alexametrics
26.1 C
Probolinggo
Saturday, 13 August 2022

Klenteng Sumber Naga Dibangun Putra Kapitan China, Begini Sejarahnya

PROBOLINGGO – Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Sumber Naga merupakan salah satu bangunan cagar budaya di Kota Probolinggo. Usianya saat ini lebih dari 154 tahun.

KEBAKARAN HEBAT: Warga menyaksikan aksi pembasahan petugas damkar usai api padam di klenteng Sumber Naga. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Ini diketahui dari tahun revitalisasi TITD Sumber Naga. Pada tahun 1865, bangunan TITD Sumber Naga direvitalisasi. Itu artinya, TITD Sumber Naga sebenarnya dibangun jauh sebelum tahun 1865. Sayangnya, tidak ada yang tahu, kapan pastinya TITD Sumber Naga dibangun.

“Kalau berdasarkan revitalisasinya, Klenteng (TITD Sumber Naga) sudah berusia 154 tahun. Sebab, Klenteng ini direvitalisasi tahun 1865. Ini diketahui dari plakat revitalisasi pertama. Itu artinya, usia Klenteng ini sudah lebih dari 154 tahun,” ujar Erfan Sutjianto, ketua II TITD Sumber Naga, Sabtu (18/5).

Selain tidak diketahui pasti awal dibangun, Erfan juga mengaku tidak tahu siapa yang membangun TITD Sumber Naga pertama kali. Menurutnya, catatan yang ada di TITD Sumber Naga hanya plakat revitalisasi tahun 1865.

TITD Sumber Naga sendiri, aslinya bernama Liong Tjwan Bio yang berarti Klenteng Sumber Naga. Nama Liong Tjwan Bio kemudian berganti menjadi TITD Sumber Naga, sejak masa pemerintahan orde baru. Sebab, pada masa itu, penggunaan nama diri wajib diberikan dalam bahasa Indonesia. Termasuk nama klenteng.

Sejarah rinci tentang TITD Sumber Naga justru diketahui dari sumber di luar Probolinggo. Yaitu dari jurnal berjudul “Yin Feng Shui Ditinjau Dari Aliran Angin Pada Klenteng Liong Tjwan Bio Probolinggo.” Jurnal ini ditulis Grace Mulyono dari program Studi Desain Interior Fakultas Seni dan Desain, Universitas Kristen Petra Surabaya.

Dalam jurnal itu disebutkan, Klenteng Sumber Naga (Liong Tjwan Bio) merupakan tempat ibadah yang secara resmi didirikan pada Tongzhi 4 (1865). Klenteng didirikan oleh Oen Tik Goan, saudara Oen Tjoen Goan serta beberapa anggota keluarga Han dan 172 pendonor terdaftar.

Oen Tik Goan atau Wen Baochang adalah putra dari Oen King Ting, seorang Kapitan China (Kapitein der Chinezen) Besuki yang menjabat dari tahun 1832 sampai 1856. Setelah itu, jabatan kapiten dijabat oleh Wen Baochang dari tahun 1856 hingga 1859, lalu pindah ke Probolinggo dan menjadi Kapitan di Probolinggo.

Keluarga Oen terjun dalam industri gula. Namun belakangan sejumlah keluarga juga memegang perdagangan candu.

Klenteng ini memiliki lukisan dinding yang menggambarkan proses revitalisasi Klenteng Sumber Naga. Lukisan dinding tersebut terdapat di bangunan utama dan ikut terbakar dalam kebakaran yang terjadi Jumat malam.

“Diantara beberapa bangunan yang ada, bangunan asli yang berusia 154 tahun itu bangunan utama di tengah. Sedangkan dua bangunan di kanan dan kiri bangunan utama adalah bangunan baru. Saya disini sudah 13 tahun dan bangunan itu sudah ada,” ujar Erfan.

Bangun utama sejak revitalisasi tahun 1865, belum pernah dilakukan perbaikan lagi. Struktur kayu masih asli dari tahun 1865, yaitu menggunakan kayu jati.

“Yang kami lakukan selama ini pada bangunan utama, hanya pengecatan saja. Selebihnya tidak ada perubahan apapun,” ujarnya.

Penggunaan kayu jati pada bangunan lama, terbukti cukup kuat dalam menahan kobaran api. Sebab, kayu jati itu masih utuh. Hanya sedikit berlubang akibat dilalap api.

“Tapi kami melarang orang untuk masuk ke bangunan lama yang terbakar. Khawatirnya kayu itu roboh,” ujarnya.

Erfan menjelaskan, kebakaran di Klenteng sudah pernah terjadi. Sebab, di Klenteng cukup banyak lilin untuk kegiatan sembahyang.

“Namun kebakaran yang paling besar adalah yang tadi malam ini. Kami sudah menyiapkan alat pemadam ringan, namun tidak bisa digunakan,” tambahnya.

Karena kebakaran itu, sejumlah patung pun hangus. Maklum, semua patung terbuang dari kayu. Karena itu, Erfan membantah kabar adanya patung yang berbahan dari emas. Patung yang ada di klenteng semua terbuat dari kayu.

