alexametrics
26.3 C
Probolinggo
Sunday, 29 November 2020

Dengan Pembelajaran Daring, Biaya Internet Membengkak Segini

PASURUAN, Radar Bromo – Tidak semua siswa maupun orangtua harus bersedih meski di hari pertama masuk sekolah atau saat belajar mengajar nanti, hanya bisa dilakukan via daring. Ada orangtua siswa yang justru merasa lega, karena mekanisme kegiatan belajar mengajar, belum bisa diterapkan dengan cara konvensional.

Sebagian orangtua justru merasa lebih tenang apabila belajar dari rumah (BDR) dilanjutkan. Di tengah pandemi, mereka masih khawatir jika kegiatan belajar mengajar (KBM) dikembalikan seperti semula.

Hal itu diutarakan Marwan Andrianto, salah satu wali murid di SMPIT BIC Kota Pasuruan. Menurut dia, BDR memang sebaiknya tetap diberlakukan. Sebab pandemi Covid-19 masih belum berakhir. Dia khawatir jika KBM dinormalkan, justru membuat anaknya terpapar virus.

“Dalam kondisi korona ini ya takut anak terpapar. Jadi ndak ikhlas kalau anak masuk tiap hari. Sekarang sekolah berencana menerapkan pertemuan seminggu sekali, kalau seperti itu tidak masalah. Karena anak juga perlu bersosialisasi dengan teman-temannya dan guru,” kata Marwan.

Begitu pula dengan A Sofyan Sauri. Dia juga sepakat jika pemerintah saat ini tetap memberlakukan BDR. Dengan begitu, potensi penyebaran virus korona di sekolah yang dikhawatirkan selama ini, tak sampai terjadi. Apalagi, di usia yang masih belia, anak-anak tentu belum bisa menerapkan protokol kesehatan dengan baik.

“Kalau memang dalam kondisi seperti ini ya kami ikuti aturan pemerintah saja. Kekhawatiran saya sebagai orangtua, karena anak kan belum bisa menjaga protokol kesehatan,” ungkapnya.

Apabila sedang belajar di kelas, kata Sofyan, anak-anak memang masih dalam pengawasan guru. Namun yang dikhawatirkan ketika waktu istirahat. Terutama ketika anak-anak sedang bermain, tidak ada yang bisa menjamin mereka tetap bisa menerapkan protokol kesehatan.

“Kalau di dalam kelas masih bisa diawasi guru tapi ketika istirahat kan anak asyik main,” bebernya.

Dengan diberlakukannya BDR, kata Sofyan, dia sebagai orangtua memiliki tantangan tersendiri. Yakni harus meluangkan waktu lebih banyak untuk buah hati. Tidak hanya itu, dia dan istrinya juga bergantian mendampingi anaknya ketika belajar. Senyampang itu pula, Sofyan wajib menguasai materi pelajaran yang sedang diterima anaknya.

“Saya ya berusaha sebaik mungkin agar bisa mendampingi, nyinauni anak sendiri. Jadi harus mengikuti materi yang sedang dipelajari anak. Memang harus meluangkan waktu lebih, kita harus siap menjadi guru di rumah, tapi ndak masalah,” jelasnya.

Selama BDR pula, uang saku untuk anak yang biasanya bersekolah tiap hari jauh berkurang. Tetapi, yang namanya pengeluaran tetap ada saja. Meski tidak lagi memberi uang saku untuk jajan, para orangtua kini harus mengalihkan pengeluaran mereka untuk kebutuhan internet.

Sebab, aktivitas BDR setiap harinya membutuhkan koneksi internet. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pengeluaran setiap orangtua berbeda-beda. Sofyan misalnya, memberikan jatah kuota internet bagi anaknya senilai Rp 100 ribu selama sebulan.

Sedangkan untuk pengeluaran lain yang umum dilakukan ketika tahun ajaran baru, memang tak diperlukan. Misalnya saja membeli seragam, sepatu atau tas baru. Selama ini, Sofyan memang mengajarkan anaknya untuk bisa menentukan prioritas pada setiap kebutuhannya.

