alexametrics
31.5 C
Probolinggo
Friday, 30 October 2020

Kades Oro-oro Ombo di Rembang Dipolisikan Pengusaha Karena Diduga Jual-Beli Tanah, Apa Pembelaannya?

REMBANG, Radar Bromo – Kepala Desa Oro-oro Ombo Kulon, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, Hariyono tersandung masalah. Ia dilaporkan ke Polda Jatim lantaran dugaan penipuan dan penggelapan dalam jual-beli tanah yang dilakukannya.

Laporan itu dilayangkan oleh Ferdian Adi Mulyo Mahendro, pengusaha pertambangan asal Surabaya. Ferdian menilai, kades melakukan penipuan dan penggelapan yang terstruktur atas pembelian tanah yang dilakukannya. Akibatnya, uang ratusan juta yang telah disetorkannya pun raib.

Bahkan, Ferdian menilai dugaan penipuan dan penggelapan itu melibatkan kepala desa dan BPD setempat. Hal inilah yang membuatnya melaporkan masalah itu ke Polda Jatim. “Kami sudah laporkan ke Polda,” kata Ferdian.

Kasus ini bermula saat dirinya hendak membuka usaha tambang di Desa Oro-oro Ombo Kulon, Kecamatan Rembang, pada tahun 2017. Saat itu ada lahan kurang lebih 4 hektare yang akan dibelinya. Lahan yang diklaim milik Saiful itu, hendak dibelinya dengan harga sekitar Rp 800 juta.

“Kami sempat mencari kabar terkait tanah itu. Oleh BPD setempat, atas nama Hojin, kami kemudian diajak ke kepala desa. Kami minta berkas lahan tambang itu, biar jelas,” bebernya.

Ferdian lantas dipertemukan dengan pemilik lahan, yaitu Saiful. Dalam pertemuan itu, sebenarnya ia merasakan ada kejanggalan. Sebab, kepala desa dinilainya kurang terbuka tentang riwayat lahan.

Namun, ia tetap berusaha memakluminya. Apalagi, kepala desa terus berusaha meyakinkan dirinya. Bahkan, pihak kepala desa berani menjamin bahwa lahan tersebut tidak bermasalah.

“Karena kades menjamin tidak akan ada masalah, makanya kami menyanggupi. Sejumlah uang kami berikan untuk pembelian tanah,” ujarnya.

Ferdian mengklaim, uang tersebut diberikannya secara bertahap melalui transfer. Ia mentransfer ke rekening atas nama Hariyono. Bahkan, ada kuitansi pembayarannya.

Uang yang ditransfer, menurut Ferdian, bukan hanya untuk membayar pembelian tanah. Namun, juga untuk hal lain. Seperti administrasi pembelian tanah tersebut. Totalnya, mencapai Rp 400 juta.

Hingga beberapa waktu kemudian, pihaknya hendak memulai aktivitas penambangan. Penambangan dilakukan karena berdasarkan perjanjian yang dibuat, dirinya diperkenankan menambang saat sudah membayar separo harga tanah.

Alat berat pun diturunkan. Namun, saat hendak melakukan penambangan, ia dihadang dan dilarang warga. “Kami tidak boleh melakukan penambangan. Padahal, uang sudah saya bayarkan,” sambungnya.

Kasus ini terus berjalan tanpa ada kepastian. Merasa gerah, ia pun memilih jalur hukum. Ia merasa, ada tindakan penipuan yang terstruktur atas kasus ini. Diduga kuat, kepala desa, menjadi orang yang harus bertanggung jawab. Karena menjadi penjamin atas tanah yang dibelinya saat awal-awal transaksi.

Kepala Desa Oro-oro Ombo Kulon, Kecamatan Rembang, Hariyono tak mau begitu saja disalahkan. Ia mengakui, memang ada laporan yang masuk atas nama dirinya ke Polda Jatim. Bahkan, ia juga sempat diperiksa.

Dalam pemeriksaan ke petugas, ia pun memberi penjelasan. “Saya memang sudah dipanggil ke Polda Jatim. Saya pun memberikan penjelasan dengan sebenarnya,” beber dia.

Hariyono membeberkan, perkara itu bermula dari rencana pembelian lahan pertambangan di wilayah setempat. Lahan yang masih memiliki izin tambang itu, hendak dibeli oleh Ferdian. Rencana pembelian itu dilakukan di balai desa.

