alexametrics
26.1 C
Probolinggo
Thursday, 26 May 2022

Upaya Menjaga Mental Anak-Anak dan Remaja selama Pandemi Covid-19

PANDEMI Covid-19 telah melanda dunia dalam dua tahun terakhir. Kondisi itu membuat berbagai negara melakukan pembatasan kegiatan masyarakat di muka umum. Tidak terkecuali, Indonesia. Anak-anak dan remaja, misalnya, harus mengikuti kegiatan sekolah secara online atau daring (dalam jaringan). Mereka juga wajib menggunakan masker saat berkegiatan di mana pun.

Pembatasan-pembatasan seperti itu berisiko memunculkan kejenuhan, kebosanan, dan kekecewaan. Ada rasa tertekan karena terisolasi. Apalagi wabah ini sudah terjadi bertahun-tahun. Di sisi lain, banyak kabar hoaks tentang Covid-19 yang bermunculan di media sosial (medsos). Jika kondisi tertekan itu tidak tertangani dengan baik, bisa muncul stres dan kondisi lain yang mungkin lebih parah.

Menurut dr Adinda Dianing Sawitri, pandemi Covid-19 merupakan problem yang terjadi di seluruh dunia. Karena itu, semua lapisan masyarakat harus menerima jika virus menular tersebut memang benar-benar ada.

Penanganan yang terpenting adalah menutup pintu masuk penularan Covid-19. Apalagi, usia remaja itu masuk fase kritis. Mereka rata-rata pandai dalam bermain medsos. Tentu, jika hanya diminta untuk menjaga prokes, mereka belum tentu langsung menerima.

Mereka bisa membaca segala pemberitaan tentang Covid-19. Ada yang benar dan ada yang tidak benar. ”Kalau diminta saja, ya tidak bisa. Kita harus menjelaskan apa itu prokes dan kenapa kok harus selalu menjaga prokes,” ungkapnya.

Dokter yang juga penanggung jawab (Pj) Rusunawa Mayangan ini menyebutkan, pandemi Covid-19 bisa mengganggu mental anak dan remaja. Ini bisa terjadi karena aktualisasi diri yang terbatas setelah mereka harus daring saat sekolah.

Namun, kondisi itu sebenarnya dihindari. Keluarga, terutama orang tua, harus pandai-pandai menjaga quality time dengan anak mereka. Misalnya, suka mengajak anak bersenda gurau. Mereka tidak perlu melakukan kegiatan dengan berkerumun di luar. Kegiatan bisa dilakukan di rumah dengan gembira.

PANDEMI Covid-19 telah melanda dunia dalam dua tahun terakhir. Kondisi itu membuat berbagai negara melakukan pembatasan kegiatan masyarakat di muka umum. Tidak terkecuali, Indonesia. Anak-anak dan remaja, misalnya, harus mengikuti kegiatan sekolah secara online atau daring (dalam jaringan). Mereka juga wajib menggunakan masker saat berkegiatan di mana pun.

Pembatasan-pembatasan seperti itu berisiko memunculkan kejenuhan, kebosanan, dan kekecewaan. Ada rasa tertekan karena terisolasi. Apalagi wabah ini sudah terjadi bertahun-tahun. Di sisi lain, banyak kabar hoaks tentang Covid-19 yang bermunculan di media sosial (medsos). Jika kondisi tertekan itu tidak tertangani dengan baik, bisa muncul stres dan kondisi lain yang mungkin lebih parah.

Menurut dr Adinda Dianing Sawitri, pandemi Covid-19 merupakan problem yang terjadi di seluruh dunia. Karena itu, semua lapisan masyarakat harus menerima jika virus menular tersebut memang benar-benar ada.

Penanganan yang terpenting adalah menutup pintu masuk penularan Covid-19. Apalagi, usia remaja itu masuk fase kritis. Mereka rata-rata pandai dalam bermain medsos. Tentu, jika hanya diminta untuk menjaga prokes, mereka belum tentu langsung menerima.

Mereka bisa membaca segala pemberitaan tentang Covid-19. Ada yang benar dan ada yang tidak benar. ”Kalau diminta saja, ya tidak bisa. Kita harus menjelaskan apa itu prokes dan kenapa kok harus selalu menjaga prokes,” ungkapnya.

Dokter yang juga penanggung jawab (Pj) Rusunawa Mayangan ini menyebutkan, pandemi Covid-19 bisa mengganggu mental anak dan remaja. Ini bisa terjadi karena aktualisasi diri yang terbatas setelah mereka harus daring saat sekolah.

Namun, kondisi itu sebenarnya dihindari. Keluarga, terutama orang tua, harus pandai-pandai menjaga quality time dengan anak mereka. Misalnya, suka mengajak anak bersenda gurau. Mereka tidak perlu melakukan kegiatan dengan berkerumun di luar. Kegiatan bisa dilakukan di rumah dengan gembira.

MOST READ

BERITA TERBARU

/