alexametrics
25.7 C
Probolinggo
Friday, 27 November 2020

Perhiasan yang Digondol Rampok Itu Hendak Dijual untuk Beli Tanah

Suwarno dan keluarganya tak menyangka menjadi sasaran perampok. Perhiasan yang jika diuangkan senilai Rp 700 juta raib digondol pelaku. Belum termasuk ponsel, jam tangan, dan uang tunai. Tak hanya kehilangan harta, mereka juga trauma atas peristiwa yang terjadi Jumat (18/1) dini hari.

RIZKY PUTRA DINASTI, Wonoasih

Rumah Suwarno di Jl. KH. Z. Muttaqin, RT 1/RW 1, Kelurahan Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, didatangi banyak tetangga dan kerabat. Sebagian dari mereka duduk di teras rumah korban. Sebagian lainnya berada di dalam rumah.

Jarak antara rumah korban dengan tetangga tidak terlalu jauh. Namun, dipisahkan oleh lahan. Ada dua rumah milik Suwarno yang bersebelahan. Selain rumah yang ditempati, ada rumah lain yang masih kosong. Dari wujudnya, rumah itu baru saja selesai dibangun.

Saat Radar Bromo masuk ke rumah Suwarno, kondisi rumah masih acak-acakan. Bahkan, tampak ceceran darah di lantai rumah tersebut.

Mulai dari kamar penyekapan, hingga pintu rumah sebelah yang dijadikan tempat kaburnya pelaku. Ceceran darah itu merupakan darah Suwarno yang berusaha mengejar pelaku.

Diketahui, Suwarno sempat dibacok kawanan rampok. Ia pun terluka di tangan kanan dan kiri serta punggungnya akibat sabetan celurit pelaku.

Suwarno yang ditemui koran ini tampak terlihat masih shock. Namun, ia tetap bisa melayani pertanyaan kerabat terkait peristiwa yang baru saja dialaminya. Tampak kedua tangannya diperban. Ia hanya dirawat sekitar 6 jam, kemudian dibolehkan pulang.

Sayuni juga tampak shock dengan kejadian tersebut. Peristiwa nahas menjelang Subuh itu pasti tak akan bisa dilupakannya. Terutama, peristiwa saat sang suami dianiaya oleh pelaku. Karena tak tega melihat suaminya dianiaya itulah, Sayuni menyanggupi permintaan pelaku.

Harta yang ia simpan bertahun-tahun, raib digondol pelaku. Padahal, perhiasan ratusan juta itu rencananya akan dijual. Uangnya akan digunakan untuk membeli tanah. Tanah itu nantinya akan ia kapling. Sayuni mengaku tak hafal berapa gram perhiasan yang disimpannya.

“Kalau gramnya saya tidak hafal. Sebab, itu sudah ada sejak lama,” katanya. Meski tak hafal jumlah gramnya, Sayuni mengaku hafal jenisnya. Di antaranya, 20 cincin, 8 gelang, dan 3 kalung. Kemudian satu ponsel, 3 jam tangan, serta uang tunai sekitar Rp 4,5 juta.

Namun, yang paling membuatnya sedih bukan raibnya harta benda. Melainkan Suwarno yang dianiaya pelaku. “Dengan kondisi diikat, suami saya terus dipukuli agar menyerahkan uang,” imbuhnya. Ia pun panik. Apalagi, dengan celurit di tangan, pelaku mengancam akan menghabisi Suwarno.

Tak hanya mengkhawatirkan sang suami, Sayuni juga mencemaskan nasib anak-anaknya. Karena bisa saja, mereka semua dihabisi jika tak menuruti keinginan pelaku. “Akhirnya saya menyerahkan semuanya (harta, Red). Dengan harapan pelaku tidak memukuli suami dan juga anak-anak saya,” bebernya.

