Pengenalan Sekolah Digelar via Online – Tatap Muka, Tapi Tetap Aman

CEK DULU: Petugas sekolah memeriksa suhu tubuh para siswa baru yang masuk ke SMPN 4 Kota Pasuruan, Senin (13/6) pagi. Awal tahun ajaran baru ini siswa tingkat SMP dan SMA mulai menjalani masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) secara virtual maupun tatap muka dengan penerapan protokol kesahatan yang ketat. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

RADAR BROMO – Di hari pertama masuk sekolah Senin (13/7), kebanyakan sekolah di Pasuruan dan Probolinggo hanya menggelar kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Tiap sekolah memiliki kebijakan berbeda untuk MPLS. Ada yang menggelarnya secara online atau daring, namun tak sedikit memakai tatap muka.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kota Pasuruan Mualif Arif menyebut, MPLS dilaksanakan di jenjang pendidikan SD dan SMP. Pihaknya juga menekankan kegiatan itu agar tetap menerapkan protokol kesehatan, terutama bagi yang menggelarnya dengan tatap muka.

“Memang penting bagi siswa baru agar mereka mengenal lingkungan sekolah dan guru-gurunya,” ungkapnya.

Setelah kegiatan MPLS selesai, anak-anak tetap akan kembali menjalani BDR. Menurut Ayik –sapaan Mualif Arif, BDR tetap diberlakukan selama Kota Pasuruan belum berstatus zona hijau dalam peta sebaran Covid-19. Kalau pun sudah menjadi zona hijau, juga tidak serta-merta kegiatan belajar-mengajar (KBM) bisa langsung kembali normal.

PROTOKOLER KESEHATAN: Siswa di SDN Mangunharjo 1 dites suhunya sebelum masuk ke sekolah. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

“Tetap butuh proses. Jadi ketika zona hijau, yang didahulukan untuk sekolah itu jenjang SMP dan SMA. Ini sesuai surat keputusan bersama (SKB) empat kementerian,” ungkap Ayik.

Dua bulan kemudian, baru anak-anak SD yang diperbolehkan sekolah normal. Sedangkan bagi anak-anak TK, harus menunggu dua bulan setelah anak-anak SD masuk sekolah. “Jadi memang ketentuannya bertahap, itu juga ada beberapa hal yang penting diperhatikan,” kata Ayik.

Misalnya saja dengan memastikan kesiapan sarana dan prasarana sekolah yang menunjang protokol kesehatan. Seperti pengaturan tempat duduk, ketersediaan tempat cuci tangan atau hand sanitizer dan lainnya. Anak-anak yang bersekolah apabila sudah zona hijau nanti, juga harus separo dari jumlah keseluruhan di tiap kelas. Di samping itu, sekolah juga harus selalu berkoordinasi dengan layanan kesehatan terdekat.

“Kami siapkan skenario itu dengan menggunakan nomor presensi ganjil dan genap. Jadi masuk sekolahnya itu di-shift, sehari belajar di sekolah, sehari BDR,” bebernya.

Meski begitu, aturan itu juga tak mengikat. Sekolah yang akan menerapkan belajar di sekolah, harus disertai pernyataan Komite Sekolah dan wali murid. Apabila ada wali murid yang was-was, juga tak dipaksa untuk membiarkan anaknya belajar di sekolah. Asalkan, wali murid itu membuat surat pernyataan lebih dulu yang menyatakan kekhawatiran anaknya akan penyebaran virus korona.

ONLINE: Pengenalan siswa dengan guru di sebuah sekolah di kawasan Bangil yang memakai sistem online. (Foto: Istimewa)

“Jadi aturan ini luwes, yang terpenting itu mengedepankan aspek kesehatan siswa, guru dan wali murid,” ungkapnya.

Terkait pembelajaran daring, Ayik sendiri mengakui jika hal itu masih terdapat kekurangan. Sehingga penerapan selama ini kurang optimal. Apalagi dengan faktor kesenjangan SDM wali murid hingga persoalan kuota internet yang menjadi kebutuhan prioritas bagi wali murid. Menurut dia, selama BDR, siswa mendapatkan dua metode pembelajaran. Yakni daring dan luring.

“Kalau daring, ada beberapa aplikasi yang disediakan Kemendikbud. Di Kota Pasuruan ini tidak bisa dilaksanakan sepenuhnya metode daring itu. ada beberapa keterbatasan, seperti sarpras orangtua, SDM, dan kemampuan orangtua itu sendiri. Makanya kami kombinasikan dengan metode luring,” jelasnya.

Melalui metode luring, pihaknya meminta seluruh sekolah agar setiap tenaga pendidik bertanggung jawab penuh atas pembelajaran kepada siswa. Salah satunya dengan cara home visit yang bisa dilakukan guru. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan bisa dengan memberikan materi pelajaran secara berkelompok atau melalui modul.

“Sekarang kami minta agar anak-anak tidak hanya diberi tugas. Tetapi mengedepankan materi pelajaran sehingga anak-anak paham dengan pelajaran yang mestinya mereka dapatkan, tidak terbebani dengan tugas,” pungkasnya.

Salah satu sekolah yang melaksanakan MPLS sebagaimana pantauan koran ini di SMPN 4 Kota Pasuruan. Kegiatan itu berlangsung selama enam hari ke depan. Lantaran sebanyak 256 siswa baru dijadwal. Setiap hari, ada 45 siswa yang mengikuti kegiatan MPLS. Mereka menempati tiga kelas. Masing-masing kelas ada 15 siswa.

“Dalam kegiatan ini, ada materi yang diberikan seperti tata tertib sekolah, pengenalan lingkungan sebagai sekolah adiwiyata nasional, cara pembelajaraan aktif dalam era pandemi kemudian pembiasaan seperti salam kepada guru piket sebelum masuk kelas, berdoa di dalam kelas dan dilanjutkan membaca juz amma dan menyanyikan lagu Indonesia Raya baru pembelajaran,” kata Kaur Kesiswaan SMPN 4 Kota Pasuruan Kaur Kesiswaan.

Menurutnya, kegiatan MPLS tak dilakukan dalam waktu yang lama. Setiap hari, MPLS digelar selama dua jam. Mulai pukul 08.00 hingga 10.00. “Di sela MPLS kami beri waktu istirahat untuk pembagian buku paket panduan belajar kepada anak-anak,” bebernya. (tom/ar/put/fun)