan Sapi Brujul akhirnya masuk dalam warisan budaya tak benda Kota Probolinggo. Kepastian ini diperoleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Probolinggo, Jumat (16/8).

Kepala Disbudpar Kota Probolinggo Tutang Heru Aribowo mengaku, sebelumnya pihaknya telah mengikuti serangkaian proses di Kementerian Pariwisata RI. “Sapi Brujul telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Kota Probolinggo. Sebelumnya, ada Kesenian Jaran Bodhag sudah masuk Warisan Budaya Tak Benda juga,” ujarnya, Senin (19/8).

Tutang mengatakan, pengajuan ini dilakukan ke Kementerian Pariwisata agar Sapi Brujul masuk warisan budaya tak benda sejak 5 bulan lalu. Segala persyaratannya juga disiapkan. Seperti sejarah Sapi Brujul serta jadwal kegiatannya di Kota Probolinggo. “Kemudian, tanggal 14-16 Agustus kami ke Kementerian Pariwisata untuk mengikuti sidang penetapan Warisan Budaya Tak Benda,” ujarnya.

Menurutnya, dalam sidang itu, tim Disbudpar berhadapan dengan sekitar 17 orang ahli seni dan budaya. Mereka menguji Sapi Brujul apakah sudah sesuai untuk masuk dalam warisan budaya tak benda. “Termasuk membandingkan Sapi Brujul dengan tradisi di daerah lain,” ujarnya.

Pasca penetapan Sapi Brujul sebagai warisan budaya tak benda, Disbudpar menargetkan seni tradisi ini bisa menjadi event nasional, seperti karapan sapi merah di Madura. “Tapi, kami tidak ngoyo untuk target itu. Mengingat, untuk mencapai target itu harus diimbangi dengan fasilitas yang memadai,” ujarnya.

Seperti fasilitas akses transportasi menuju tempat pelaksanaan kerapan Sapi Brujul dan ketersediaan tempat parkir kendaraan yang memadai. “Kami saat ini sudah mempunyai tempat untuk lapangan Sapi Brujul. Tapi, untuk akses ke sana masih sempit,” ujarnya.

Selain itu, Disbudpar juga mendapatkan saran dari Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Timur terkait akses fasilitas lapangan Sapi Brujul. “Sarannya, agar di sekitar lapangan Sapi Brujul tidak dibangun, tapi dibiarkan alami sebagai daerah persawahan,” ujar Tutang. (put/fun)

KANIGARAN, Radar Bromo- Seni Tradisi Karapan Sapi Brujul akhirnya masuk dalam warisan budaya tak benda Kota Probolinggo. Kepastian ini diperoleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Probolinggo, Jumat (16/8).

Kepala Disbudpar Kota Probolinggo Tutang Heru Aribowo mengaku, sebelumnya pihaknya telah mengikuti serangkaian proses di Kementerian Pariwisata RI. “Sapi Brujul telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Kota Probolinggo. Sebelumnya, ada Kesenian Jaran Bodhag sudah masuk Warisan Budaya Tak Benda juga,” ujarnya, Senin (19/8).

Tutang mengatakan, pengajuan ini dilakukan ke Kementerian Pariwisata agar Sapi Brujul masuk warisan budaya tak benda sejak 5 bulan lalu. Segala persyaratannya juga disiapkan. Seperti sejarah Sapi Brujul serta jadwal kegiatannya di Kota Probolinggo. “Kemudian, tanggal 14-16 Agustus kami ke Kementerian Pariwisata untuk mengikuti sidang penetapan Warisan Budaya Tak Benda,” ujarnya.

Menurutnya, dalam sidang itu, tim Disbudpar berhadapan dengan sekitar 17 orang ahli seni dan budaya. Mereka menguji Sapi Brujul apakah sudah sesuai untuk masuk dalam warisan budaya tak benda. “Termasuk membandingkan Sapi Brujul dengan tradisi di daerah lain,” ujarnya.

Pasca penetapan Sapi Brujul sebagai warisan budaya tak benda, Disbudpar menargetkan seni tradisi ini bisa menjadi event nasional, seperti karapan sapi merah di Madura. “Tapi, kami tidak ngoyo untuk target itu. Mengingat, untuk mencapai target itu harus diimbangi dengan fasilitas yang memadai,” ujarnya.

Seperti fasilitas akses transportasi menuju tempat pelaksanaan kerapan Sapi Brujul dan ketersediaan tempat parkir kendaraan yang memadai. “Kami saat ini sudah mempunyai tempat untuk lapangan Sapi Brujul. Tapi, untuk akses ke sana masih sempit,” ujarnya.

Selain itu, Disbudpar juga mendapatkan saran dari Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Timur terkait akses fasilitas lapangan Sapi Brujul. “Sarannya, agar di sekitar lapangan Sapi Brujul tidak dibangun, tapi dibiarkan alami sebagai daerah persawahan,” ujar Tutang. (put/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/