alexametrics
31C
Probolinggo
Saturday, 23 January 2021

Ada Insiden Jenazah Pasien Covid-19 Ditolak, Ini Pesan MUI Kab Probolinggo

KRAKSAAN, Radar Bromo – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo, menyikapi adanya fenomena penolakan jenazah yang terinfeksi virus korona. MUI meminta agar masyarakat tak berpandangan negatif soal jenazah yang pernah terinfeksi Covid-19.

Yasin, Sekretaris MUI Kabupaten Probolinggo mengatakan, warga di manapun berada, terutama di Kabupaten Probolinggo, untuk tidak terlalu berpandangan negatif terhadap janzah yang meninggal akibat korona. Menurutnya, masyarakat diharapkan membantu meningkatkan kepatuhan. Yaitu baik pada pemerintah maupun nilai-nilai agama.

“Edukasi masyarakat di 24 Kecamatan di Kabupaten Probolinggo, memang tidak mudah, tapi harus tetap diupayakan. Termasuk stigma pada pasien positif Covid-19, perlu diluruskan. Juga fenomena penolakan jenazah terinfeksi Covid-19 tersebut,” katanya.

Pasien positif korona merupakan ujian. Para pasien itu bukan mereka yang milih jadi korban. Apalagi banyak dari mereka yang juga bisa sembuh. Tidak semestinya dipandang negatif, karena mereka dalam ujian.

“Jadi pasien Covid-19 itu bukan aib, sebagaimana terinfeksi AIDS. Semua juga bisa kena, termasuk yang men-stigma. Karena itu, masyarakat harus mensupport moral agar sabar dan berobat, serta ikuti protokol kesehatan sambil banyak berdoa. Semoga Allah sembuhkan,” tandasnya.

Ia sendiri prihatin karena banyak insiden penolakan jenazah para korban. Menurutnya, hal itu tidak dibenarkan sama sekali.

“Saya prihatin adanya foto yang beredar, dengan tulisan tidak bertanggungjawab di medsos. Termasuk penolakan jenazah tidak dibenarkan baik MUI, NU maupun Muhammadiyah, menyayangkan jika itu terjadi,” sambungnya.

Harapannya, di Kabupaten Probolinggo tidak ada kejadian seperti itu. Yaitu menolak pasien apalagi petugas kesehatan yang merawat pasien korona, namun ikut terinfeksi dan meninggal.

“Menyedihkan kalau pejuangnya ditolak masyarakat. Saya yakin masyarakat Kabupaten Probolinggo, masih punya nilai akhlaq dan kemanusian. Sehingga tidak melakukannya. Karena pemulasaran jenazah Covid-19 sudah diproses sesuai medis (protokol kesehatan). Secara syar’i para tenaga medisnya sudah diberi pembekalan oleh Komisi Fatwa MUI,” terang Yasin. (sid/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU