Harga Ikan Merangkak Naik karena Banyak Nelayan Jarang Melaut

MAYANGAN, Radar Bromo – Harga ikan di Kota Probolinggo menjelang hari raya Idul Fitri merangkak. Naiknya harga ikan ini disebabkan karena jarangnya nelayan melaut akibat dampak wabah korona.

Ini, seperti yang terpantau Jawa Pos Radar Bromo di Pasar Ikan Mayangan, Sabtu (16/5) siang. Sejumlah pedagang di sana mengaku, sejumlah jenis ikan naik karena jarang ada kapal yang melaut. Lebih lagi jelang Lebaran disertai dengan adanya wabah Covid-19.

Buya, 43, penjual ikan asal Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, menuturkan, sepekan terakhir harga ikan mulai naik. Tilik saja seperti cumi-cumi yang biasanya Rp 45 ribu/kilo kini tembus 60-65 ribu. Begitu juga dengan udang, yang biasanya Rp 55-60 ribu kini Rp 65 ribu/kilo.

Jenis ikan lainnya macam tongkol dari yang biasanya Rp 18 ribu, kemarin menjadi 22 ribu, kepiting dari Rp 65 ribu menjadi Rp 80 ribu, hingga ikan kuniran dan bandeng Rp 20 ribu ke Rp 25 ribu/kilo.

Buya menerangkan bahwa kenaikan harga ikan mulai sepekan lalu tersebut terbilang sangat wajar. Pasalnya, harga ikan naik karena banyak kapal yang tak berlayar. Sebab, para nakhoda dan juga ABK kapal diliburkan untuk memberikan kesempatan berkumpul dengan keluarga saat Lebaran.

“Sekarang banyak yang sedang ngecat tembok dan juga beres-beres rumah masing-masing. Sehingga, jarang ada kapal yang melaut. Semua sibuk mempersiapkan Lebaran,” katanya.

Tak hanya itu, lanjut Buya, selama Ramadan hingga jelang Lebaran, sudah masuk ke musim angin Gending. Sehingga, ikan juga jarang ada. “Jadi, biasanya jelang Lebaran, kami nandon ikan untuk tetap bisa berjualan. Sebab, jika tidak begitu, tidak bisa jualan. Soalnya kan tidak ada kapal yang melaut,” imbuhnya.

Hanya saja, Buya yang biasanya membeli 2 sampai 2,5 kuintal ikan berbagai jenis, kini hanya berani menjual sekitar 1 kuintal saja. Mengingat jumlah pembeli yang menurun akibat dampak dari Covid-19.

“Banyak yang takut ke Covid-19 ini. Jadi, mulai tidak keluar rumah serta khawatir ikan yang disentuh dari tangan ke tangan juga tercemar Covid-19,” bebernya.

Hal senada juga diungkapkan Muhammad Bustomi, penjual ikan asal Mayangan. Menurutnya, stok yang menipis tersebut membuat ia harus memesan dari luar daerah. Seperti kepiting dan jenis ikan lainnya. Tentunya hal itulah yang membuat harganya juga alami kenaikan. “Beberapa jenis ikan kita dikirim dari luar daerah. Seperti Bangil dan juga daerah tapal kuda lainnya. Makanya harga ikan yang kiriman, seperti cumi-cumi dan kepiting cukup mahal,” kata Bustomi. (rpd/fun)