Warga Masangan Bangil Tolak Indekos Relawan Covid-19

BANGIL, Radar Bromo – Kekhawatiran itu akhirnya terjadi juga. Dengan dalih takut terpapar korona, sejumlah warga Dusun Balungbendo, Desa Masangan, Kecamatan Bangil, menolak relawan Antisipasi Covid-19 yang hendak indekos di kawasan setempat.

Kepala Desa Masangan Supaat membenarkan adanya kekhawatiran sejumlah warga tersebut. Sehingga, warga memilih untuk tidak menerima petugas relawan RSUD Bangil yang hendak indekos di wilayah setempat.

“Kami sudah menggelar rapat dengan perwakilan warga. Ternyata, mereka tidak menerima, relawan yang direkrut RSUD Bangil untuk tinggal di wilayah Balungbendo,” kata Supaat.

Ia menambahkan, warga bukan tanpa alasan. Mereka takut dengan menerima relawan tersebut tinggal di Balungbendo, bisa memicu penyebaran Covid-19. Mengingat, para relawan RSUD Bangil setiap harinya berjibaku dengan pasien-pasien yang berkaitan dengan korona.

Padahal, warga setempat sudah berupaya untuk membendung penyebaran Covid-19. Bahkan sebenarnya, bukan hanya relawan Covid-19 yang tidak diperkenankan tinggal di wilayah setempat. Tetapi, juga para pekerja pabrik di kawasan PIER pun tidak diperkenankan.

“Jadi, kami menyesuaikan keinginan warga. Warga kami sudah takut, jadi jangan paksa untuk menerima. Sebenarnya, bukan hanya relawan itu saja yang tidak diterima ngekos di wilayah Balungbendo. Sebab, karyawan pabrik pun tidak diperkenankan. Sehingga, indekos di wilayah Balungbendo sekarang ini sedang kosong,” bebernya yang menyebut warganya sempat akan berdemo jika dipaksa menerima relawan tersebut tinggal di Balungbendo.

Humas RSUD Bangil M. Hayat menyampaikan rekrutmen relawan Covid-19 memang dilakukan. Hal ini untuk memperkuat “amunisi” dalam penanganan korona yang semakin banyak. Setidaknya, ada kurang lebih 60 relawan Covid-19 yang direkrut.

Dari jumlah itu, sebanyak 15 orang di antaranya memang diarahkan untuk ngekos di wilayah Balungbendo. Namun, warga tidak berkenan. Sehingga, mereka ditempatkan di RSUD Bangil dan hotel-hotel di wilayah Kabupaten Pasuruan.

“Karena warga menolak, makanya kami tarik. Sebagian ada yang tinggal di ruangan rumah sakit yang kami sediakan. Sebagian, ada pula yang kami tempatkan di hotel-hotel,” jelasnya. (one/mie)