alexametrics
28.1 C
Probolinggo
Wednesday, 17 August 2022

RSUD Tongas Tepis Tudingan Pengondisian untuk Dapat Anggaran Covid

TONGAS, Radar Bromo – RSUD Tongas membantah tudingan ada pengondisian oleh pihaknya untuk mendapat anggaran Covid-19. Tudingan itu dilontarkan sejumlah pihak setelah warga Desa Sumendi, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, melurug RSUD Tongas, Sabtu (18/7) malam.

Dirut RSUD Tongas dr. Hariawan Dwi Tamtama menjelaskan, banyak tudingan miring kepada tenaga medis tentang pengondisian pasien Covid-19 demi mendapat anggaran. Termasuk tudingan ke RSUD Tongas, menyusul protes yang dilakukan warga Desa Sumendi ke RSUD.

“Banyak hal yang saya dengar dari laporan teman-teman. Ada yang beranggapan agar bisa mendapatkan dana Covid-19 dan lainnya. Itu tidak benar, sampai saat ini kami tidak pernah mendapatkan sepeser pun dari pasien Covid-19. Selain itu juga dana insentif belum ada,” katanya.

Menurutnya, sikap warga dipicu oleh ketidaktahuan mereka tentang wabah yang saat ini sedang melanda. Terlebih lagi, ada sejumlah pemberitaan di media sosial mengenai adanya permainan rumah sakit.

“Hal inilah yang membuat masyarakat kita jadi sakit, sehingga tidak lagi berpikir jernih dan positif,” katanya.

Padahal, kalau banyak masyarakat yang tertular Covid-19, menurutnya, mereka pasti akan datang ke tenaga medis juga. “Kami tulus membantu. Kami juga dituntut menjaga agar tidak tejadi penularan. Tapi, kalau masyarakat tidak mau memahami kondisi yang ada, maka jumlah pasien yang tertular akan semakin banyak. Kami capek dan lelah. Jadi, kami berharap masyarakat juga bisa bantu,” beber Hariawan.

Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto yang juga jubir Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo. Menurutnya, masyarakat saat ini terlalu banyak dicekoki oleh hal-hal yang tidak jelas. Karena ketidaktahuan tentang wabah yang ada, serta kebosanan atas wabah Covid-19, warga jadi tidak percaya akan adanya virus ini. Ditambah lagi dengan frame yang dibangun media sosial sehingga pemahaman mereka berubah.

Yang jelas, lanjut Anang, jika nanti hasil swab atas jenazah AN positif, maka semua warga yang ikut akan di-tracing. “Jika nantinya hasil tes swab positif, maka kami akan tracing,” katanya. (rpd/hn)

TONGAS, Radar Bromo – RSUD Tongas membantah tudingan ada pengondisian oleh pihaknya untuk mendapat anggaran Covid-19. Tudingan itu dilontarkan sejumlah pihak setelah warga Desa Sumendi, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, melurug RSUD Tongas, Sabtu (18/7) malam.

Dirut RSUD Tongas dr. Hariawan Dwi Tamtama menjelaskan, banyak tudingan miring kepada tenaga medis tentang pengondisian pasien Covid-19 demi mendapat anggaran. Termasuk tudingan ke RSUD Tongas, menyusul protes yang dilakukan warga Desa Sumendi ke RSUD.

“Banyak hal yang saya dengar dari laporan teman-teman. Ada yang beranggapan agar bisa mendapatkan dana Covid-19 dan lainnya. Itu tidak benar, sampai saat ini kami tidak pernah mendapatkan sepeser pun dari pasien Covid-19. Selain itu juga dana insentif belum ada,” katanya.

Menurutnya, sikap warga dipicu oleh ketidaktahuan mereka tentang wabah yang saat ini sedang melanda. Terlebih lagi, ada sejumlah pemberitaan di media sosial mengenai adanya permainan rumah sakit.

“Hal inilah yang membuat masyarakat kita jadi sakit, sehingga tidak lagi berpikir jernih dan positif,” katanya.

Padahal, kalau banyak masyarakat yang tertular Covid-19, menurutnya, mereka pasti akan datang ke tenaga medis juga. “Kami tulus membantu. Kami juga dituntut menjaga agar tidak tejadi penularan. Tapi, kalau masyarakat tidak mau memahami kondisi yang ada, maka jumlah pasien yang tertular akan semakin banyak. Kami capek dan lelah. Jadi, kami berharap masyarakat juga bisa bantu,” beber Hariawan.

Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto yang juga jubir Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo. Menurutnya, masyarakat saat ini terlalu banyak dicekoki oleh hal-hal yang tidak jelas. Karena ketidaktahuan tentang wabah yang ada, serta kebosanan atas wabah Covid-19, warga jadi tidak percaya akan adanya virus ini. Ditambah lagi dengan frame yang dibangun media sosial sehingga pemahaman mereka berubah.

Yang jelas, lanjut Anang, jika nanti hasil swab atas jenazah AN positif, maka semua warga yang ikut akan di-tracing. “Jika nantinya hasil tes swab positif, maka kami akan tracing,” katanya. (rpd/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/