alexametrics
25 C
Probolinggo
Wednesday, 17 August 2022

Tembakau Milik Petani Rusak Akibat Hujan-Serangan Ulat

KREJENGAN, Radar Bromo – Hujan yang masih turun di Kabupaten Probolinggo dikeluhkan para petani tembakau. Pasalnya, hujan dapat merusak tanaman tembakau. Apalagi, lahan milik petani tembakau kini diserang hama ulat. Jika tidak teratasi, diprediksi hasil panen tidak akan maksimal, bahkan bisa merugi.

Seperti yang diungkapkan Imam wahyudi, 43, petani tembakau asal Desa Sokaaan, Kecamatan Krejengan. Tanaman tembakaunya saat ini mengalami kendala pertumbuhan.  Hal itu disebabkan oleh adanya hujan yang masih sering terjadi pada musim kemarau saat ini.

“Di tanah 200 meter ini saya tanam sekitar 4.000 pohon tembakau. Sebagian banyak yang rusak mau mati karena terkena hujan yang masih sering terjadi. Daun tembakaunya mengkerut layu dan berwarna kuning, tidak segar seperti tembakau sehat pada umumnya,” ujarnya saat ditemui  Rabu (15/7) lalu.

Tidak hanya itu, dia juga mengeluhkan adanya ulat yang menyerang tanamannya. Ini juga menjadi penyebab rusaknya tanaman tembakaunya. Serangan ulat membuat perkembangan tembakau terganggu, sehingga tanamannya akan terus kecil.

“Ulat kalau sudah memakan pucuk tembakau. maka tanamannya tidak mungkin bisa tinggi. Sekarang sudah mulai ada serangan hama ulat,” ujarnya.

AKIBAT ULAT: Ulat yang ditangkap petani tembakau. (FOto: Agus Gaiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)

Imam menambahkan, saat selesai panen tembakau tahun lalu ia mendapatkan untung, dengan penghasilan Rp 18 Juta. “Dulu sampai segitu bersihnya, sebab harga perkilonya ada pada Rp 35 ribu. Semoga saja saat panen saat ini harganya bisa capai segitu, bahkan harapannya lebih,” ujarnya.

Hal yang sama juga dikatakan, Zainullah Hasan salah satu petani yang memiliki lahan tembakau di dekat lahan Imam Wahyudi. Zainullah mengungkapkan, seperti pada tahun sebelumnya, saat hujan masih turun, petani seperti dirinya harus menambah modal meminimalisir kerugianya.

“Saat terjadi seperti itu, petani disini biasanya memupuk dan menanam kembali yang rusak akibat hujan. Sedangkan saat ada serangan ulat, kami harus mengambil satu-satu ulat tersebut untuk di basmi. Kalau itu terus terjadi, kami berpotensi merugi,” ujarnya. (mg1/fun)

KREJENGAN, Radar Bromo – Hujan yang masih turun di Kabupaten Probolinggo dikeluhkan para petani tembakau. Pasalnya, hujan dapat merusak tanaman tembakau. Apalagi, lahan milik petani tembakau kini diserang hama ulat. Jika tidak teratasi, diprediksi hasil panen tidak akan maksimal, bahkan bisa merugi.

Seperti yang diungkapkan Imam wahyudi, 43, petani tembakau asal Desa Sokaaan, Kecamatan Krejengan. Tanaman tembakaunya saat ini mengalami kendala pertumbuhan.  Hal itu disebabkan oleh adanya hujan yang masih sering terjadi pada musim kemarau saat ini.

“Di tanah 200 meter ini saya tanam sekitar 4.000 pohon tembakau. Sebagian banyak yang rusak mau mati karena terkena hujan yang masih sering terjadi. Daun tembakaunya mengkerut layu dan berwarna kuning, tidak segar seperti tembakau sehat pada umumnya,” ujarnya saat ditemui  Rabu (15/7) lalu.

Tidak hanya itu, dia juga mengeluhkan adanya ulat yang menyerang tanamannya. Ini juga menjadi penyebab rusaknya tanaman tembakaunya. Serangan ulat membuat perkembangan tembakau terganggu, sehingga tanamannya akan terus kecil.

“Ulat kalau sudah memakan pucuk tembakau. maka tanamannya tidak mungkin bisa tinggi. Sekarang sudah mulai ada serangan hama ulat,” ujarnya.

AKIBAT ULAT: Ulat yang ditangkap petani tembakau. (FOto: Agus Gaiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)

Imam menambahkan, saat selesai panen tembakau tahun lalu ia mendapatkan untung, dengan penghasilan Rp 18 Juta. “Dulu sampai segitu bersihnya, sebab harga perkilonya ada pada Rp 35 ribu. Semoga saja saat panen saat ini harganya bisa capai segitu, bahkan harapannya lebih,” ujarnya.

Hal yang sama juga dikatakan, Zainullah Hasan salah satu petani yang memiliki lahan tembakau di dekat lahan Imam Wahyudi. Zainullah mengungkapkan, seperti pada tahun sebelumnya, saat hujan masih turun, petani seperti dirinya harus menambah modal meminimalisir kerugianya.

“Saat terjadi seperti itu, petani disini biasanya memupuk dan menanam kembali yang rusak akibat hujan. Sedangkan saat ada serangan ulat, kami harus mengambil satu-satu ulat tersebut untuk di basmi. Kalau itu terus terjadi, kami berpotensi merugi,” ujarnya. (mg1/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/