“Memang ada patung yang bagian luarnya berwarna emas. Tapi itu hanya lapisan saja. Bukan emas seperti yang dikabarkan,” ujarnya. (put/fun)

PROBOLINGGO – Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Sumber Naga merupakan salah satu bangunan cagar budaya di Kota Probolinggo. Usianya saat ini lebih dari 154 tahun.

KEBAKARAN HEBAT: Warga menyaksikan aksi pembasahan petugas damkar usai api padam di klenteng Sumber Naga. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Ini diketahui dari tahun revitalisasi TITD Sumber Naga. Pada tahun 1865, bangunan TITD Sumber Naga direvitalisasi. Itu artinya, TITD Sumber Naga sebenarnya dibangun jauh sebelum tahun 1865. Sayangnya, tidak ada yang tahu, kapan pastinya TITD Sumber Naga dibangun.

“Kalau berdasarkan revitalisasinya, Klenteng (TITD Sumber Naga) sudah berusia 154 tahun. Sebab, Klenteng ini direvitalisasi tahun 1865. Ini diketahui dari plakat revitalisasi pertama. Itu artinya, usia Klenteng ini sudah lebih dari 154 tahun,” ujar Erfan Sutjianto, ketua II TITD Sumber Naga, Sabtu (18/5).

Selain tidak diketahui pasti awal dibangun, Erfan juga mengaku tidak tahu siapa yang membangun TITD Sumber Naga pertama kali. Menurutnya, catatan yang ada di TITD Sumber Naga hanya plakat revitalisasi tahun 1865.

TITD Sumber Naga sendiri, aslinya bernama Liong Tjwan Bio yang berarti Klenteng Sumber Naga. Nama Liong Tjwan Bio kemudian berganti menjadi TITD Sumber Naga, sejak masa pemerintahan orde baru. Sebab, pada masa itu, penggunaan nama diri wajib diberikan dalam bahasa Indonesia. Termasuk nama klenteng.

Sejarah rinci tentang TITD Sumber Naga justru diketahui dari sumber di luar Probolinggo. Yaitu dari jurnal berjudul “Yin Feng Shui Ditinjau Dari Aliran Angin Pada Klenteng Liong Tjwan Bio Probolinggo.” Jurnal ini ditulis Grace Mulyono dari program Studi Desain Interior Fakultas Seni dan Desain, Universitas Kristen Petra Surabaya.

Dalam jurnal itu disebutkan, Klenteng Sumber Naga (Liong Tjwan Bio) merupakan tempat ibadah yang secara resmi didirikan pada Tongzhi 4 (1865). Klenteng didirikan oleh Oen Tik Goan, saudara Oen Tjoen Goan serta beberapa anggota keluarga Han dan 172 pendonor terdaftar.

Oen Tik Goan atau Wen Baochang adalah putra dari Oen King Ting, seorang Kapitan China (Kapitein der Chinezen) Besuki yang menjabat dari tahun 1832 sampai 1856. Setelah itu, jabatan kapiten dijabat oleh Wen Baochang dari tahun 1856 hingga 1859, lalu pindah ke Probolinggo dan menjadi Kapitan di Probolinggo.

Keluarga Oen terjun dalam industri gula. Namun belakangan sejumlah keluarga juga memegang perdagangan candu.

Klenteng ini memiliki lukisan dinding yang menggambarkan proses revitalisasi Klenteng Sumber Naga. Lukisan dinding tersebut terdapat di bangunan utama dan ikut terbakar dalam kebakaran yang terjadi Jumat malam.

“Diantara beberapa bangunan yang ada, bangunan asli yang berusia 154 tahun itu bangunan utama di tengah. Sedangkan dua bangunan di kanan dan kiri bangunan utama adalah bangunan baru. Saya disini sudah 13 tahun dan bangunan itu sudah ada,” ujar Erfan.

Bangun utama sejak revitalisasi tahun 1865, belum pernah dilakukan perbaikan lagi. Struktur kayu masih asli dari tahun 1865, yaitu menggunakan kayu jati.

“Yang kami lakukan selama ini pada bangunan utama, hanya pengecatan saja. Selebihnya tidak ada perubahan apapun,” ujarnya.

Penggunaan kayu jati pada bangunan lama, terbukti cukup kuat dalam menahan kobaran api. Sebab, kayu jati itu masih utuh. Hanya sedikit berlubang akibat dilalap api.

“Tapi kami melarang orang untuk masuk ke bangunan lama yang terbakar. Khawatirnya kayu itu roboh,” ujarnya.

Erfan menjelaskan, kebakaran di Klenteng sudah pernah terjadi. Sebab, di Klenteng cukup banyak lilin untuk kegiatan sembahyang.

“Namun kebakaran yang paling besar adalah yang tadi malam ini. Kami sudah menyiapkan alat pemadam ringan, namun tidak bisa digunakan,” tambahnya.

Karena kebakaran itu, sejumlah patung pun hangus. Maklum, semua patung terbuang dari kayu. Karena itu, Erfan membantah kabar adanya patung yang berbahan dari emas. Patung yang ada di klenteng semua terbuat dari kayu.

“Memang ada patung yang bagian luarnya berwarna emas. Tapi itu hanya lapisan saja. Bukan emas seperti yang dikabarkan,” ujarnya. (put/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/