alexametrics
26.6 C
Probolinggo
Monday, 26 October 2020

Geliat Kerajinan Ronce Melati di Bangil yang Kewalahan Ketika Musim Manten

Ronce melati merupakan kerajinan turun temurun di wilayah Lumpang Bolong, Kelurahan Dermo, Kecamatan Bangil. Kerajinan untuk aksesori manten ini terus berkembang, hingga banyak warga yang menggelutinya. Sampai-sampai, lingkungan Lumpang Bolong dikenal sebagai kampung ronce melati.

——————-

Tangan Urifah, 53, tampak sibuk. Matanya fokus pada helaian benang yang disambungkannya pada lubang jarum untuk menjahit. Ia tidak sedang menjahit celana ataupun baju. Melainkan, menjahit ujung-ujung bunga melati yang ada di depannya.

Satu persatu bunga melati dikaitkannya. Hingga tercipta rangkaian yang indah. Rangkaian dari bunga melati itu, selanjutnya tinggal disesuaikannya. Apakah untuk sanggul, tiban dada, atau untuk hiasan tubuh lainnya.

Butuh waktu untuk mengerjakannya. Biasanya, untuk menyelesaikan satu set ronce melati, bisa memakan waktu seharian. Bahkan, bisa lebih.

“Biasanya ada yang membantu. Supaya lebih cepat menyelesaikan ronce melati pesanan orang,” kata perempuan asal Lumpang Bolong, Kelurahan Dermo, Kecamatan Bangil, ini.

Aktivitas yang dilakukan Urifah, dinamai ronce melati. Ronce melati itu, biasanya dimanfaatkan untuk hiasan atau aksesori pengantin saat pernikahan.

Ragamnya bermacam-macam. Biasanya, untuk hiasan rambut, seperti sanggul. Atau untuk hiasan dada, seperti tiban dada atau hiasan yang lainnya.

Kerajinan pembuatan ronce sudah ditekuninya sejak masih muda. Mulanya, ia ikut-ikutan bibinya. Namun, lambat laun ia memulai usaha ronce sendiri.

“Saya belajar ngeronce sejak umur 21 tahun. Ketika itu, belajar pada Bulik yang perajin ronce. Setelah bisa, saya akhirnya membuka usaha sendiri dan menerima order sendiri,” sambungnya.

Mulanya, tak mudah belajar ngeronce. Butuh ketelatenan dan kesabaran. Karena membuat ronce melati, tak jarang “menjemukan”.

Ia mengaku, dulu belajar sekitar semingguan. Ketika itu, ia sering membuat kesalahan. Berkali-kali pembuatan ronceannya gagal. Mulai dari melatinya yang rusak, hingga benang yang bulet. Namun, ia tak menyerah. Sampai akhirnya, ia mahir membuat ronce.

Awalnya, ia hanya mengerjakan order yang diberi bibinya. Namun, lambat laun ia mulai menerima order sendiri. Sampai akhirnya ia bisa mandiri.

Pesanan ronce melati buatannya, datang dari beberapa daerah. Tidak hanya lokal Pasuruan, tetapi juga sampai Surabaya. Harganya bervariasi. Dari yang hanya Rp 150 ribu per set, hingga Rp 250 ribu per set.

Order yang datang, kebanyakan ketika musim pernikahan. Ia bahkan sampai kualahan menerima pesanan. Sebab, saat musim pernikahan, jumlah pesanan meningkat.

“Bisa lebih dari sepuluh set kalau momen pernikahan. Seperti bulan-bulan Bakda Maulud, Syawal, Rajab, atau momen pernikahan lainnya. Tapi, kalau bukan momen pernikahan, relatif sepi. Bahkan, bisa tidak ada pesanan,” ungkap dia.

Menurut perempuan kelahiran 14 September 1966 ini, bukan hanya dirinya yang menjadi perajin ronce melati di wilayah Lumpang Bolong. Karena kerajinan serupa dilakoni ibu-ibu lainnya.

Salah satunya, Ayu, 25. Ia mengaku, sudah bisa ngeronce sejak SMP. Kerajinan ronce tersebut, dilakoninya ketika ada pesanan yang datang. “Hanya ketika ada pesanan saja,” kata perempuan yang merupakan ibu rumah tangga tersebut.

