RSUD Bangil Pastikan Bukan Suspect Korona, Pasien Mengidap Sakit TBC

BANGIL, Radar Bromo – RSUD Bangil memastikan, tidak ada pasien suspect korona yang dirawat di tempat itu. Menyusul ramainya pemberitaan tentang adanya pasien suspect korona yang dirawat di RSUD Grati dan RSUD Bangil.

Penegasan itu disampaikan M. Hayat, Humas RSUD Bangil, Sabtu (14/3) malam saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Bromo. Kepastian itu diperoleh setelah tim RSUD Bangil menelusuri riwayat penyakit pasien. Dan hasilnya, diketahui pasien perempuan itu tidak menderita penyakit korona.

Hayat menjelaskan, Tim Pelacak Krisis Kesehatan RSUD Bangil melakukan surveilans epidemologi atau analisa jejak riwayat penyakit pasien. Dan hasilnya, pasien yang dirawat ini jauh dari kriteria penyakit korona.

“Jadi memang terlalu dini menginformasikan pasien yang dirawat ini suspect korona. Karena dari pemeriksaan ternyata pasien ini mengidap TBC dan 10 tahun terapi putus kontrol,” terangnya.

Pasien perempuan ini, baru pulang umrah. Dia awalnya memang dirawat di RSUD Grati dan kemudian dirujuk ke RSUD Bangil. Petugas kemudian, memilih melakukan penanganan layaknya suspect korona. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kewaspadaan, meskipun belum ditetapkan sebagai suspect korona.

“Memang dari awal kami perlakukan seolah-olah itu suspect korona, dengan tujuan untuk kewaspadaan. Dan setelah kita cek, hasilnya sudah keluar sore ini (kemarin, Red) dan dipastikan bukan penderita korona,” terangnya.

Hayat menjelaskan, saat ini pasien masih dirawat di ruang isolasi. Namun, statusnya sebagai pasien TBC. Sebab, TBC juga merupakan penyakit berbahaya.

Dari keterangan riwayat sakitnya, pasien memang menderita TBC. Namun, 10 tahun putus terapi putus kontrol. Selain itu, pasien juga menderita diabetes melitus atau gula darah tinggi dan tergantung pada insulin.

Dari keterangan yang diperoleh, sebelum berangkat umrah pasien perempuan ini sudah sakit sesak. Lalu saat di Makkah, pasien sering pingsan dan lemas karena hypoglikemia.

RSUD Bangil sendiri, meminta pasien mengisi lengkap riwayat kesehatan terdahulu. Sehingga bisa ditangani cepat.

“Untuk pasien, saat ini tetap dirawat di ruang isolasi. Namun, statusnya untuk perawatan TBC yang juga termasuk penyakit berbahaya,” terangnya. (eka/hn)