alexametrics
26.4 C
Probolinggo
Tuesday, 17 May 2022

Ada Pelanggaran Etika Dokter, Manajemen RSUD Bangil Minta Maaf

BANGIL, Radar Bromo – Manajemen RSUD Bangil meminta maaf atas dugaan pelanggaran etik yang dilakukan seorang dokternya. Penyampaian maaf itu disampaikan Plt Direktur RSUD Bangil, Agung Basuki saat hearing Senin (14/10).

Hearing sendiri dihadiri sejumlah anggota DPRD Kabupaten Pasuruan dan perwakilan keluarga pasien. Pada mereka Agung mengakui, ada pelanggaran etika yang dilakukan dokter V. Sebagai dokter, V seharusnya tidak bersikap kasar kepada keluarga pasien.

“Kami mohon maaf, baik secara pribadi atau lembaga. Dan sebagai pimpinan saya bertanggung jawab atas apa yang anak buah saya lakukan,” kata Agung.

Wadir RSUD Bangil, M. Jundi menyampaikan, turut berbela sungkawa atas meninggalnya Eko, 38, warga Lumbangrejo, Kecamatan Prigen. Menurutnya, dokter memang tidak bisa menyembuhkan. Karena yang bisa dilakukan dokter, adalah mengobati.

Insiden yang terjadi di RSUD Bangil menurutnya adalah miskomunikasi. Atas apa yang dilakukan dokter V, pihak manajemen RSUD sudah memberikan teguran. Bahkan, dokter V akhirnya mengundurkan diri karena syok atas apa yang dialaminya.

“Tadi pagi (Kemarin, Red.), dokter V mengajukan permohonan resign atau pengunduran diri,” sambungnya.

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan, Joko Cahyono yang juga keluarga pasien mengapresiasi sikap Agung Basuki. Karena sebagai pimpinan, dia mau mengakui kesalahan yang dilakukan anak buahnya.

Namun, ia menegaskan, persoalan yang ada di RSUD Bangil, bukan hanya sampai di situ. “Tetapi bagaimana caranya agar RSUD Bangil bisa lebih baik dan hal serupa tidak kembali terulang,” tandasnya.

Ia juga meminta agar pernyataan Jundi saat press realese dicabut. Karena, pernyataan tersebut menyakiti keluarga pasien. Misalnya tentang rujukan. Rujukan diberikan, saat pasien sudah sekarat.

“Padahal, keluarga pasien tidak keberatan kalau harus dirujuk. Pak Jundi juga menyatakan keluarga puas dengan layanan RSUD Bangil. Bagaimana bisa puas. Wong pasien kondisinya semakin parah?” imbuhnya.

Joko juga menegaskan, tidak pernah menyebutkan dirinya anggota dewan di depan dokter V. Tapi, dalam pers rilis, malah dikatakan, dirinya menyebutkan sebagai anggota dewan. Bahkan menjadi pemula munculnya cekcok.

“Cobalah pakai hati nurani. Bagaimana kalau Anda dalam posisi keluarga korban. Apalagi, ketika dokter V bilang dan mengintimidasi keluarga dengan mengatakan bahwa sekolah dokter itu mahal,” urainya.

Pihaknya berharap, persoalan-persoalan serupa tidak sampai terulang. “Kami ingin, agar kejadian serupa tidak terulang. Rumah sakit memang tidak bisa serta merta menyembuhkan. Tapi bukan berarti menjadi tempat mempercepat kematian,” terangnya. (one/hn)

BANGIL, Radar Bromo – Manajemen RSUD Bangil meminta maaf atas dugaan pelanggaran etik yang dilakukan seorang dokternya. Penyampaian maaf itu disampaikan Plt Direktur RSUD Bangil, Agung Basuki saat hearing Senin (14/10).

Hearing sendiri dihadiri sejumlah anggota DPRD Kabupaten Pasuruan dan perwakilan keluarga pasien. Pada mereka Agung mengakui, ada pelanggaran etika yang dilakukan dokter V. Sebagai dokter, V seharusnya tidak bersikap kasar kepada keluarga pasien.

“Kami mohon maaf, baik secara pribadi atau lembaga. Dan sebagai pimpinan saya bertanggung jawab atas apa yang anak buah saya lakukan,” kata Agung.

Wadir RSUD Bangil, M. Jundi menyampaikan, turut berbela sungkawa atas meninggalnya Eko, 38, warga Lumbangrejo, Kecamatan Prigen. Menurutnya, dokter memang tidak bisa menyembuhkan. Karena yang bisa dilakukan dokter, adalah mengobati.

Insiden yang terjadi di RSUD Bangil menurutnya adalah miskomunikasi. Atas apa yang dilakukan dokter V, pihak manajemen RSUD sudah memberikan teguran. Bahkan, dokter V akhirnya mengundurkan diri karena syok atas apa yang dialaminya.

“Tadi pagi (Kemarin, Red.), dokter V mengajukan permohonan resign atau pengunduran diri,” sambungnya.

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan, Joko Cahyono yang juga keluarga pasien mengapresiasi sikap Agung Basuki. Karena sebagai pimpinan, dia mau mengakui kesalahan yang dilakukan anak buahnya.

Namun, ia menegaskan, persoalan yang ada di RSUD Bangil, bukan hanya sampai di situ. “Tetapi bagaimana caranya agar RSUD Bangil bisa lebih baik dan hal serupa tidak kembali terulang,” tandasnya.

Ia juga meminta agar pernyataan Jundi saat press realese dicabut. Karena, pernyataan tersebut menyakiti keluarga pasien. Misalnya tentang rujukan. Rujukan diberikan, saat pasien sudah sekarat.

“Padahal, keluarga pasien tidak keberatan kalau harus dirujuk. Pak Jundi juga menyatakan keluarga puas dengan layanan RSUD Bangil. Bagaimana bisa puas. Wong pasien kondisinya semakin parah?” imbuhnya.

Joko juga menegaskan, tidak pernah menyebutkan dirinya anggota dewan di depan dokter V. Tapi, dalam pers rilis, malah dikatakan, dirinya menyebutkan sebagai anggota dewan. Bahkan menjadi pemula munculnya cekcok.

“Cobalah pakai hati nurani. Bagaimana kalau Anda dalam posisi keluarga korban. Apalagi, ketika dokter V bilang dan mengintimidasi keluarga dengan mengatakan bahwa sekolah dokter itu mahal,” urainya.

Pihaknya berharap, persoalan-persoalan serupa tidak sampai terulang. “Kami ingin, agar kejadian serupa tidak terulang. Rumah sakit memang tidak bisa serta merta menyembuhkan. Tapi bukan berarti menjadi tempat mempercepat kematian,” terangnya. (one/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/