alexametrics
25.2 C
Probolinggo
Sunday, 26 June 2022

Begini Caranya agar Sukses dalam Ramadan

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimana orang dikatakan sukses dalam Ramadan? Apakah cukup hanya dengan menyelesaikan kewajiban berpuasa Ramadan?

ESTININGRUM, KEDOPOK


Waalaikum Salam Wr. Wb.

RAMADAN ibaratnya adalah training selama sebulan penuh. Agar, pada 11 bulan berikutnya bisa mencapai apa yang Allah SWT sebut dalam Alquran sebagai takwa.

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183)

Maka, tolok ukur suksesnya Ramadan, bukan hanya terletak di bulan Ramadan. Melainkan, juga setelah Ramadan. Selama Ramadan kita dilatih menahan nafsu. Apakah dibenarkan setelah Ramadan kita bebas menuruti nafsu?

Sayangnya, banyak di antara kaum muslimin menganggap menahan nafsu, menahan hasrat-hasrat kotor dari hati, itu hanya pada siang hari. Begitu Magrib tiba, semua jadi lepas, bebas begitu saja.

Padahal, siang hari itu adalah latihan agar pada malam harinya juga terbiasa menahan diri dari sifat-sifat tercela. Dan, satu bulan ini (Ramadan) adalah latihan untuk menghadapi 11 bulan ke depan.

Selama Ramadan kita menjalani jihad yang paling utama. Yakni, berperang melawan diri sendiri, melawan nafsu, dan melawan ego. Selama berpuasa, orang beriman dilatih untuk tidak marah, misalnya. Maka, setelah berpuasa, apabila latihan Ramadan-nya sukses, maka dia akan pensiun jadi pemarah.

Selama berpuasa, orang beriman dilatih untuk tidak bicara yang menyakitkan orang lain. Maka, saat selesai Ramadan, dia akan terbiasa mengucapkan kata-kata yang santun.

Berpuasa saja asal puasanya benar, tentu sudah mencukupi. Karena hidup di dunia ini sejatinya adalah berpuasa. Berbukanya nanti saat orang-orang beriman itu masuk Surga.

Kenapa hidup ini disebut berpuasa? Puasa dalam bahasa Arab disebut shiyam atau shoum yang berarti menahan. Sementara, orang beriman, Allah SWT perintahkan menahan diri. Mata menahan diri dari memandang yang haram, telinga menahan diri dari mendengar yang haram, mulut menahan diri dari ghibah, berbohong, memfitnah, dan mencela makhluk Allah SWT yang lain.

Tangan menahan diri dari mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Kaki menahan diri dari melangkah ke tempat-tempat yang tidak diridai Allah SWT. Begitu juga hati menahan diri dari segala macam hasrat-hasrat kotor.

Maka, jika setelah Ramadan kita mampu menjaga seluruh anggota badan lahir-batin dari yang dilarang agama, itulah tanda bahwa puasa Ramadan kita sukses dijalani. Karena telah mencapai apa yang Allah SWT maksud dari tujuan berpuasa, yakni agar engkau bertakwa. Wallahu a’lam bisshowab. (*)


*) Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong. Wakil Sekretaris Komisi Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat MUI Jawa Timur. Alumnus Rushaifah, Makkah, asuhan Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawy Al Maliki

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimana orang dikatakan sukses dalam Ramadan? Apakah cukup hanya dengan menyelesaikan kewajiban berpuasa Ramadan?

ESTININGRUM, KEDOPOK


Waalaikum Salam Wr. Wb.

RAMADAN ibaratnya adalah training selama sebulan penuh. Agar, pada 11 bulan berikutnya bisa mencapai apa yang Allah SWT sebut dalam Alquran sebagai takwa.

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183)

Maka, tolok ukur suksesnya Ramadan, bukan hanya terletak di bulan Ramadan. Melainkan, juga setelah Ramadan. Selama Ramadan kita dilatih menahan nafsu. Apakah dibenarkan setelah Ramadan kita bebas menuruti nafsu?

Sayangnya, banyak di antara kaum muslimin menganggap menahan nafsu, menahan hasrat-hasrat kotor dari hati, itu hanya pada siang hari. Begitu Magrib tiba, semua jadi lepas, bebas begitu saja.

Padahal, siang hari itu adalah latihan agar pada malam harinya juga terbiasa menahan diri dari sifat-sifat tercela. Dan, satu bulan ini (Ramadan) adalah latihan untuk menghadapi 11 bulan ke depan.

Selama Ramadan kita menjalani jihad yang paling utama. Yakni, berperang melawan diri sendiri, melawan nafsu, dan melawan ego. Selama berpuasa, orang beriman dilatih untuk tidak marah, misalnya. Maka, setelah berpuasa, apabila latihan Ramadan-nya sukses, maka dia akan pensiun jadi pemarah.

Selama berpuasa, orang beriman dilatih untuk tidak bicara yang menyakitkan orang lain. Maka, saat selesai Ramadan, dia akan terbiasa mengucapkan kata-kata yang santun.

Berpuasa saja asal puasanya benar, tentu sudah mencukupi. Karena hidup di dunia ini sejatinya adalah berpuasa. Berbukanya nanti saat orang-orang beriman itu masuk Surga.

Kenapa hidup ini disebut berpuasa? Puasa dalam bahasa Arab disebut shiyam atau shoum yang berarti menahan. Sementara, orang beriman, Allah SWT perintahkan menahan diri. Mata menahan diri dari memandang yang haram, telinga menahan diri dari mendengar yang haram, mulut menahan diri dari ghibah, berbohong, memfitnah, dan mencela makhluk Allah SWT yang lain.

Tangan menahan diri dari mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Kaki menahan diri dari melangkah ke tempat-tempat yang tidak diridai Allah SWT. Begitu juga hati menahan diri dari segala macam hasrat-hasrat kotor.

Maka, jika setelah Ramadan kita mampu menjaga seluruh anggota badan lahir-batin dari yang dilarang agama, itulah tanda bahwa puasa Ramadan kita sukses dijalani. Karena telah mencapai apa yang Allah SWT maksud dari tujuan berpuasa, yakni agar engkau bertakwa. Wallahu a’lam bisshowab. (*)


*) Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong. Wakil Sekretaris Komisi Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat MUI Jawa Timur. Alumnus Rushaifah, Makkah, asuhan Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawy Al Maliki

MOST READ

BERITA TERBARU

/