alexametrics
23.1 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Momentum Menahan Diri dan Taubat

Oleh: Irsyad Yusuf, Bupati Pasuruan


SESUNGGUHNYA puasa adalah ibadah untuk menahan diri. Selama berpuasa, kita dilatih untuk menahan diri dari berbagai yang dilarang, seperti keinginan mengonsumsi makanan lezat dan hal-hal lain. Harapannya, kita juga mampu menahan diri dari melakukan hal-hal yang tidak penting dalam hidup ini yang mengganggu upaya kita mencapai keridhaan Allah

Namun makna menahan diri ini bukan berarti sempit dimana hanya sekedar menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa. Hakikat menahan diri yang dimaksud bermakna lebih luas. Yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang bisa menggugurkan pahalanya puasa.

Umat muslim harus dapat bersyukur dan menghargai setiap nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Melalui puasa, umat muslim dituntut untuk menahan diri dari kenikmatan yang biasa diterima sehari-hari, seperti makan dan tidur. Dalam arti luas, hakikat puasa adalah sebagai pembelajaran bagi umat muslim untuk merasakan sesama saudara muslim yang kurang mampu, yang mungkin tidak dapat makan secara teratur sehari-harinya.

Menahan diri dari segala emosi bukan hanya sekedar menahan haus dan lapar, tetapi di bulan Suci ini, dianjurkan untuk juga menahan godaan diri dari segala bentuk emosi amarah, nafsu, dan emosi yang berlebih, yang dapat menyia-nyiakan kegiatan berpuasa. Maka dari itu, muslim dianjurkan untuk lebih banyak menghabiskan waktu untuk beribadah, tadarusan, meminta maaf pada orang lain dan memberikan maaf pada sesama.

Sedangkan menahan diri untuk tidak mencela, memfitnah, bergosip, dan melakukan tindakan kampanye hitam, apalagi kekerasan yang sesungguhnya tersebut diatas tidak ada yang baik, apalagi saat Ramadan tiba. Karena, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Hindarilah oleh kalian perbuatan ghibah. Karena ghibah lebih besar dosanya daripada zina.

Selain dikenal sebagai syahrul shiyamsyahrul shabrsyahrul Quran, dan syahrul jihad, Ramadhan juga dikenal sebagai syahrut taubah. Disebut sebagai syahrut taubah karena Ramadhan memang momentum yang tepat untuk bertaubat.

Sementara ketika kita berbicara mengenai taubat, hal pertama yang terbayang adalah kesalahan. Secara normatif setiap manusia pasti pernah berbuat salah. Tak seorangpun di dunia ini yang mampu menghindarkan diri dari berbuat salah, bahkan seorang rasul sekalipun.

“Sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Dan taubat ini harus dilakukan sesegera mungkin. “… dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya ia dapat menghapuskannya …” (HR. Tirmidzi). Begitu Rasulullah mengingatkan. Di sinilah letak kaitan antara perbuatan salah dengan taubat.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di waktu malam untuk mengampuni hamba-Nya yang berdosa di waktu siang, dan Dia membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk mengampuni hamba-Nya yang berdosa di waktu malam, sampai matahari terbit dari Barat.”

Pada bulan yang mulia ini terdapat ampunan dan kasih sayang Allah pada hamba-Nya. Sebagaimana dikatakan dalam hadits yang shahih: “Pada setiap malamnya seorang hamba dibebaskan dari neraka.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Marilah kita manfaatkan kesempatan emas ini untuk bertaubat. Sebab tidak ada seorangpun di antara manusia yang bebas dari dosa dan kesalahan. Setiap hari ada saja dosa dan kesalahan yang dikerjakan, baik sadar maupun tidak. Alangkah baiknya di bulan pengampunan ini, kita semua berburu ampunan Allah ta’aala. (*)

Oleh: Irsyad Yusuf, Bupati Pasuruan


SESUNGGUHNYA puasa adalah ibadah untuk menahan diri. Selama berpuasa, kita dilatih untuk menahan diri dari berbagai yang dilarang, seperti keinginan mengonsumsi makanan lezat dan hal-hal lain. Harapannya, kita juga mampu menahan diri dari melakukan hal-hal yang tidak penting dalam hidup ini yang mengganggu upaya kita mencapai keridhaan Allah

Namun makna menahan diri ini bukan berarti sempit dimana hanya sekedar menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa. Hakikat menahan diri yang dimaksud bermakna lebih luas. Yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang bisa menggugurkan pahalanya puasa.

Umat muslim harus dapat bersyukur dan menghargai setiap nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Melalui puasa, umat muslim dituntut untuk menahan diri dari kenikmatan yang biasa diterima sehari-hari, seperti makan dan tidur. Dalam arti luas, hakikat puasa adalah sebagai pembelajaran bagi umat muslim untuk merasakan sesama saudara muslim yang kurang mampu, yang mungkin tidak dapat makan secara teratur sehari-harinya.

Menahan diri dari segala emosi bukan hanya sekedar menahan haus dan lapar, tetapi di bulan Suci ini, dianjurkan untuk juga menahan godaan diri dari segala bentuk emosi amarah, nafsu, dan emosi yang berlebih, yang dapat menyia-nyiakan kegiatan berpuasa. Maka dari itu, muslim dianjurkan untuk lebih banyak menghabiskan waktu untuk beribadah, tadarusan, meminta maaf pada orang lain dan memberikan maaf pada sesama.

Sedangkan menahan diri untuk tidak mencela, memfitnah, bergosip, dan melakukan tindakan kampanye hitam, apalagi kekerasan yang sesungguhnya tersebut diatas tidak ada yang baik, apalagi saat Ramadan tiba. Karena, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Hindarilah oleh kalian perbuatan ghibah. Karena ghibah lebih besar dosanya daripada zina.

Selain dikenal sebagai syahrul shiyamsyahrul shabrsyahrul Quran, dan syahrul jihad, Ramadhan juga dikenal sebagai syahrut taubah. Disebut sebagai syahrut taubah karena Ramadhan memang momentum yang tepat untuk bertaubat.

Sementara ketika kita berbicara mengenai taubat, hal pertama yang terbayang adalah kesalahan. Secara normatif setiap manusia pasti pernah berbuat salah. Tak seorangpun di dunia ini yang mampu menghindarkan diri dari berbuat salah, bahkan seorang rasul sekalipun.

“Sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Dan taubat ini harus dilakukan sesegera mungkin. “… dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya ia dapat menghapuskannya …” (HR. Tirmidzi). Begitu Rasulullah mengingatkan. Di sinilah letak kaitan antara perbuatan salah dengan taubat.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di waktu malam untuk mengampuni hamba-Nya yang berdosa di waktu siang, dan Dia membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk mengampuni hamba-Nya yang berdosa di waktu malam, sampai matahari terbit dari Barat.”

Pada bulan yang mulia ini terdapat ampunan dan kasih sayang Allah pada hamba-Nya. Sebagaimana dikatakan dalam hadits yang shahih: “Pada setiap malamnya seorang hamba dibebaskan dari neraka.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Marilah kita manfaatkan kesempatan emas ini untuk bertaubat. Sebab tidak ada seorangpun di antara manusia yang bebas dari dosa dan kesalahan. Setiap hari ada saja dosa dan kesalahan yang dikerjakan, baik sadar maupun tidak. Alangkah baiknya di bulan pengampunan ini, kita semua berburu ampunan Allah ta’aala. (*)

MOST READ

BERITA TERBARU

/