alexametrics
29.4 C
Probolinggo
Tuesday, 16 August 2022

Tanggul Jebol, 600 KK di Dringu Terendam Banjir

DRINGU, Radar Bromo – Hujan deras yang turun Selasa sore (18/2) menyebabkan debit air sungai Kedungdalem, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo meningkat. Akibatnya, tanggul sungai di RT 3/RW 2, Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Dringu, jebol. Sebanyak 600 KK pun kebanjiran di tempat itu.

Tanggul jebol sekitar pukul 20.00. Mistari, 60, warga yang tinggal di dekat tanggul menceritakan sekitar pukul 19.30, aliran sungai mulai deras.

Kemudian, sekitar pukul 20.00, air sungai meluap dari tangkis tanggul. Malam itu juga, warga setempat kerja bakti memperkuat menutup tanggul. Tanpa disadari, sekitar pukul 20.15, tanggul sebelah utara jebol. Air sungai pun langsung mengalir ke rumah-rumah warga.

”Saya kaget dan takut, pas tanggul jebol. Langsung saya tarik istri dan lari mengungsi ke SDN Dringu. Malam itu saya lari dikejar air yang terus mengalir dari tanggul yang jebol,” kata kakek tiga cucu itu.

Jebolnya tanggul membuat akses jalan kabupaten di Desa Dringu Selasa malam itu lumpuh. Karena ketinggian air mencapai 60 sentimeter.

Rabu (19/2) banjir sudah surut. Menyisakan material lumpur yang begitu tebal di jalan kabupaten tersebut. Termasuk, akses jalan lingkungan di dua dusun hampir lumpuh. Sebab, tebalnya material lumpur membuat kondisi jalan licin untuk dilintasi.

”Air mulai menyusut sekitar pukul 10 malam ke atas. Terus saya dan warga lain langsung bersih-bersih rumah karena lumpurnya masuk rumah. Baru subuh selesai membersihkan lumpur sisa banjir di dalam rumah,” kata Mistono, 37, warga Dusun Krajan, Desa Dringu.

Kepala BPBD Kabupaten Probolinggo Anggit Hermanuadi saat dikonfirmasi mengatakan, ada dua desa yang terkena banjir di Kecamatan Dringu. Yaitu, Desa Dringu dan Desa Kedungdalem. ”Paling parah banjir terjadi di Desa Dringu,” ujarnya.

Di Kedungdalem, banjir terjadi karena luapan air sungai. Namun, air sungai itu tidak sampai masuk ke rumah-rumah warga.

Saat ditemui kemarin, Anggit mengatakan, banjir yang terjadi Selasa malam itu karena aliran sungai dari daerah selatan ke sungai Kedungdalem begitu deras dan tinggi. Kebetulan, sore harinya turun hujan dengan intensitas tinggi di sejumlah daerah atas. ”Sungai Kedungdalem itu besar. Tapi, karena tingginya aliran air sungai, sampai plengsengan atau tanggul di Desa Dringu itu jebol,” katanya.

Anggit menjelaskan, banjir yang terjadi di dua dusun karena jebolnya tanggul di Dusun Krajan. Dampaknya, air dari arah selatan itu tidak lagi mengalir ke sungai tapi langsung masuk ke permukiman warga. ”Kalau banjir di Desa Kedungdalem itu karena luapan air sungai yang masuk ke rumah warga,” tuturnya.

Banjir yang terjadi, diakui Anggit, cukup berdampak luas. Ada sekitar 600 KK atau rumah yang terdampak banjir. Hampir semua rumah warga sempat tergenang. Beruntungnya, banjir itu tidak sampai bermalam. Sekitar pukul 22.00, banjir mulai menyusut.

“Banjir itu perkiraan terjadi pukul 20.00. Dua jam kemudian, air banjir mulai menyusut,” katanya. (mas/hn/mie)

DRINGU, Radar Bromo – Hujan deras yang turun Selasa sore (18/2) menyebabkan debit air sungai Kedungdalem, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo meningkat. Akibatnya, tanggul sungai di RT 3/RW 2, Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Dringu, jebol. Sebanyak 600 KK pun kebanjiran di tempat itu.

Tanggul jebol sekitar pukul 20.00. Mistari, 60, warga yang tinggal di dekat tanggul menceritakan sekitar pukul 19.30, aliran sungai mulai deras.

Kemudian, sekitar pukul 20.00, air sungai meluap dari tangkis tanggul. Malam itu juga, warga setempat kerja bakti memperkuat menutup tanggul. Tanpa disadari, sekitar pukul 20.15, tanggul sebelah utara jebol. Air sungai pun langsung mengalir ke rumah-rumah warga.

”Saya kaget dan takut, pas tanggul jebol. Langsung saya tarik istri dan lari mengungsi ke SDN Dringu. Malam itu saya lari dikejar air yang terus mengalir dari tanggul yang jebol,” kata kakek tiga cucu itu.

Jebolnya tanggul membuat akses jalan kabupaten di Desa Dringu Selasa malam itu lumpuh. Karena ketinggian air mencapai 60 sentimeter.

Rabu (19/2) banjir sudah surut. Menyisakan material lumpur yang begitu tebal di jalan kabupaten tersebut. Termasuk, akses jalan lingkungan di dua dusun hampir lumpuh. Sebab, tebalnya material lumpur membuat kondisi jalan licin untuk dilintasi.

”Air mulai menyusut sekitar pukul 10 malam ke atas. Terus saya dan warga lain langsung bersih-bersih rumah karena lumpurnya masuk rumah. Baru subuh selesai membersihkan lumpur sisa banjir di dalam rumah,” kata Mistono, 37, warga Dusun Krajan, Desa Dringu.

Kepala BPBD Kabupaten Probolinggo Anggit Hermanuadi saat dikonfirmasi mengatakan, ada dua desa yang terkena banjir di Kecamatan Dringu. Yaitu, Desa Dringu dan Desa Kedungdalem. ”Paling parah banjir terjadi di Desa Dringu,” ujarnya.

Di Kedungdalem, banjir terjadi karena luapan air sungai. Namun, air sungai itu tidak sampai masuk ke rumah-rumah warga.

Saat ditemui kemarin, Anggit mengatakan, banjir yang terjadi Selasa malam itu karena aliran sungai dari daerah selatan ke sungai Kedungdalem begitu deras dan tinggi. Kebetulan, sore harinya turun hujan dengan intensitas tinggi di sejumlah daerah atas. ”Sungai Kedungdalem itu besar. Tapi, karena tingginya aliran air sungai, sampai plengsengan atau tanggul di Desa Dringu itu jebol,” katanya.

Anggit menjelaskan, banjir yang terjadi di dua dusun karena jebolnya tanggul di Dusun Krajan. Dampaknya, air dari arah selatan itu tidak lagi mengalir ke sungai tapi langsung masuk ke permukiman warga. ”Kalau banjir di Desa Kedungdalem itu karena luapan air sungai yang masuk ke rumah warga,” tuturnya.

Banjir yang terjadi, diakui Anggit, cukup berdampak luas. Ada sekitar 600 KK atau rumah yang terdampak banjir. Hampir semua rumah warga sempat tergenang. Beruntungnya, banjir itu tidak sampai bermalam. Sekitar pukul 22.00, banjir mulai menyusut.

“Banjir itu perkiraan terjadi pukul 20.00. Dua jam kemudian, air banjir mulai menyusut,” katanya. (mas/hn/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU

/