Polisi Pastikan Lutfianto Sakit, Bukan Karena Penganiayaan

PROBOLINGGO – Lutfianto yang menjadi tersangka kasus terorisme, meninggal. Jenazahnya sudah dikebumikan di kampung halamannya, Sabtu (18/8) pagi. Pihak keluarga sudah mengikhlaskan kepergiannya, dan menerima bahwa kematiannya lantaran sakit.

BERDUKA: Kerabat dan warga ikut mendoakan jenazah di rumah duka. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Hal itu juga ditegaskan Kapolres Probolinggo Kota AKBP Alfian Nurrizal. Dia membenarkan jika Lutfi meninggal karena sakit gagal ginjal. Bahkan ia meninggal di rumah sakit. Ia menepis jika ada anggapan miring terkait dengan dugaan lainya, seperti penganiayaan dan sebagainya.

“Kami mendapatkan infromasi bahwa Lutfi meninggal pada Jumat (17/8) sekitar pukul 14.00 . Meninggalnya karena sakit gagal ginjal. Bahkan sempat dirawat di rumah sakit Polri,” pungkas AKBP Alfian Nurrizal.

Diberitakan sebelumnya, Selasa (13/2) pukul 16.42, Muhammad Lutfianto datang dengan menggunakan sepeda motor jenis Honda Beat tanpa pelat nomor. Pelaku berhenti dan duduk di trotoar di samping motor yang ia parkir di depan TK Kemala Bhayangkari. Keberadaan pelaku memantik kecurigaan anggota polisi. Sebab, Lutfi mengendarai motor tanpa pelat nomor.

Sekitar pukul 17.00, sejumlah anggota Satreskrim mendatangi pelaku dan bertanya keperluannya. Melihat motor terduga tanpa pelat nomor, anggota kemudian menanyakan surat-surat kendaraan. Sayangnya, Lutfi tak bisa menunjukkan surat-surat yang diminta. Polisi kemudian memeriksa motor pelaku dengan membuka jok. Saat itu diketahui, ada sebuah benda mencurigakan sepanjang 80 sentimeter yang dibungkus kain. Ternyata, benda itu sejenis dengan samurai. Lutfi langsung diamankan.

Saat diperiksa, Lutfi mengakui jika tengah mengincar polisi untuk dibunuh. Sebelumnya, Lutfi juga pernah mengintai di kantor Satlantas di Jl. Brantas. Lutfi mengira kantor Satlantas sebagai Mapolsek Kademangan. Lutfi mengaku mempelajari aksi-aksi terorisme dari video di internet dan buku. Ia meyakini bahwa polisi adalah thaghut yang layak diperangi. Ia membantah pernah terlibat di kamp-kamp pelatihan militer dan mengatakan jika aksinya ini hanya inisiatif sendiri.

Rabu (14/2), polisi melakukan penggeledahan di rumah istrinya, di Desa Pegalangan Kidul, Kecamata Maron. Ditemukan dua buku berjudul Al-Umdah Fi’ Idadil Uddah dan Kalau Bukan Tauhid, Apa Lagi?. Serta, satu kertas berlaminating yang berjudul “Panduan Aqidah Jihad”.

Polisi juga meminta keterangan pada keluarga terduga pelaku. Yakni istrinya, Siti Fatimah dan metuanya, Buchari dan Hurriati. Kamis (15/2), polisi dan anggota Densus 88 melakukan penggeledahan di rumah orang tua terduga pelaku di Kelurahan Sumberwetan, Kecamatan Kedopok. Polisi mengamankan ponsel dan SIM card. Polisi dan anggota Densus 88 juga mendatangi rumah mertuanya di Maron. (rpd/fun)