Dituduh Punya Ilmu Hitam, Warga Kedungcaluk Disumpah Alquran

TERTUDUH: Suradi saat akan disumpah Alquran di masjid Baitul Ghofur, Desa Kedungcaluk, Kecamatan Krejengan, Selasa (17/3). Sumpah itu digelar lantaran adanya isu ilmu santet yang dimiliki Suradi. (Foto M Rosyidi/Radar Bromo)

Related Post

KREJENGAN, Radar Bromo – Isu adanya warga yang memiliki ilmu hitam, merebak di Desa Kedungcaluk, Kecamatan Krejengan. Lantaran itu, Selasa (17/3) di desa setempat digelar aksi sumpah Alquran.

Adapun warga yang dituding memiliki ilmu santet tersebut ialah Suradi, 65, warga Dusun Krajan. Ia dituduh memiliki ilmu hitam. Karena tidak terima dan ingin membuktikan bahwa dirinya bersih dari tuduhan itu, dia mengajak warga untuk melakukan sumpah Alquran.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo siang kemarin, sumpah Alquran digelar di Masjid Baitul Ghofur, desa setempat. Pelaksanaan sumpah itu disaksikan sejumlah warga. Sejumlah aparat pun ikut mendampingi untuk mengantisipasi hal yang tak diinginkan.

Suhada’, 60, salah seorang warga mengatakan, sumpah itu dilakukan lantaran adanya warga yang dituduh memiliki ilmu hitam. Sebab, beberapa bulan lalu ada warga yang meninggal. “Katanya yang meninggal itu mimpi minta air ke tertuduh (Suradi, Red). Warga itu saat sakit dan kemudian meninggal,” katanya.

Warga yang dimaksud adalah AS. Ia meninggal di RS Jember. Korban berdasarkan diagnosis kedokteran, meninggal karena penyakit asam lambung. “Kalau saya tidak terlalu mempercayainya. Tetapi, tertuduh ini dituduh oleh orang se-RT di dusunnya,” katanya.

JADI TONTONAN: Suasana masjid Baitul Ghofur di Desa Kedungcaluk saat digelar sumpah Alquran. Masjid dipenuhi warga yang ingin melihat. (Foto M Rosyidi/Radar Bromo)

 

Kejadian itu sendiri bermula ketika anak Suradi yakni Muhammad Nur, 35, mendengar tetangganya bergunjing tentang keluarganya. Ayahnya yakmi Suradi, diduga memiliki ilmu hitam. Penyebabnya, lantaran dua orang yang sakit dan bermimpi bahwa keduanya meminta air kepada Suradi. Tetapi, tidak lama setelah itu keduanya meninggal.

Mendapati hal itu, Muhammad Nur lantas mendatangi tetangganya itu dan meminta penjelasan. Tetapi, ternyata tetangganya itu tidak bisa memberikan penjelasan. Hingga kemudian isu ini menimbulkan kegaduhan.

Karena itu, pihak kepala desa dan juga Bhabinsa setempat berkumpul dan menginisiasi adanya sumpah itu.

“Ayah saya langsung meminta yang bersangkutan untuk sumpah. Dan ini kemudian disumpah,” jelas Muhammad Nur saat ditemui seusai sumpah Alquran dilakukan.

Kegiatan itu sendiri menjadi tontonan masyarakat. Untuk menghindari tindakan yang di luar dugaan, pihak kepolisian dan Koramil setempat datang ke lokasi.

Kepala Desa Kedungcaluk Sulaiman Fauzan mengatakan, dari sumpah tersebut, tidak hanya diberlakukan terhadap Suradi. Tetapi, juga warga yang menuduh Suradi memiliki ilmu hitam alias santet, juga turut disumpah.

“Untuk Suradi sendiri disumpah sendirian, dengan Alquran yang ditaruh di atas kepalanya. Untuk warga yang menuduh juga kami sumpah, tapi secara ramai-ramai,” kata Sulaiman saat ditemui di kantor desa setempat.

Sumpah Alquran tersebut, menurut Sulaiman Fauzan, memang digelar akibat dari buntut meninggalnya AS dan Sm pada bulan lalu. Keduanya merupakan warga Dusun Krajan. Sehingga, warga menuduh kalau Suradi memiliki santet.

“Memang ada yang meninggal, tapi meninggalnya kalau yang AS karena terkena DBD, kalau yang Sumar karena penyakit liver. Maka dari itu saya suruh warga yang menuduh, disumpah juga. Karena ini tidak ada bukti,” tuturnya.

Tudingan terhadap Suradi, cukup mengganggu pihak keluarga. Namun, setelah sumpah Alquran digelar, pihak keluarga Suradi merasa lega.

Hal itu diungkapkan Muhammad Nur, anak Suradi. Dia mengatakan, dengan adanya tuduhan itu, sudah mencemarkan nama baik keluarganya. Tetapi, dengan sumpah yang dilakukan, sudah membuatnya lega.

“Saya yakin, bapak saya ini orang Islam, orang yang tidak meninggalkan sunah, apalagi yang wajib. Musibah yang dialami keluarga saya ini sungguh di luar nalar. Bingung juga, apa yang membuat warga menuduh,” lanjut pria dengan satu anak tersebut.

Tuduhan terhadap ayahnya, bukan yang pertama kalinya. Akan tetapi, 13 tahun yang lalu, ayahnya juga sempat mendapat tuduhan yang sama.

“Sudah yang kedua kalinya. Tapi yang pertama tidak sampai disumpah karena gak ada yang berani. Meskipun dari pihak keluarga saya yang minta. Nah, ini yang kedua kalinya,” tandasnya. (sid/fun)