alexametrics
27.4 C
Probolinggo
Thursday, 30 June 2022

Banyak Berjualan di Trotoar, Pedagang di Pasar Baru Disorot

PROBOLINGGO– Komisi 3 DPRD Kota Probolinggo meminta pedagang di Pasar Baru untuk ditata ulang. Pasalnya, banyak pedagang yang malah berjualan di trotoar, bukan di tempat penampungan sementara (TPS) yang telah disediakan. Dampaknya, lokasi sekitar pasar menjadi semrawut.

Permintaan itu disampaikan Komisi 3 saat melakukan kunjungan ke TPS, rabu (15/8). Ketua Komisi 3 Agus Riyanto mengatakan, pihaknya ingin memantau kondisi TPS yang tidak ditempati pedagang. Selain itu, juga melihat kondisi pasar pasca dibatalkannya pembangunan tahun ini.

“Kami ingin melihat kesiapan rehabilitasi yang akan dilakukan. Beberapa lapak kosong karena tidak ditempati oleh para pedagang,” ujarnya. Karena itu, pihaknya akan memanggil dinas terkait untuk melakukan pengecekan kembali dan penataan yang baik terhadap TPS. Sehingga, pada pedagang bisa berjualan di TPS yang telah disediakan.

“Secepatnya kami akan merapatkan hal ini. Sehingga, TPS yang kosong segera terisi dan jalan di sekitar pasar menjadi rapi, tidak semrawut,” ungkapnya.

Banyaknya TPS yang kosong, dikeluhkan pedagang yang menempati TPS. Mariyam, 40, pedagang asal Kelurahan Sumberwetan, Kecamatan Kedopok. Banyaknya TPS yang kosong mempengaruhi dagangan penjual yang selama ini tertib. Pembeli lebih suka membeli barang yang dijual di pinggir jalan.

“Iya sepi. Kan itu ada pedagang yang direlokasi juga ke TPS, tetapi tidak menempati. Malah mereka membuat lapak tersendiri di luar dari TPS. Pembeli akhirnya tidak masuk. Mereka cukup di pinggir jalan untuk belanja,” terang pedagang sayuran dan bumbu dapur ini.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Kholifah, pedagang asal Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran. “Kami berharap ada upaya dari pihak dinas terkait untuk hal ini. Paling tidak ditertibkan dan bisa berjualan di TPS juga. Dengan begitu pasti TPS akan ramai oleh para pembeli,” terangnya.

Di sisi lain, salah seorang pedagang yang ada di sekitar Jl. Pahlwan yang berjualan di trotoar, Mul, 70, mengatakan, pihaknya juga merupakan pedagang pasar yang akan dilakukan rehabilitasi tersebut. Namun, ia mengaku tidak mendapatkan lapak di TPS, sehingga ia berjualan di luar. “Tidak mendapatkan lapak saya. Jadi, saya berjualan di sini saja,” ungkapnya.

Sementara itu, Rahaman, Pejabat Pelaksan Teknis Kegiatan (PPTK) Dinas PUPR setempat mengatakan, tahapan pembangunan Pasar Baru tahun depan akan dimulai Februari. Harapannya, ada waktu yang cukup untuk penyelesaiannya. “Biar tidak seperti sekarang,” katanya.

Seperti diketahui, proyek Pasar Baru mulanya dimenangkan PT Hariz Tiga Putra dari Banyuwangi. Perusahaan ini memenangkan tender setelah mengajukan penawaran sebesar Rp 15,58 miliar. Sedangkan harga penawaran untuk revitalisasi Pasar Baru telah ditetapkan sebesar Rp 18,64 miliar.

Namun, kemudian masuk sanggahan yang mengatakan bahwa PT Hariz tidak memenuhi syarat. Sanggahan tersebut antara lain terkait tenaga ahli yang disampaikan pemenang ternyata masih bekerja di pekerjaan lain. Kemudian, ada perbedaan spesifikasi yang tercantum pada dokumen pengadaan.

Penundaan pembangunan Pasar Baru ini juga rekomendasi dari Komisi III DPRD setempat. Pihaknya meyakini jika Dinas PUPR akan menyerahkan dokumen lelang baru.

