alexametrics
26 C
Probolinggo
Friday, 20 May 2022

Rongsokan Mesin Gilas Jadi Pajangan di Taman Kota, Pantaskah?

PASURUAN, Radar Bromo– Ada sedikit pemandangan berbeda di Taman Kota Pasuruan. Terutama di sudut pelataran sisi selatan. Sebuah mesin gilas terparkir disana. Benda tersebut sebenarnya sudah jadi rongsokan. Lalu kenapa ditempatkan di taman?

“Memang setelah kami analisa ada tiga aset berupa mesin gilas yang perlu dihapus,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Pasuruan Gustap Purwoko.

Ketiga rongsokan mesin gilas itu, selain di Taman Kota, juga ditempatkan di Taman Lansia dan Taman Sekargadung. Gustap menjelaskan, kondisi tiga mesin gilas itu memang sudah rusak berat. Semua produksi pabrik sekitar 1990-an.

“Itu kan fungsinya dulu untuk pemadatan jalan makadam. Sedangkan pemakaiannya juga sudah jarang dipakai. Karena jalan di kota sekarang kan sudah pakai hotmix semua,” ungkap Gustap.

Di sisi lain, pemeliharaan mesin gilas yang sudah renta itu juga tidak murah. Karena memang diproduksi tahun lama. Biaya pemeliharaannya juga semakin mahal. Bila tetap dipertahankan, juga tidak ada artinya.

“Pemeliharaannya mahal, tapi jarang dipakai kan percuma,” beber Gustap.

Karena itu, pihaknya menyerahkan tiga aset tersebut ke Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan. Hingga kemudian ketiganya ditempatkan di taman-taman. Tujuannya hanya sebagai pajangan. Ditambah lagi dengan tujuan edukasi terhadap pengunjung.

PASURUAN, Radar Bromo– Ada sedikit pemandangan berbeda di Taman Kota Pasuruan. Terutama di sudut pelataran sisi selatan. Sebuah mesin gilas terparkir disana. Benda tersebut sebenarnya sudah jadi rongsokan. Lalu kenapa ditempatkan di taman?

“Memang setelah kami analisa ada tiga aset berupa mesin gilas yang perlu dihapus,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Pasuruan Gustap Purwoko.

Ketiga rongsokan mesin gilas itu, selain di Taman Kota, juga ditempatkan di Taman Lansia dan Taman Sekargadung. Gustap menjelaskan, kondisi tiga mesin gilas itu memang sudah rusak berat. Semua produksi pabrik sekitar 1990-an.

“Itu kan fungsinya dulu untuk pemadatan jalan makadam. Sedangkan pemakaiannya juga sudah jarang dipakai. Karena jalan di kota sekarang kan sudah pakai hotmix semua,” ungkap Gustap.

Di sisi lain, pemeliharaan mesin gilas yang sudah renta itu juga tidak murah. Karena memang diproduksi tahun lama. Biaya pemeliharaannya juga semakin mahal. Bila tetap dipertahankan, juga tidak ada artinya.

“Pemeliharaannya mahal, tapi jarang dipakai kan percuma,” beber Gustap.

Karena itu, pihaknya menyerahkan tiga aset tersebut ke Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan. Hingga kemudian ketiganya ditempatkan di taman-taman. Tujuannya hanya sebagai pajangan. Ditambah lagi dengan tujuan edukasi terhadap pengunjung.

MOST READ

BERITA TERBARU

/