Sayuni mengaku tak mengenali empat orang yang melakukan perampokan. Namun, beberapa di antaranya ada yang sudah tua. Hal itu terlihat dari uban di rambut pelaku. Selain itu, ada juga pelaku yang rambutnya lurus. Ciri-ciri tersebut sudah ia sampaikan pada polisi saat dimintai keterangan.

“Ada yang pakai penutup muka secara keseluruhan. Ada juga yang hanya pakai penutup mulut dan pakai topi. Ada beberapa topi yang lepas. Makanya kita tahu rambutnya. Yang tua atau berambut putih itu yang selalu memukuli suami saya,” terangnya.

Perasaan trauma juga dialami ketiga anaknya. Dua di antaranya, yakni Hadi Suwarno dan Sri Handayani melihat langsung ketika ibunya dikalungi celurit. Termasuk saat ayahnya dipukuli.

Sri Wahyuni, anak sulung korban juga sangat ketakutan. Ia mengunci kamarnya begitu tahu ada tamu tak diundang mengacak-acak rumahnya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Kekhawatiran jika ayah, ibu, dan adik-adiknya dihabisi pelaku, menggelayuti pikirannya.

Namun, ia bertahan di dalam kamar. “Saya berusaha telepon warga sekitar. Berharap bantuan cepat datang,” terangnya pada saat ditanya koran ini. Meski bantuan terlambat datang, namun ia bersyukur keluarganya selamat. Sri Wahyuni berharap kepolisian segera menangkap pelakunya. (rf/mie)

- Advertisement -
- Advertisement -

MOST READ

Siswi SDN di Kraksaan Lolos dari Penculikan, Ini Ciri-Ciri Pelaku

KRAKSAAN, Radar Bromo - Niat Cld, 13, berangkat sekolah, Rabu (12/2) pagi berubah menjadi kisah menegangkan. Siswi SDN Kandangjati Kulon 1, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo,...

Mau Ke Tretes, Muda-mudi Asal Gempol Tertabrak Truk Tangki di Candiwates, Penumpangnya Tewas

PRIGEN – Nasib sial dialami pasangan muda-mudi ini. Minggu siang (20/1) keduanya terlibat kecelakaan saat hendak menuju Tretes, Akibatnya, satu orang tewas dan satu...

Siswa MI di Pandaan Tewas Gantung Diri, Diduga usai Smartphonenya Disembunyikan Orang Tua

PANDAAN, Radar Bromo – Tragis nian cara AA, 11, mengakhiri hidupnya. Pelajar di Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan ini, ditemukan tewas, Minggu (17/11) pagi. Dia...

Geger Mayat Wanita di Pantai Pasir Panjang-Lekok, Kondisinya Terikat Tali dan Dikaitkan Batu

LEKOK, Radar Bromo - Temuan mayat dengan kondisi terikat, kembali menggegerkan warga. Rabu (18/9) pagi, mayat perempuan tanpa identitas ditemukan mengapung di Pantai Pasir...

BERITA TERBARU

Jon Junaedi Wakil Ketua DPRD Mangkir Lagi di Sidang Ijazah Palsu

Jaksa menyebutkan, Kalau 3 kali dipanggil tidak dating, ketentuannya nanti dapat dilakukan penjemputan paksa dengan adanya penetapan hakim untuk jemput paksa

Usai Dilantik, Ribuan KPPS yang Bertugas di Pilwali Dirapid Test

Ini salah satu upaya KPU dalam memastikan seluruh putugas penyelanggara, seperti KPPS hingga linmas benar-benar sehat dan tidak terjangkit Covid-19

Petugas KPPS Harus Jaga Integritas selama Pilwali

Selanjutnya, KPU akan memberikan pembekalan bagi KPPS sebelum bertugas.

Pembobol Alfamart Suwayuwo Dibekuk, Pelaku Residivis, Ini Tampangya

Pelaku pembobolan toko modern yang berada di sebelah timur jalan nasional ini ada tiga orang.