Sedangkan, Manajemen Konstruksi (MK) untuk pembangunan 2019 akan dilelang kembali pada akhir 2018. (sid/rf)

PROBOLINGGO– Komisi 3 DPRD Kota Probolinggo meminta pedagang di Pasar Baru untuk ditata ulang. Pasalnya, banyak pedagang yang malah berjualan di trotoar, bukan di tempat penampungan sementara (TPS) yang telah disediakan. Dampaknya, lokasi sekitar pasar menjadi semrawut.

Permintaan itu disampaikan Komisi 3 saat melakukan kunjungan ke TPS, rabu (15/8). Ketua Komisi 3 Agus Riyanto mengatakan, pihaknya ingin memantau kondisi TPS yang tidak ditempati pedagang. Selain itu, juga melihat kondisi pasar pasca dibatalkannya pembangunan tahun ini.

“Kami ingin melihat kesiapan rehabilitasi yang akan dilakukan. Beberapa lapak kosong karena tidak ditempati oleh para pedagang,” ujarnya. Karena itu, pihaknya akan memanggil dinas terkait untuk melakukan pengecekan kembali dan penataan yang baik terhadap TPS. Sehingga, pada pedagang bisa berjualan di TPS yang telah disediakan.

“Secepatnya kami akan merapatkan hal ini. Sehingga, TPS yang kosong segera terisi dan jalan di sekitar pasar menjadi rapi, tidak semrawut,” ungkapnya.

Banyaknya TPS yang kosong, dikeluhkan pedagang yang menempati TPS. Mariyam, 40, pedagang asal Kelurahan Sumberwetan, Kecamatan Kedopok. Banyaknya TPS yang kosong mempengaruhi dagangan penjual yang selama ini tertib. Pembeli lebih suka membeli barang yang dijual di pinggir jalan.

“Iya sepi. Kan itu ada pedagang yang direlokasi juga ke TPS, tetapi tidak menempati. Malah mereka membuat lapak tersendiri di luar dari TPS. Pembeli akhirnya tidak masuk. Mereka cukup di pinggir jalan untuk belanja,” terang pedagang sayuran dan bumbu dapur ini.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Kholifah, pedagang asal Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran. “Kami berharap ada upaya dari pihak dinas terkait untuk hal ini. Paling tidak ditertibkan dan bisa berjualan di TPS juga. Dengan begitu pasti TPS akan ramai oleh para pembeli,” terangnya.

Di sisi lain, salah seorang pedagang yang ada di sekitar Jl. Pahlwan yang berjualan di trotoar, Mul, 70, mengatakan, pihaknya juga merupakan pedagang pasar yang akan dilakukan rehabilitasi tersebut. Namun, ia mengaku tidak mendapatkan lapak di TPS, sehingga ia berjualan di luar. “Tidak mendapatkan lapak saya. Jadi, saya berjualan di sini saja,” ungkapnya.

Sementara itu, Rahaman, Pejabat Pelaksan Teknis Kegiatan (PPTK) Dinas PUPR setempat mengatakan, tahapan pembangunan Pasar Baru tahun depan akan dimulai Februari. Harapannya, ada waktu yang cukup untuk penyelesaiannya. “Biar tidak seperti sekarang,” katanya.

Seperti diketahui, proyek Pasar Baru mulanya dimenangkan PT Hariz Tiga Putra dari Banyuwangi. Perusahaan ini memenangkan tender setelah mengajukan penawaran sebesar Rp 15,58 miliar. Sedangkan harga penawaran untuk revitalisasi Pasar Baru telah ditetapkan sebesar Rp 18,64 miliar.

Namun, kemudian masuk sanggahan yang mengatakan bahwa PT Hariz tidak memenuhi syarat. Sanggahan tersebut antara lain terkait tenaga ahli yang disampaikan pemenang ternyata masih bekerja di pekerjaan lain. Kemudian, ada perbedaan spesifikasi yang tercantum pada dokumen pengadaan.

Penundaan pembangunan Pasar Baru ini juga rekomendasi dari Komisi III DPRD setempat. Pihaknya meyakini jika Dinas PUPR akan menyerahkan dokumen lelang baru.

Sedangkan, Manajemen Konstruksi (MK) untuk pembangunan 2019 akan dilelang kembali pada akhir 2018. (sid/rf)

MOST READ

BERITA TERBARU

/