Disidak, Limbah yang Mencemari Kali Wangi Mendadak Berubah

BANGIL, Radar Bromo – Pencemaran Kali Wangi yang membuat sengsara warga Baujeng, Kecamatan Beji, disikapi Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan. Senin (16/12), sejumlah perusahaan yang diduga menjadi pembuang limbah ke sungai, disidak.

Hasilnya, ada sejumlah kejanggalan yang ditemukan. Termasuk air pembuangan yang semula hitam hingga berbusa, berubah menjadi bersih seketika.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, jajaran anggota komisi III menggelar sidaknya ke tiga perusahaan yang ada di wilayah Keceling, Desa Kemirisewu, Kecamatan Pandaan.

Selain pabrik jaring, anggota dewan juga menggelar sidaknya ke PT Ultra Prima Abadi serta PT CS2 Pola Sehat. Pemantauan terhadap IPAL perusahaan dilakukan. Hasilnya, ada temuan kalau kapasitas IPAL-nya jauh dari harapan.

“Ada perusahaan yang IPAL-nya kami rasa tidak sesuai. Kapasitasnya hanya 20 ribu liter namun produksi limbahnya bisa mencapai lebih dari itu ditinjau dengan produksinya. Sehingga, indikasi kami, limbahnya dibuang ke sungai,” kata Arifin, anggota komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan.

Selain temuan kapasitas IPAL yang tak memadai, juga ada temuan pembuangan limbah ke sungai. Menurut Sekretaris Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan Zaini, pembuangan limbah ke sungai memang diperkenankan. Asalkan, sesuai baku mutu. Yakni dengan tidak bau dan tidak berbusa.

Sayangnya, kenyataan di lapangan tidak demikian. Karena limbah yang dibuang perusahaan, justru berbau, berbusa, hingga hitam pekat. “Kami menemukan adanya saluran pembuangan ke sungai. Limbah buangan pabrik tersebut bau, hitam, dan berbusa,” sambungnya.

Hanya saja, masing-masing perusahaan membantah limbah tersebut milik mereka. Meski pihaknya sempat mencocokkan warnanya dengan IPAL yang disidaknya.

Bahkan, ada yang mengherankan ketika sidak tersebut. Karena warna limbah yang dibuang ke Sungai Keceling atau Kali Wangi itu, berubah. Semula, warnanya cokelat pekat, berbusa, dan penuh bau.

Namun, setelah beberapa waktu saat sidak, warnanya berubah bening. “Ini kan aneh. Kalau yang semula pekat, sekarang tiba-tiba warnanya bening,” tandasnya.

Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan Saifullah Damanhuri menegaskan, bakal menjadikan bahan evaluasi atas sidak tersebut. Sidak itu memang dilakukan sebagai bentuk respons atas keluhan masyarakat Baujeng dan sekitarnya.

Pencemaran sungai setempat, tidak pernah ada hentinya. “Kami akan panggil semua perusahaan-perusahaan tersebut. Kami sudah punya bukti-bukti untuk dipaparkan,” tegasnya.

Sementara itu, Mustaqim, manager affair PT King Dragon Net, perusahaan jaring itu mengaku kalau limbah perusahaannya diolah dengan baik. Sehingga, air limbah yang dibuang tidak berbusa ataupun hitam.

“Kami buangnya ke belakang. Bukan ke depan (Kali Wangi, red). Limbah yang dibuang ke sungai depan itu bukan milik kami,” jelasnya.

Sedangkan Eko Budi, kepala teknik PT Ultra Prima Abadi, produsen wafer tango itu mengungkapkan, pengolahan limbahnya sudah sesuai dengan ketentuan. Ia pun mengelak kalau limbahnya dibuang ke sungai.

Tak jauh berbeda disampaikan Dani Danil, bagian produksi PT CS 2 Pola Sehat. Perwakilan dari perusahaan Teh Gelas itu mengaku, kalau limbah perusahaan setempat dikelola dengan ketentuan. (one/mie)