alexametrics
30.4 C
Probolinggo
Sunday, 26 June 2022

Begini Menjaga Kualitas Puasa selama Ramadan

“Jika kamu berpuasa, maka hendaklah berpuasa juga pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari kedustaan dan dosa. Dan jauhilah menyakiti pembantu, jadikanlah hari berpuasamu penuh ketundukan dan ketenangan, dan janganlah kamu jadikan hari fitri dan hari puasamu sama saja.” (Umar bin Khattab)

Dengan makin banyaknya kemaksiatan, bagaimana caranya agar mampu menjaga puasa? Bagaimana menjaga kualitas puasa di tengah maraknya kemaksiatan yang tak dapat dihindari?

———————

DALAM bab puasa, sebaiknya terlebih dahulu mengetahui syarat sahnya berpuasa. Ini masuk wilayah hukum fiqh. Ada juga yang disebut syarat diterimanya puasa. Ini masuk dalam wilayah tasawuf.

Maka apa yang biasa dikatakan sebagian orang,”Menggunjing, berdusta, menyakiti orang lain, itu membatalkan puasa.” Itu maksudnya bukan batal secara fiqh. Tapi, batal secara tasawuf. Artinya, pahala puasanya menjadi tidak ada. Meski secara fiqh kewajibannya berpuasa telah gugur.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW. “Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.”

Banyaknya kemaksiatan yang terjadi di sekitar kita justru menjadi tantangan tersendiri bagi orang-orang yang berpuasa. Mata, telinga, dan lidah merupakan pintu-pintu yang berpotensi besar untuk melakukan dosa yang membuat kualitas puasa seseorang menjadi buruk.

Karena itu, untuk menjaga kualitas puasa, jagalah pandangan, pendengaran, dan omongan dari hal-hal yang dilarang agama. Seperti menggunjing orang dan mendengarkannya.

Untuk menghindari kemaksiatan-kemaksiatan, berdiam diri di rumah bisa menjadi solusi. Hal itu jika tidak ada kepentingan. Namun, bila memang harus keluar rumah dan tak sengaja bermaksiat, solusinya bisa dengan memperbanyak istighfar.

Bagaimana pun hebatnya, kita tidak akan mampu mengendalikan perbuatan orang lain dalam hal ketaatan maupun kemaksiatan. Kewajiban untuk sebisa mungkin menghindari hal-hal terlarang itu, kembali kepada diri masing-masing.

Dosa sebesar apapun yang dilakukan orang lain, tidak akan membahayakan kita. Tetapi, dosa sekecil debu pun yang kita lakukan, itulah yang justru akan membahayakan kita. Wallahu A’lam. (*)


*) Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong. Wakil Sekretaris Komisi Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat MUI Jawa Timur. Alumnus Rushaifah, Makkah, asuhan Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawy Al Maliki.


Anda mempunyai pertanyaan seputar Ramadan dan puasa? Silahkan kirim ke WA 08889900080

“Jika kamu berpuasa, maka hendaklah berpuasa juga pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari kedustaan dan dosa. Dan jauhilah menyakiti pembantu, jadikanlah hari berpuasamu penuh ketundukan dan ketenangan, dan janganlah kamu jadikan hari fitri dan hari puasamu sama saja.” (Umar bin Khattab)

Dengan makin banyaknya kemaksiatan, bagaimana caranya agar mampu menjaga puasa? Bagaimana menjaga kualitas puasa di tengah maraknya kemaksiatan yang tak dapat dihindari?

———————

DALAM bab puasa, sebaiknya terlebih dahulu mengetahui syarat sahnya berpuasa. Ini masuk wilayah hukum fiqh. Ada juga yang disebut syarat diterimanya puasa. Ini masuk dalam wilayah tasawuf.

Maka apa yang biasa dikatakan sebagian orang,”Menggunjing, berdusta, menyakiti orang lain, itu membatalkan puasa.” Itu maksudnya bukan batal secara fiqh. Tapi, batal secara tasawuf. Artinya, pahala puasanya menjadi tidak ada. Meski secara fiqh kewajibannya berpuasa telah gugur.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW. “Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.”

Banyaknya kemaksiatan yang terjadi di sekitar kita justru menjadi tantangan tersendiri bagi orang-orang yang berpuasa. Mata, telinga, dan lidah merupakan pintu-pintu yang berpotensi besar untuk melakukan dosa yang membuat kualitas puasa seseorang menjadi buruk.

Karena itu, untuk menjaga kualitas puasa, jagalah pandangan, pendengaran, dan omongan dari hal-hal yang dilarang agama. Seperti menggunjing orang dan mendengarkannya.

Untuk menghindari kemaksiatan-kemaksiatan, berdiam diri di rumah bisa menjadi solusi. Hal itu jika tidak ada kepentingan. Namun, bila memang harus keluar rumah dan tak sengaja bermaksiat, solusinya bisa dengan memperbanyak istighfar.

Bagaimana pun hebatnya, kita tidak akan mampu mengendalikan perbuatan orang lain dalam hal ketaatan maupun kemaksiatan. Kewajiban untuk sebisa mungkin menghindari hal-hal terlarang itu, kembali kepada diri masing-masing.

Dosa sebesar apapun yang dilakukan orang lain, tidak akan membahayakan kita. Tetapi, dosa sekecil debu pun yang kita lakukan, itulah yang justru akan membahayakan kita. Wallahu A’lam. (*)


*) Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong. Wakil Sekretaris Komisi Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat MUI Jawa Timur. Alumnus Rushaifah, Makkah, asuhan Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawy Al Maliki.


Anda mempunyai pertanyaan seputar Ramadan dan puasa? Silahkan kirim ke WA 08889900080

MOST READ

BERITA TERBARU

/