Ia mengaku, hampir tak ada kendala untuk meronce. Termasuk bahan baku. Karena di wilayahnya, bahan baku melati banyak tersedia. Kalaupun kosong, bisa mencarinya ke luar kota. Seperti Surabaya.

Memang, kata Ayu, ada masa saat harga bahan baku mahal. Seperti ketika memasuki bulan Besar. Bisa sampai Rp 300 ribu per kilogramnya. Kalau sudah begitu, mau tidak mau perajin ronce memasang tarif tinggi menyesuaikan harga bahan baku.

Lurah Dermo, Kecamatan Bangil, Ifan Gunadi menguraikan, kerajinan ronce memang sudah lama ditekuni warga setempat. Bahkan, bertahun-tahun hingga menjadi kerajinan turun temurun.

Sekarang ini, perajin ronce terus berkembang. Tak salah jika Lumpang Bolong juga dikenal sebagai kampung ronce melati. “Banyak warga yang menekuni kerajinan ronce melati di wilayah setempat,” jelasnya.

Ia menambahkan, kerajinan ronce melati memiliki potensi, khususnya untuk sektor wisata. Ke depan, pihaknya berangan-angan untuk menjadikan kampung ronce sebagai destinasi wisata.

“Termasuk pengembangan baru, berupa penyulingan minyak melati. Ke depan, kami ingin mewujudkan kampung ronce tersebut sebagai destinasi wisata edukasi. Harapan kami, ada support dari Pemkab untuk mendukungnya,” pungkas dia. (one/hn/fun)

- Advertisement -
- Advertisement -

MOST READ

Siswi SDN di Kraksaan Lolos dari Penculikan, Ini Ciri-Ciri Pelaku

KRAKSAAN, Radar Bromo - Niat Cld, 13, berangkat sekolah, Rabu (12/2) pagi berubah menjadi kisah menegangkan. Siswi SDN Kandangjati Kulon 1, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo,...

Mau Ke Tretes, Muda-mudi Asal Gempol Tertabrak Truk Tangki di Candiwates, Penumpangnya Tewas

PRIGEN – Nasib sial dialami pasangan muda-mudi ini. Minggu siang (20/1) keduanya terlibat kecelakaan saat hendak menuju Tretes, Akibatnya, satu orang tewas dan satu...

Siswa MI di Pandaan Tewas Gantung Diri, Diduga usai Smartphonenya Disembunyikan Orang Tua

PANDAAN, Radar Bromo – Tragis nian cara AA, 11, mengakhiri hidupnya. Pelajar di Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan ini, ditemukan tewas, Minggu (17/11) pagi. Dia...

Geger Mayat Wanita di Pantai Pasir Panjang-Lekok, Kondisinya Terikat Tali dan Dikaitkan Batu

LEKOK, Radar Bromo - Temuan mayat dengan kondisi terikat, kembali menggegerkan warga. Rabu (18/9) pagi, mayat perempuan tanpa identitas ditemukan mengapung di Pantai Pasir...

BERITA TERBARU

Penuhi Syarat, JMSI Serahkan Berkas Pendaftaran ke Dewan Pers

Dideklarasikan 8 Februari 2020, dalam waktu singkat JMSI dapat memenuhi persyaratan menjadi konstituen Dewan Pers.

Ngantuk, Pemotor asal Sidoarjo Tabrak Taman Bambu Runcing Pandaan    

Motor Honda Supra X yang dikendarai korban seorang diri, menabrak taman Bambu Runcing

Fortuner Tabrak Pikap Parkir di Prigen, Tiga Terluka  

Sesampainya di lokasi kejadian, Fortuner itu menabrak dari belakang pikap Isuzu Panther pikap yang diparkir di bahu jalan sebelah kiri.

Warga Binaan Rutan Bangil Ubah Lahan Parkir Jadi Bengkel Mebel

Hidup di penjara, tidak boleh mematikan kreativitas. Sebab, meski hidup di lingkungan yang terbatas, seorang tahanan masih bisa berkreasi. Hal ini yang dilakukan di Rutan Bangil dengan mengembangkan industri mebeler.

Ajukan Lagi Lintasan Atletik Rp 4 M untuk Stadion Pogar

Dinas Pemuda dan Olah Raga (Dispora) Kabupaten Pasuruan berencana mengusulkan kembali tambahan fasilitas di di Stadion R Soedrasono, tahun depan.