Jadi Saksi di Kasus Ijazah Palsu, Honorer Dispendik Mengaku Tidak Kenal Abdul Kadir

KRAKSAAN, Radar Bromo– Sidang lanjutan kasus ijazah palsu dengan terdakwa anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, Abdul Kadir, kembali digelar. Senin (16/12), Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kabupaten Probolinggo menghadirkan dua orang saksi dalam pesidangan di Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan.

Mereka adalah Staf KPU Kabupaten Probolinggo Hafidz dan honorer Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo Saiful Bahri. Dalam persidangan yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Gatot Ardian Agustriono, kedua saksi dimintai keterangan secara bergantian.

Pertama yang dimintai keterangan Saiful Bahri. Dalam keterangannya, saksi menyangkal ketika dituding sebagai pembuat ijazah palsu milik terdakwa. Ia mengaku tidak tahu sama sekali mengenai ijazah milik terdakwa. Bahkan, ia mengaku tidak kenal dengan Abdul Kadir. “Saya tidak tahu. Kenal sama terdakwa saja tidak kok,” ujarnya dalam persidangan.

Namun, hakim tidak percaya begitu saja. Apalagi, terdakwa menyatakan kenal terhadap saksi Saiful. Mendapati itu, Saiful meralat ucapannya. Ia mengaku kenal dan perkenalan itu terjadi setelah pencoblosan pemilihan legislatif.

“Saya ada yang salah keterangan. Saya kenal dengan terdakwa saat ia datang ke rumah. Terdakwa minta tolong karena barcode ijazah tidak terbaca,” ujarnya.

Menanggapi itu, majelis hakim mencecar beberapa pertanyan kembali. Sebab, keterangan yang diberikan saksi terkesan berbelit-belit. “Tadi Anda bilang tidak kenal. Jangan bohong, terangkan setahunya, jangan ada yang ditutup-tutupi,” ujar Gatot.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa Asman Afif Ramadhan mengatakan, keterangan saksi banyak yang ditutup-tutupi. Saksi saat berbicara banyak tidak jujurannya. “Banyak yang ditutup-tutupi. Buktinya setelah klien saya bilang kenal, saksi langsung kebingungan,” ujarnya.

Menurutnya, untuk mendapatkan keterangan saksi Saiful yang lebih akurat, pihaknya meminta untuk dikonfrontir dengan saksi Markus. Dia akan dihadirkan pada persidangan pekan Kamis depan. “Tetapi tidak diterima. Kata ketua majelis menunggu keterangan saksi Markus dulu,” ujarnya.

Di sisi lain, Kasi Pidum Kejari Kabupaten Probolinggo Ardian Junaedi mengatakan, sebenarnya dalam persidangan kemarin, pihaknya diminta mendatangkan lima saksi. Tetapi, yang dapat hadir hanya dua orang. Yang tiga ada halangan, sehingga tidak bisa datang,” ujarnya.

Pada sidang Kamis depan, Ardia mengaku diminta menghadirkan dua saksi. Yaitu, Markus dan Ketua DPC Gerindra Kabupaten Probolinggo Jon Junaedi. “Nanti akan kami hadirkan,” ujarnya. (sid/fun)