Dalam pertemuan itu, pihaknya sebagai saksi. Ferdian pun membayar uang sekitar Rp 150 juta. Namun, bukan untuk pembelian lahan. Melainkan untuk pengalihan dokumen perizinan tambang atas nama pemilik lahan tambang sebelumnya. Uang itu tidak dibayarkan padanya. Melainkan ke pemilik tambang sebelumnya.

Pihaknya juga mengakui, adanya transfer dana untuk administrasi proses peralihan kepemilikan tanah. Besarnya Rp 20 juta. Dana itu, ditransfer tiga kali. Keperuntukannya adalah pengurusan administrasi tanah hingga menuju sertifikat tanah.

“Uangnya masih ada. Kami tidak bisa memproses pengukuran atau administrasi hingga menuju sertifikat. Sebab, belum ada pembayaran tanah itu sama sekali,” beber Hariyono.

Ia menegaskan, sebenarnya pembeli belum membayar uang pembelian tanah sama sekali. Padahal, lahan yang hendak dibeli itu ada sebagian di antaranya milik orang lain. Yaitu, orang di luar penambang sebelumnya.

“Semua tanah itu belum dibayar sama sekali. Kalaupun ada, silakan tunjukan kepada saya. Biar saya proses surat atau akta jual beli tanahnya. Kalau uang belum masuk, bagaimana bisa saya memproses,” imbuh dia.

Pihaknya pun menunggu Ferdian membayar pembelian tanah tersebut hingga waktu lama. Namun, tidak ada pembayaran. Hingga akhirnya, ada rencana pengerukan lahan tersebut.

“Jelas warga tidak terima. Makanya, warga menolak. Karena belum ada pembayaran kok mau dikeruk,” sambung dia.

Selama menunggu bertahun-tahun itu pula, tidak ada komunikasi dari Ferdian kepadanya. Ujuk-ujuk, ada pelaporan. Hal ini jelas disesalkannya.

“Kalau ada komunikasi, mendingan. Sekian lama menunggu proses pembayaran dituntaskan ke pemilik, tidak kunjung dilakukan. Malah kini saya dilaporkan,” urainya. (one/hn/fun)

- Advertisement -
- Advertisement -

MOST READ

Siswi SDN di Kraksaan Lolos dari Penculikan, Ini Ciri-Ciri Pelaku

KRAKSAAN, Radar Bromo - Niat Cld, 13, berangkat sekolah, Rabu (12/2) pagi berubah menjadi kisah menegangkan. Siswi SDN Kandangjati Kulon 1, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo,...

Mau Ke Tretes, Muda-mudi Asal Gempol Tertabrak Truk Tangki di Candiwates, Penumpangnya Tewas

PRIGEN – Nasib sial dialami pasangan muda-mudi ini. Minggu siang (20/1) keduanya terlibat kecelakaan saat hendak menuju Tretes, Akibatnya, satu orang tewas dan satu...

Siswa MI di Pandaan Tewas Gantung Diri, Diduga usai Smartphonenya Disembunyikan Orang Tua

PANDAAN, Radar Bromo – Tragis nian cara AA, 11, mengakhiri hidupnya. Pelajar di Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan ini, ditemukan tewas, Minggu (17/11) pagi. Dia...

Geger Mayat Wanita di Pantai Pasir Panjang-Lekok, Kondisinya Terikat Tali dan Dikaitkan Batu

LEKOK, Radar Bromo - Temuan mayat dengan kondisi terikat, kembali menggegerkan warga. Rabu (18/9) pagi, mayat perempuan tanpa identitas ditemukan mengapung di Pantai Pasir...

BERITA TERBARU

Waspada Banjir di Kab Probolinggo, Dinas PUPR Pantau Pintu Air Ini

Mengingat hujan mulai turun, pemantauan pintu air lebih diintensifkan.

Sampah Sering Berserakan, Rencanakan TPS di Dekat Jembatan Krejengan

Keresahan warga Desa/Kecamatan Krejengan dan para pengendara yang melintasi jembatan di sana akan berakhir.

Long Weekend, Ketua PHRI: Okupansi Hotel di Pasuruan Naik 80 Persen

Okupansi hotel-hotel di Kabupaten Pasuruan naik hingga 80 persen, bahkan, diprediksi naik sampai hari Minggu nanti.

Polisi: Pelaku Curanmor di Petungasri Komplotan Spesialis

Para pelaku yang menggondol dua motor di Lingkungan Pasegan, Kelurahan Petungasri, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, terlihat cukup tenang ketika beraksi.

Tersisa Rehab 534 RTLH Belum Rampung di Kab Pasuruan

Sebanyak 2 ribu unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kabupaten Pasuruan bakal dibedah tahun ini.