Swab Belum Diketahui, Warga Tongas Jemput Paksa Pasien  Tomas  

TONGAS, Radar Bromo Kasus jemput paksa pasien yang diindikasi positif Covid-19 kembali terjadi di Kabupaten Probolinggo. Kamis (17/9) sore, sejumlah warga Desa Wringin Anom, Kecamatan Tongas, mendatangi RSUD Tongas. Mereka menjemput paksa FH, 51, karena dinilai bukan pasien Covid-19.

Sekitar pukul pukul 16.00, warga mendatangi RSUD Tongas. Mereka mendesak FH untuk dirawat di rumahnya di Desa Wringin Anom. Banyaknya warga yang mendatangi RSUD membuat petugas keamanan RSUD dan kepolisian tidak dapat menghalangi warga.

Begitu tiba di RSUD Tongas, keluarga FH yang datang bersama warga langsung memaksa masuk. Mereka lantas mencari FH yang sedang dirawat di ruang isolasi.

Begitu ketemu, FH pun langsung dibawa pulang paksa sore itu juga. FH bersama keluarganya lantas jalan kaki ke luar RSUD. Sampai di luar RSUD, mereka pun pulang naik kendaraan yang sudah disiapkan.

FH sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh masyarakat (tomas) di Desa Wringin Anom. Dia juga pengasuh sebuah pondok pesantren (ponpes) di Tongas.

Kades Wringin Anom Syafi’i nampak ikut di rumah FH sesaat setelah penjemputan paksa itu. Sang kades ikut memediasi antaran pihak kepolisian dan keluarga pasien.

Sang kades mengaku, tak tahu persis aksi jemput paksa itu. Pihaknya pun kaget saat mengetahui FH dijemput paksa sejumlah warga. “Saya juga tidak tahu pasti bagaimana kejadian waktu warga menjemput paksa,” katanya.

Syafi’i menjelaskan, pasien selama ini memiliki riwayat sakit komplikasi. Seperti diabetes, asam urat, dan lainnya. Kondisi itu membuat pasien sering masuk dan keluar rumah sakit.

Sebelum dirawat di RSUD Tongas, Rabu (16/9) malam pasien dirawat di RS Wonolangan, Kecamatan Dringu. Saat di RS Wonolangan itu, informasinya pasien tidak boleh dijenguk atau ditunggui.

Lalu Kamis (17/9) pagi, pasien dirujuk ke RSUD Tongas. Dia lantas dirawat di ruang isolasi RSUD Tongas. Namun, sampai Kamis sore, belum ada hasil swab yang menyatakan pasien positif Covid-19.

“Kemungkinan karena sejak tadi malam (Rabu malam, Red) pasien tidak boleh dikunjungi dan ditunggu, ditambah pasien malah dirujuk ke RSUD Tongas. Akhirnya keluarga dan warga mengambil sikap untuk membawa pulang pasien dan dirawat di rumahnya,” terangnya.

Sementara itu, Direktur RSUD Tongas Hariawan  belum bisa dikonfirmasi. Terpisah, Ugas Irwanto selaku koordinator keamanan dan penegak hukum Satgas penanganan konflik Kabupaten Probolinggo mengaku kecewa dengan kejadian ini.

Menurutnya, ada kecenderungan masyarakat mulai mengedepankan emosinya dalam menghadapi pandemi. Terutama saat berurusan dengan rumah sakit rujukan.

“Kejadian seperti ini terjadi bukan sekali ini saja. kali ini bahkan ada beberapa tindakan anarkistis, karena ada beberapa perusakan walau tidak banyak. Tetapi, rasa ketakutan para tenaga medis yang bertugas terus berlanjut,” ungkapnya.

Waka Polres Probolinggo Kota Kompol Teguh saat dikonfirmasi membantah adanya aksi kekerasan dan pengerusakan di RSUD Tongas. Menurutnya, sudah diturunkan personel secara maksimal ke RSUD. Namun, banyaknya warga yang datang membuat petugas tidak dapat menghalangi warga untuk membawa pulang paksa pasien.

“Ini bukan jemput paksa, tetapi mereka ingin membawa pulang pasien untuk dirawat sendiri di pesantren. Soal Apakah positif atau tidak, sampai sekarang kami masih belum dapat konfirmasi dari pihak rumah sakit,” katanya saat ditemui di RSUD Tongas. (mas/hn)