“Kalau Seperti seragam, sepatu, dan tas itu ya melihat kondisinya. Tidak harus selalu ganti baru tiap tahun, jika memang sudah ndak layak ya dibelikan. Saya beri pemahaman seperti ini kepada anak sejak kecil,” ungkapnya.

Sementara, Marwan mengakui jika kebutuhan internet menjadi salah satu prioritas selama BDR. Sebelumnya, Marwan memang enggan memasang wifi di rumahnya. Sebab ia khawatir, hal itu justru membuat anak-anaknya ketergantungan bermain internet. Beberapa bulan pertama diberlakukannya BDR, kebutuhan internet justru membengkak.

“Karena ada belajar daring, istri saya yang dulunya beli paket data sebulan sekali sekarang sampai tiga kali. Jadi tiap bulan pengeluaran untuk internet sekitar Rp 240. Saya pikir, pengeluarannya sama saja dengan bayar wifi, akhirnya saya pasang wifi di rumah, Rp 265 ribu per bulan bisa dipakai satu rumah,” ungkapnya. (tom/fun)

- Advertisement -
- Advertisement -

MOST READ

Siswi SDN di Kraksaan Lolos dari Penculikan, Ini Ciri-Ciri Pelaku

KRAKSAAN, Radar Bromo - Niat Cld, 13, berangkat sekolah, Rabu (12/2) pagi berubah menjadi kisah menegangkan. Siswi SDN Kandangjati Kulon 1, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo,...

Mau Ke Tretes, Muda-mudi Asal Gempol Tertabrak Truk Tangki di Candiwates, Penumpangnya Tewas

PRIGEN – Nasib sial dialami pasangan muda-mudi ini. Minggu siang (20/1) keduanya terlibat kecelakaan saat hendak menuju Tretes, Akibatnya, satu orang tewas dan satu...

Siswa MI di Pandaan Tewas Gantung Diri, Diduga usai Smartphonenya Disembunyikan Orang Tua

PANDAAN, Radar Bromo – Tragis nian cara AA, 11, mengakhiri hidupnya. Pelajar di Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan ini, ditemukan tewas, Minggu (17/11) pagi. Dia...

Geger Mayat Wanita di Pantai Pasir Panjang-Lekok, Kondisinya Terikat Tali dan Dikaitkan Batu

LEKOK, Radar Bromo - Temuan mayat dengan kondisi terikat, kembali menggegerkan warga. Rabu (18/9) pagi, mayat perempuan tanpa identitas ditemukan mengapung di Pantai Pasir...

BERITA TERBARU

Kembang Kempis Kerajinan Perak di Gajahbendo, Kecamatan Beji

Kerajinan perak sempat menjadi primadona di Desa Gajahbendo, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. Bahkan, puluhan warga setempat menggantungkan hidupnya dari industri perak. Namun, kondisinya saat ini berubah.

Bawaslu Limpahkan Laporan Skor Debat ke Polres

Bawaslu Kota Pasuruan, menyatakan laporan dugaan pelanggaran pilkada terkait adanya skor debat kedua Pilwali Pasuruan 2020, memenuhi syarat formil dan materil.

Curanmor Marak, Polresta Probolinggo Evaluasi Pelayanan

Dalam bulan ini, tercatat telah terjadi lima kali curanmor dan pelakunya belum tertangkap.

Pakai Huruf Pegon, Kiai Nawawi Tulis Maklumat Dukung Gus Ipul

Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri K.H. Nawawi Abdul Djalil mengeluarkan maklumat terkait Pilwali Pasuruan 2020.

Pendaftar Anugerah Kampung Hebat Membeludak

Antusiasme Rukun Tetangga (RT) di Kota Pasuruan, mengikuti Anugerah Kampung Hebat Tahun 2020, sangat terasa.