Harga Cabai yang Tinggi Diprediksi sampai Akhir Juli

KANIGARAN – Harga cabai rawit di sejumlah pasar Kota Probolinggo masih tinggi. Hal ini tidak lepas karena pasokan cabai rawit ke pasar sedikit.

Ini juga diakui Subagyo, kepala Bidang Perdagangan, Dinas Koperasi, usaha Mikro, perdagangan dan perindustrian (DKUPP) Kota Probolinggo. “Harga cabai rawit masih tinggi. Sekarang kisaran Rp 65 ribu sampai Rp 70 ribu per kg,” ujarnya, Jumat (19/7).

Subagyo menjelaskan, harga cabai di Pasar Baru mencapai Rp 70 ribu per kg. Sedangkan di Pasar Kronong dan Pasar Wonoasih mencapai Rp 65 ribu per kg.

“Tingginya harga cabai rawit ini karena stok di petani kosong. Tanaman cabai sudah banyak yang dicabut. Perkiraan kondisi ini akan terjadi sampai akhir Juli atau awal Agustus,” ujarnya.

Sementara itu Adenan, kepala Badan Pusat Statistik Kota Probolinggo mengungkapkan bahwa saat ini harga komoditas pangan yang melejit adalah cabai rawit. “Saat ini harga cabai rawit kisaran Rp 65 ribu sampai Rp 70 ribu per kg. melejitnya harga cabai rawit ini bisa mempengaruhi terjadinya inflasi maupun deflasi,” ujarnya.

Adenan menjelaskan inflasi bisa terjadi jika harga cabai rawit bulan Juli lebih tinggi daripada harga cabai rawit di bulan Juni. Sebaliknya bisa terjadi deflasi, jika harga cabai rawit di bulan Juli lebih rendah daripada bulan Juni.

“Jika harga cabai bulan juli lebih rendah daripada JUni kota Probolinggo bisa mengalami deflasi,” jelasnya.

Seperti telah diberitakan sebelumnya, sejak awal Juli harga cabai rawit di Kota Probolinggo terus meroket. Kenaikan harga ini tidak lepas dari minimnya stok cabai rawit dari petani. Sementara itu stok cabai rawit di Kota Probolinggo banyak didatangkan dari luar Kota Probolinggo, seperti dari Kabupaten Probolinggo.

Akibat tingginya harga cabai rawit ini membuat pedagang makanan yang membutuhkan cabai rawit untuk sambal mencampur bahan sambal dengan cabai kering dari India. Harga cabai kering dari India lebih terjangkau daripada harga cabai rawit lokal. (put/fun)