alexametrics
24C
Probolinggo
Saturday, 23 January 2021

Harga Cabai Rawit Terus Turun, Terdampak Petani Mulai Banyak Panen

KANIGARAN, Radar Bromo – Harga cabai rawit di Probolinggo terus turun dengan semakin banyaknya panen hasil cabai rawit dari petani. Saat ini di sejumlah pasar tradisional, harga cabai berada di kisaran Rp 40 ribu sampai Rp 45 ribu per kilogram.

Meningkatnya panen terutama di daerah penghasil cabai seperti Bantaran dan Leces, membuat harga cabai rawit berangsur turun. Turunnya harga ini diprediksi akan masih terus terjadi.

“Memang sudah turun sekarang soalnya banyak yang panen. Kalau di petani harga masih Rp 30 ribu per kilogram,” ujar Dul Gani, 40, salah satu petani yang ditemui Radar Bromo, Minggu (13/10) di Bantaran.

Meskipun harga turun, harga cabai rawit saat ini masih termasuk menguntungkan petani. Kondisi cuaca yang panas membuat hasil panen cabai rawit bagus. “Harga cabai rawit sekarang masih lebih tinggi daripada biaya produksi. Petani dapat hasil,” ujar Dul Gani.

Sebaliknya saat harga cabai rawit tinggi, di mana harga di petani sempat mencapai Rp 60-70 ribu per kg, petani tidak dapat untung. “Gimana mau untung, cabai yang dijual tidak ada. Cabai rawitnya masih baru tanam dan belum ada hasil,” ujarnya.

Dul Gani menuturkan bahwa dia pernah merasakan harga cabai rawit sangat rendah, yakni mencapai Rp 5.000 per kilogram. Kalau sudah seperti itu, bapak 2 anak ini memilih pasrah menjual cabai rawit ke tengkulak.

“Kalau sekarang Alhamdulillah sudah untung meskipun harga jualnya tidak setinggi 1 bulan yang lalu,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Sholihin,40, petani cabai di Bantaran. Meskipun harga tidak setinggi 1 bulan lalu, dia mengaku masih mendapatkan pendapatan yang bagus.

“Sekarang harga jual untuk cabai rawit yang hijau itu Rp 15 ribu per kilogram. Kalau yang merah itu Rp 25 ribu sampai Rp 35 ribu. Kalau di pasar bisa lebih mahal,” ujarnya.

Menurut Sholihin, saat ini cuaca yang panas membuat hasil panen bagus. Saat harga cabai rawit tinggi, petani tidak ada yang panen. “Jadi percuma harga tinggi, kalau tidak ada yang bisa dijual,” ujarnya. (put/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU