alexametrics
24.2 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Upaya Menjaga Mental Anak-Anak dan Remaja selama Pandemi Covid-19

”Orang tua harus pandai memotivasi. Mereka juga bisa membuat kegiatan menarik di rumah. Mulai nonton film bersama, bersenda gurau, hingga olahraga di dekat rumah saja. Sebab, memang tidak dianjurkan kegiatan berkerumun,” papar dr Dinda.

Selama ini, anak-anak dan remaja yang menjalani isolasi di Rusunawa Mayangan selalu diajak melakukan kegiatan edukatif hingga senam bareng. Mereka juga bebas berbincang dengan sesama penyintas asalkan tetap memakai masker.

Mereka diedukasi tentang Covid-19 saat pagi sebelum senam. Misalnya, mengapa harus diisolasi dan mengapa walau sudah divaksin kok tetap bisa tertular virus. ”Kalau sore mereka bisa olahraga bareng. Jadi, buat kegiatan yang menyenangkan sehingga tidak tertekan, tapi prokes tetap jalan,” tuturnya.

 

Berikan Edukasi yang Tepat

Saat kesehatan mental tertekan, penyintas biasanya mengalami kondisi fisik yang kurang bersemangat. Nafsu makan berkurang. Pola tidur menjadi terganggu. Akibatnya, muncul rasa gelisah karena jenuh yang berlebihan.

Jika hal itu terjadi, mereka bisa diberi pengertian bahwa rasa jenuh dan cemas pada pandemi Covid-19 adalah hal yang wajar. Tentunya kecemasan bisa berdampak positif jika diarahkan ke arah positif.

Tugas orang tua dan guru adalah memberikan pengertian dan motivasi positif tentang Covid-19. Anak-anak dan remaja bisa diberi pengarahan jika mereka harus mengikuti tuntunan pemerintah. ”Sehingga pandemi bisa segera berlalu,” jelas dr Dinda.

Dia tidak mempermasalahkan jika anak dan remaja suka main medsos dan terbuka pada hal yang berkaitan dengan Covid-19. Meski banyak informasi yang salah dalam medsos, remaja dan anak-anak biasanya berpikir kritis. Mereka tidak akan langsung percaya.

”Orang tua harus pandai memotivasi. Mereka juga bisa membuat kegiatan menarik di rumah. Mulai nonton film bersama, bersenda gurau, hingga olahraga di dekat rumah saja. Sebab, memang tidak dianjurkan kegiatan berkerumun,” papar dr Dinda.

Selama ini, anak-anak dan remaja yang menjalani isolasi di Rusunawa Mayangan selalu diajak melakukan kegiatan edukatif hingga senam bareng. Mereka juga bebas berbincang dengan sesama penyintas asalkan tetap memakai masker.

Mereka diedukasi tentang Covid-19 saat pagi sebelum senam. Misalnya, mengapa harus diisolasi dan mengapa walau sudah divaksin kok tetap bisa tertular virus. ”Kalau sore mereka bisa olahraga bareng. Jadi, buat kegiatan yang menyenangkan sehingga tidak tertekan, tapi prokes tetap jalan,” tuturnya.

 

Berikan Edukasi yang Tepat

Saat kesehatan mental tertekan, penyintas biasanya mengalami kondisi fisik yang kurang bersemangat. Nafsu makan berkurang. Pola tidur menjadi terganggu. Akibatnya, muncul rasa gelisah karena jenuh yang berlebihan.

Jika hal itu terjadi, mereka bisa diberi pengertian bahwa rasa jenuh dan cemas pada pandemi Covid-19 adalah hal yang wajar. Tentunya kecemasan bisa berdampak positif jika diarahkan ke arah positif.

Tugas orang tua dan guru adalah memberikan pengertian dan motivasi positif tentang Covid-19. Anak-anak dan remaja bisa diberi pengarahan jika mereka harus mengikuti tuntunan pemerintah. ”Sehingga pandemi bisa segera berlalu,” jelas dr Dinda.

Dia tidak mempermasalahkan jika anak dan remaja suka main medsos dan terbuka pada hal yang berkaitan dengan Covid-19. Meski banyak informasi yang salah dalam medsos, remaja dan anak-anak biasanya berpikir kritis. Mereka tidak akan langsung percaya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/